Tuesday, July 16, 2013

Love is all arround

Malam itu sekitar pukul 21.00 suasana cafe sudah begitu rame, dikarenakan ada grup yang semuanya berasal dari Australia yang berjumlah sekitar 25 orang yang rata-rata anggota keluarga beserta anak-anaknya. Ada satu keluarga yang beranggotakan bapak, ibu dan kedua anak perempuannya yang kebetulan posisi duduknya menghadap langsung ke panggung.

Setelah beberapa lagu yang aku tampilkan malam itu, saatnya aku bersama grupku break sesaat. Di kesempatan break yang hanya 20 menit, aku sempatkan menyapa ke rombongan bule dari Australia itu dengan menyapa semuanya, "Hallo.. everybody.. How is Your Dinner?" kataku sebagai pembuka basa-basiku malam itu, sambil memperkenalkan diriku "My name Is Adietya," kataku kemudian.
Serempak mereka menyahut, "Dinner was good, and we enjoyed the live music too.." kata mereka.

Salah satu dari mereka, seorang anak perempuan dari tempat duduk yang di sebelahnya seorang bapak dan ibu serta saudara perempuannya menyahut "You have nice voice..," katanya.
Yang aku tahu namanya Hillary, setelah sempat berkenalan dengan kelompok mereka, termasuk dengan kedua orang tuanya dan saudara perempuannya. Lantas aku menjawab, "Thanks.." singkatku. Dari perbincanganku yang hanya beberapa menit dengan Hillary, dia mengatakan kalau umurnya 18 tahun, dan adiknya masih 16 tahun.

Hillary ternyata bukan tipe pemalu yang mana hal ini sangat menguntungkan diriku yang sudah menjadi kebiasaanku kalau ketemu cewek, aku selalu merasa malu untuk memulai percakapan, apalagi kalau ceweknya cakep, bodynya tinggi melebihi aku duhh..aku taksir tinginya Hillary sekitar 173cm yang berarti berbeda 4 centi dengan ku yang bertinggi 169cm. Dengan postur yang jangkung dan rambut dibawah bahu sedikit dan ukuran dadanya yang 36b menjadikan Hillary sangat menawan ditunjang dengan gaun malam hitam yang berbelahan rendah dibagian depannya, membuat aku beberapa kali menelan ludah. Kulit tubuhnya mulus, nggak seperti kebanyakan bule yang kulit tubuhnya rata-rata ada bintik-bintik coklatnya, seperti kena kanker kulit.

Dalam kesempatan terkahir malam itu, aku sempat berbicara di depan microphone, "Well.. ladies and gentleman.. this is gonna be the last song from us and I would like to dedicate this song for Hillary.." yang langsung mendapat respon dari Hillary dengan memberikan senyum manis kepadaku. Mengalunlah lagu, "Love is All Arround" nya wet wet wet. Dengan penuh penghayatan aku menyanyikan lagu tersebut sampai lirik terkahir yang isinya, "so if you really love me.. love me come on and let it show.." sambil aku memandang ke arah Hillary yang juga tersenyum kepadaku.

Seusai pertunjukkan malam itu, dan bercengkerama sebentar dengan teman-temanku, kemudian aku melangkahkan kakiku menuju meja rombongan itu yang mana mereka masih melanjutkan minuman terakhir mereka sebelum mereka kembali ke hotel. Aku juga sempat ditawarin beberapa gelas minuman oleh orang tua Hillary yang malam itu mereka hendak pulang terlebih dahulu bersama adiknya juga. Aku sempat berbincang sesaat dengan orang tua Hillary dan mereka percaya kalau pulangnya nanti aku yang mengantar Hillary yang tinggal di salah satu Hotel berbintang di daerah itu. Gelas terakhir sudah aku minum demikian juga Hillary yang ternyata malam itu juga minum beberapa gelas, tapi tidak membuatnya mabuk.

Dalam perjalanan pulang ke hotelnya, aku beranikan diri untuk menggandeng tangan hillary, yang ternyata dia tidak menolak, bahkan memeluk pinggangku dengan mesra. Sesampainya di hotel, Hillary mengajakku ke kolam renang yang ada di hotel tersebut, terlebih malam itu udaranya sangat panas, apalagi kita sudah minum beberapa gelas alkohol. Dengan senang hati aku menerima tawaran berenang hillary, yang sudah terlebih dahulu membuka gaun malamnya yang berwarna hitam.
Yang ternyata dia mengenakan stelan bra dan CD warna hitam juga, membuat pemandangan sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Bra 36b dan CD warna hitamnya tampak sangat sexy saat dia menceburkan dirinya kedalam air terlebih lagi malam itu bulan purnama yang cahanya menyinari sekitar kolam renang, menjadikan suasananya sangat romantis.

Aku hanya termanggu aja di atas kursi yang ada di pinggir kolam renang, sambil memegang gitar yang tak lama mengalunlah lagu "Whiter shade of pale" tembang lawasnya "procol harum". Hillary yang sudah berenang ke tengah kolam, berputar kembali ke arahku ketika mendengar aku menyanyikan lagu itu, sambil mengatakan, "I love that song.. specially on the reffrain" kata Hillary melanjutkan. Aku hanya tersenyum menyaksikan dia berenang mendekat. Tak lama setelah selesai aku menyanyikan lagi itu, Hillary memanggilku untuk terjun ke air. Tanpa membuang waktu lagi aku buka bajuku dan celana blue jeansku sekaligus. Dengan CD warna biru, warna favoriteku aku berjalan kearah tangga kolam renang dan menceburkan diri ke air secara perlahan. Aku berenang ke arah Hillary yang sudah beberapa kali bolak-balik berenang dari pinggir ketengah lagi, aku berenang membelakangi Hillary, yang ternyata tiba-tiba dia sudah memelukku dari arah belakang mendorongku kepinggiran kolam. Di pingir kolam, masih dalam keadaan berpelukan yang posisinya sudah saling berhadapan, Hilary kemudian mengatakan,"I like you Adietya.." yang aku sambut dengan senyum sambil mengatakan, "I like you too, when i saw you in cafe at the first time ".

Dengan inisiatif hillary yang memeluku erat, aku jadi punya keberanian untuk mencium bibirya yang ranum.
"Cups.. cups.. cups.." bunyi bibir kami beradu.
Masih di pinggir kolam kemudian aku menarik tubuh Hillary lebih erat dan dengan lembut aku mendaratkan kecupan ke belahan dadanya yang mulus, yang membuat Hillary melenguh pelan. "Ohh..," desahnya.
Aku melanjutkan cumbuanku dengan tangan kananku membuka tali Bra 36b nya dari belakang dan tangan kiriku mengelus pahanya di dalam air. Seketika terpampanglah pemandangan yang membuat nafsuku semakin tinggi, yang aku lanjutkan dengan mengecup puting payudaranya yang sebelah kiri dengan lembut penuh perasaan, yang ternyata payudara Hillary masih kenyal dan padat. Tubuh Hillary seketika menggelinjang pelan sambil mendesah,
"Oh Diet.. I love It"

Beruntung sekali malam itu sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, yang mana hanya 2 orang security hotel sedang melakukan patroli di kejauhan. Kemudian aku mengajak hillary untuk duduk di tangga kolam renang, dan aku masih di dalam air, sambil menunduk aku menurunkan CD Hillary yang berwarna hitam perlahan.
"Sret.." terlepaslah CD hillary yang kemudian aku letakan di pinggir kolam. Dengan pelan aku memulai mencumbu payudara Hillary sebelah kiri sementara tangan kiriku bermain diselangkangannya yang ternyata berbulu sangat lebat itu, warnanya coklat agak kepirang-pirangan berbeda dengan rambut atasnya yang pirang.

Untuk kesekian kalinya lidahku beralih dari payudara yang kiri ke yang kanan, yang kemudian aku lanjutkan ke daerah perutnya yang aku lanjutkan menjilati lubang pusarnya.
"Oh.. oh.. yes.." desahnya kemudian.
Setelah puas bermain di sekitar perutnya, kemudian aku lanjutkan lidahku menelusuri pangkal pahanya di daerah vagina hillary yang berbulu sangat lebat, seketika lidahku menyentuh pinggiran vagina Hillary dan cukup lembut aku mainkan ujung lidahku disana.
"Slurp.. slurp.. slurp.." lidahku menjlati setiap jengkal kulit vagina Hillary.
"Oh.. yes.. My god.. I love it," erang Hillary.
Mendengar desahan yang menggairahkan itu, membuat penisku yang sudah kedingina di dalam air menjadi tegang perlahan-lahan, yang sampai akhirnya cukup keras.

Melihat reaksi hillary yang sudah terangsang hebat, dengan sekali tarikan lembut, tubuh Hillary masuk ke kolam, sementara tangannya masih berpegangan di tangga kolam. Kuangkat kaki kiri Hillary bertumpu dengan tanganku yang berpegangan dengan tangga kolam, lantas dengan pelan aku pegang penisku yang sudah mengeras dan kuarahkan perlahan ke lobang vagina Hillary yang nampak wajahnya sudah sangat bernafsu sekali.

Seketika air di sekitar tangga dimana aku memompa vagina Hillary dengan perlahan ikut bergoyang.
"Cpok.. cpok.. cpokk.." bunyi riak air kolam yang bersamaan dengan mendesahnya Hillary.
"Oh.. Diet.. yes.. deep.. deeper.. fuck me," teriak hillary sedikit histeris. Persenggamaan itu berlangsung sekitar 1 jam, yang sebelumnya sudah 2 kali Hillary mendesah keras,
"Ohh.. Diet.. I am coming honey.. yes.." saat kali pertama Hillary mendapatkan orgasmenya.
Hillary hanya memandangku sesaat, ketika untuk yang kedua kali dia orgasme dan berkata,
"Now your turn honey..," sahutnya.

Dengan berbalik masih di dalam air, Hillary menunggingkan pantatnya yang bahenol, sambil mengatkan, "I think You like this style honey.." sahutnya kemudian.
Dengan gaya doggy, yang aku awali dengan berpegangan pada pinggir tangga kolam, aku majukan penisku yang dengan lembut, Hillary memegang dan menuntunnya ke belahan vaginanya. Dengan pelan aku majukan pantatku yang masih di dalam air, maka amblaslah semua penisku seketika
"Oh.. Diet.. yes.. honey..," desahnya.
Kemudian dengan berkali-kali aku memompa vagina Hillary yang masih didalam air yang menimbulkan riak-riak kecil di kolam renang.
"Cpokk.. cpokk.. cpokk," bunyi pertemuan tubuh kami. Selang beberapa waktu pesenggamaan kami, saat nya bagi aku untuk menuntaskan puncak kenikmatan ini. Dengan cepat aku memompa pantatku menghujam vagina Hillary.
"Slep.. bles.. bless.. cpokk.. cpokk.." bercampur bunyi irama persenggamaan kami yang aku akhiri dengan teriakan panjang.
"Oh.. babe.. I got it.. yes.."
"Crot.." menyemburlah spermaku yang sebelumnya sudah aku cabut, sementara Hillary membalikan badan dan kuarahkan penisku ke wajahnya dan kemudian aku semprotkan ke seluruh wajah dan bibirnya yang kemudian dengan cekatan Hillary menangkap penisku dengan bibirnya dan mengulumnya dengan lahap, serta menjilati sisa sperma yang ada di ujung penisku.

*****

Demikianlah kisah cintaku dengan seorang bule dari Australia yang, setelah percumbuan itu dia kembali ke negaranya dengan kenangan manis yang tak pernah dia lupakan.

Tamat

Model kembang desaku

Kisah ini benar adanya, hanya saja untuk menjaga privacy dengan model-model yang pernah menjadi 'korban' petualanganku, maka dengan menyesal namanya aku samarkan, kali ini aku akan mengisahkan petualanganku dengan model yang wajahnya mirip Yessy Gusman. Aku bertemu dengan model cantik yang memiliki nama Indah ini ketika aku meliput pemilihan model di salah satu hotel bintang 5. Sebagai fotografer yang sudah dikenal di kalangan artis papan atas, membuatku selalu mendapat sambutan setiap aku muncul di berbagai event. Ini mungkin yang membuat model baru seperti Indah, ikut 'hanyut' akan kehadiranku.

"Hai, namaku Indah. Kenalan dong dengan Mas!", sapanya dengan senyum manisnya yang menggemaskan.
"Oh., Boleh!", jawabku kaget.
"Mas, mau dong di foto untuk media Mas!", serang Indah.
"Lho, kok tahu kalau aku fotografer?", kataku memancing.
"Lho siapa yang nggak kenal fotografer sekaliber Mas Boy! Di kalangan model sensual, nama Mas Boy kan sangat terkenal", kata Indah merayu.
"OK! Aku jadi nggak enak hati nich, dipuji cewek secantik kamu. Kalau memang kamu kepingin tampil di mediaku, tahu dong syarat utamanya. Harus tampil sensual, kalau perlu tanpa busana he.. he.. he..", kataku dengan nada memancing.
"Tapi dijamin jadi gadis sampul kan? Kalau dijamin aku mau, yang penting yang miskin (maksudnya tanpa busana) tolong untuk Mas saja, jangan dimuat di media massa dan internet", jawab Indah.

Setelah sepakat, akhirnya aku janjian pemotretan dengan Indah di salah satu hotel di bilangan jalan Pramuka, Jakarta Timur. Pada hari Rabu yang telah disepakati, Indah datang bersama tiga rekannya yang tidak kalah cantik. Namanya Maya dan Ayu (bukan nama sebenarnya). Pemotretan dimulai di kolam renang tentunya, sambil ngetes kebenaran omongan Indah. Benar saja, Indah langsung mengenakan busana renang yang indah dengan warna cerah. Membuat Indah kelihatan semakin cantik saja.

"Gimana Mas, okey nggak?", tanya Indah sekeluar dari kamar ganti.
"Badanmu benar-benar oke. Aku nggak sangka, cewek secantik kamu punya nyali sebesar kamu!", pujiku.
"Demi karier dan masa depanku, resiko apapun aku hadapi Mas!", tantang model yang memiliki ukuran bra 36B ini.
"Loh, kok nekad amat. Emang keluarga dan pacarmu mendukung?", aku mencoba mengorek lebih dalam.
"Apapun yang aku tempuh, mereka mendukung. Karena mereka memang membutuhkan uluran tanganku. Sehingga mereka tidak bisa protes atas perbuatanku", jawabnya dengan wajah menunduk.
"Indah, aku bisa bantu kamu. Tapi resikonya sangat berat, karena kamu mesti korban harga diri dan perasaan", kataku.
"Nggak apa-apa Mas, yang penting Mas bisa mengorbitkanku menjadi model dan pemain sinetron terkenal", jawab Indah sungguh-sungguh.
"Oke, sekarang kita mulai sesi pemotretan untuk sampul mediaku dulu di kolam renang ini. Setelah itu, kita sesi pemotretan di room, gimana?", kataku.
"Oke!"

Lalu pemotretan berlangsung sampai pukul 05.30 dan menghabiskan 5 rol film isi 36, dengan berbagai gaya yang sangat menantang. Matahari mulai menghilang dari peredarannya, pemotretan di kolam renang aku akhiri dan dilanjutkan di kamar. Setelah beristirahat dan makan malam, Indah menawariku untuk sesi pemotretan lagi.

"Mas, foto lagi yuk!"
"Sip!"
"Pakai baju apa nich?", tanya Indah.
"Ngapain pakai baju, tadi kan udah lima kostum. Bosan ah..", ujarku menggoda.

Godaanku disambut serius oleh Indah. Indah dengan secepat kilat melucuti busana G string yang dari tadi menempel. Aku terperangah melihat kemolekan tubuh Indah yang memang indah, hampir saja kameraku terjatuh hanya karena memelototi tubuh putih mulus di hadapanku.

"Loh, kok bengong, ayo foto lagi apa nggak!", ujar Indah membuyarkan imajinasiku.
"Oo, ya.. ya!", jawabku tergagap.

Pemotretan di room makin seru saja, karena Indah adalah tipe model yang menuruti semua perintahku. Sehingga tanpa terasa 3 rol telah berlalu. Di saat aku mengarahkan gaya tidur Indah, secara tidak sengaja tangan Indah menyentuh 'senjata pamungkas'ku yang dari tadi telah mengacung seperti anggota DPR yang melakukan interupsi.

"Loh, apaan nih Mas! Kok keras amat?", tanya Indah sambil memegang rudalku yang kencang sekali. Akupun blingsatan mendapat reaksi sensitif dari Indah.
"Iya nich. Aku juga nggak konsen motretnya, habisnya tubuh kamu indah banget. Baru kali ini aku melihat tubuh bagus seperti ini", rayuku.
"Ah, yang bener! Aku yakin Mas sering melihat tubuh lebih indah daripada tubuhku, kalau Mas Bilang tubuhku Indah, aku yakin Mas menghinaku", katanya merajuk.
"Aku 'kan mesti motret dulu", kataku sambil menelan ludah.
"Buktinya Mas dari tadi, diem aja. Nyentuh tubuhku aja nggak, kalau memang tubuhku Indah, dari tadi Mas kan udah menyerangku", kata Indah nakal.

Tanpa dikomando lagi, aku menyerang Indah dengan ganas. Indah pun memberikan perlawanan lebih ganas. Indah langsung menncopoti celana dan bajuku.

"Mas, kalau memang kepingin ngomong aja. Jangan ditahan, jadinya nggak baik Mas. Kayak gini, laharnya meleleh di celana, 'kan cayang", kata Indah sambil melahap senjataku dengan lahapnya.

Karena aku sudah horny dari siang, maka lahar panasku dengan cepat muncrat dengan kencangnya. Tanpa bisa menghindar, laharku pun ditelan Indah.

"Aduuh, Mas! Kok aku nelan lahar Mas sih, tapi asin-asin enak gitu", katanya manja.

Kemudian aku lunglai tak berdaya. Dengan sabar Indah menyeka seluruh daerah 'senjata pamungkas'ku. Seusai menyeka, Indah mengocok-ngocok senjataku dengan nafsunya.

"Horee.. 'Mas Boy kecil' bangun..", sambut Indah sambil menjilati ujung senjataku.
"Ohh.. Kamu kok pinter say..", ujarku dengan suara parau karena gairah seksku membara lagi.

Sedotan Indah semakin mantap dan lahap, imajinasiku kian melayang. Tanganku kemudian menyambar gunung kembar yang dari tadi belum sempat kuremas-remas. Begitu gunung kembarnya kuremas, Indah langsung terpancing.

"Mas, ciumi gunungku dong", pinta Indah manja.

Kemudian aku melahap dua gunung yang sangat ranum dan menantangku untuk meremas-remasnya.

"Aakk, Mas! Aku nggak tahan nich"
"Say, posisi 69 ya!", pintaku.

Aku langsung menindih tubuh Indah sehingga membentuk 69, aku tanpa diminta langsung menciumi gua nikmat yang akan membawaku ke sorga itu.

"Mas, kok uennak gini sich. Aku nggak tahan nich, mau.. kel.. aahh.. nah.. kan keluar", ujar Indah.

Kemudian aku membalik badan, sehingga kami saling berhadapan. Indah langsung tersenyum dan langsung menyambar bibirku, kami pun kemudian berciuman dengan hangat.

"Mas, aku kepengin 'disuntik' sama senjata Mas, kayak apa sih rasanya", kata Indah menggodaku.

Senjataku, kuarahkan ke gua yang dari tadi menunggu disodok, biar laharku keluar kian deras.

"Akk..!!" teriak Indah sambil mengigigit bibirnya.

Sodokanku pelan-pelan kutekan semakin dalam hingga membuat mulutnya menganga dan memainkan lidahnya. Kemudian aku menyambar lidah Indah, dan goyangan demi goyangan terus kutingkatkan.

"Mas, genjot yang keras lagi dong, ak.. ku mau kel.. uar lagi".

Genjotan aku tingkatkan hingga membuat Indah sampai ke puncak kenikmatan.

"Aduuh.. Akk, Mas! Aku keluar lagi..", Indah memang orgasme untuk kedua kalinya, sementara senjataku masing mengacung.
"Lho, Mas belum keluar ya?"
"Emang kamu nggak merasakannya Say?"
"Habisnya, aku enak banget. Jadi nggak mikirin Mas Boy"

Tanpa diminta, Indah langsung naik dengan posisi duduk dan mengarahkan lubang 'gua'nya ke 'senjata pamungkas'ku. Goyangan Indah kian liar, ketika ia berada di atas perutku. Ini membuat rasa nikmatku kian memuncak dan..

"Ya.. Yaa.. Keluar lagi deh" kata Indah.

Mendapat reaksi orgasme Indah, membuatku terpancing dan membalikan tubuh Indah sehingga posisinya di bawah. Dengan cepat aku memasukkan senjataku yang sudah memuntahkan lahar.

"Mas terus, terus.. Terus Mas.. Yang keras.."

Mendapat support dari Indah membuat sodokan kian kutingkatkan.

"Say, ak.. ku keluar", kataku dengan nada tidak karuan.
"Aku juga Mas.. Bareng ya.."

Selesai genjot-genjotan, aku dan Indah tidur terlelap hingga jam 6 pagi. Indah tersenyum melihatku bangun.

"Pagi Mas.."
"Pagi, kok kamu bangun pagi amat?"
"Iya, kebiasaanku bangun subuh", jawab Indah sambil menyedot rokok putih dalam-dalam.
"Mas, boleh nggak aku mohon satu permintaan, sebelum kita pisah hari ini?", kata Indah sambil tersenyum nakal.
"Boleh! Paling kamu minta ongkos pulang 'kan?", Kataku enteng.
"Buk.. Bukan itu!"
"Lalu minta apa, kalau bukan minta uang?"
"Minta 'rudal'mu lagi, puasin aku lagi donk.."
"Gimana yach..", godaku.
"Gimana apanya?" kata Indah lagi-lagi dengan nada manja.
"Maksudku, gimana memulainya ha.. ha.. ha..", kataku sambil melirik.

Indah langsung mengejarku dan kami pun kejar-kejaran seperti anak kecil rebutan mainan. Aku melompat ke tempat tidur dan Indah terus mengejarku.

"Mas nakal deh"

Kamipun kemudian berpagutan dan berciuman dengan saling serang. Tanganku langsung meremas-remas gunung kembarnya. Hal itu membuat Indah semakin ketagihan dan tangan Indah memegang tangan kananku dan menuntunnya untuk mengorek 'gua selarong'nya yang sudah kebanjiran lahar. Jari tanganku langsung kuarahkan ke gua tersebut hingga..

"Akk, nikmat Mas. Teruskan Mas, terus ach.. ach aku keluar.. Mas!", 'kicau' Indah.
"Mas, tuntaskan yuk"
"Okelah", kataku.

Senjataku sebenarnya belum keras betul, sehingga aku malas-malasan untuk memasukannya ke 'gua' Indah. Bleezz..

"Mas, aku kepingin kenikmatan ini dari Mas Boy terus. Mau nggak?"
"Siapa nolak" jawabku sambil terus memompa Indah.

Indah menggoyangkan pantatnya dengan lincahnya hingga membuatku tidak tahan..

"Say.. aahh.. aku mau.. keluar.. nich.."
"Aku juga Mas.., aahh.."

Akhirnya kami berdua sampai ke puncak kenikmatan 'pamungkas'. Jam telah menujukan jam 12.00, artinya kami harus check out.

"Mas, kalau tabloid yang memuat fotoku sudah keluar tolong kabarin ya, entar aku kasih hadiah deh", pintanya dengan senyum menawan.

Dan seminggu kemudian foto Indah muncul di tabloidku.

Tamat

Mahasiswa kedokteran

Saya adalah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota medan.sekarang duduk di semester 7..saya tinggal di daerah medan tuntungan.tinggi saya 164 berat 60 kg dan dapat digolongkan gemuk.saya mempunyai tetangga nmaanya dewi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di medan dia mengambil jurusan kedokteran.

sudahlah lupakan siapa saya dan dewi.ini peristiwa terjadi setahun yang lalu begini ceritanya.pada hari sabtu pukul 14;30 saya berdiri didepan rumah saya lalu saya dipanggil oleh dewibang kemarilahkata dewi ada apa wijawabku abang bisa bantu kami kata dewi bantu apa kalau bisa pasti aku bantujawabku setelah itu aku diajak kedalam rumahnya dan didalam rumahnya talah ada dua orang temannya lalu aku diperkenalkannya rini dan rina (samaran).

lalu kami bercerita dan bercanda kemudian aku bertanya kalian mau minta bantu apa nihkataku begini bang kami dapat tugas dari dosen mata kuliah anatomi.tugas ini sangat berat menurut kami ,kami harus mempelajari anatomi lawan jenis kamikata dewi sambil menyodorkan kertas yang berisi dafatar yang akan di periksa.alngkah terkejutnya aku begitu aku baca isi daftar tersebut adapun dafatar tersebut adalah tinggi berat panjang lengan panjang kaki ukuran penis ketika tegang dan mengambil sperma itu semua dilakukan dalam keadaan telanjang.

jadi aku mau kalian jadi kan objeknya ya,maaf ya ini perkerjaan gilakataku tolonglah bangkata dewi di ikuti dengan kawan nya memohon agar aku bisa membantu pekerjaan mereka. pokoknya engggak kataku kami kasih Rp 1 juta kaalu abang maukata dewi berapapun kalian kasih aku enggak maukataku.dalam hati sebenarnya aku mau dan aku terdiam sejenak dan sambil berpikiri ok aku mau tapi dengan syratkataku syaratnya apa bangkata mereka dengan semangat syaratnya ialah kalian memeriksaku satu persatu dan dalam keadaan telanjangkataku ah jangan lah bang,yang lain aja lah syaratnyakata dewi ini mungkin syarat terakhir kalau kalian mau ok kita laksanakan ,kalau enggak ya enggak jadi.syaratnya seperti tadi tapi kalian enggak usah telanjang tapi hanya pakai cd (celana dalam) saja,malu lah aku kalau aku telanjang kalian enggak kataku

kemudian mereka terdiam sejanak dan berpikir dan entah apa yang dipikirkan mereka lalu oklah bang dari pada tugas kami enggak selesai kami mau denngan syarat tersebutkata dewi kemudian setelah selesia negosiasi aku pun mandi kekamar mandinya dan masuk kekamar dengan hanya mengunakan handuk,mereka bertiga masih diluar kamar dan berbincang-bincang entah apa yang mereka bincang kan lalu masuk dewi kekamar dengan membawa peralatan yang diperlukan.lalu dewi melepaskan satu persatu pakaiannya dan hanya cd putih yang melekat di tubuh dewi yang putih dan mulus tersebut.lalu didekatinya aku dan terlihat dengan jelas dua buah bukit kenmbar yang besar(tinggi dewi 165 dan berat 60)dan ditengah tengahnya ada putingg berwarna kecoklatan.

lalu dilakukanlah tugasnya mengukur tubuhku dan yang paling menegangkan ialah ketika mengukur penisku yang menegang kulihat dengan jelas wajah dewi kemerah-merahan ketika memegang penisku.alangkah nikmatnya penis ini ketika dipegang dewi wow serasa melayang.kemudian saatnya pengambilan sperma aku disuruh dewi untuk menelurkan sperma lalu kuusahakan lah melakukan onani didepanya lalu serasa sulit.kemiudian wi payah nih keluarnya tolong dong keluarikataku gimana aku bisa bantukata dewi tolonglah kamu kocok kankataku dengan berat hati lalu dewi melakukan apa yang aku perintahkan.

sudah 3 menit enggak keluar juga itu sperma.lalu aku cari lagi cara yang lain wi kamu harus bantu dengan cara lain nihkataku cara lain gimanakata dewi kamu harus tidur telentang atau telungkup sama ajakataku lalu dewi tidurlah dengan cara telungkup.kemudian tubuh indah itu aku tindih. kontolku tepat disela pantanya yang woow tersebut lalu aku gesek-gesekkan ketengah pantatnya yang masih bercd putih tersebut dan tiba-tiba dewi membalikkan tubuhnya.wow didepan mataku tersaji buah dada yang indah dan badanku telah menimpa tubuhnya kontolku tepat diatas vagiannya yang masih terbalut cd.

lalu kuturunkan badanku sedikit aku enggak mau merusak perawan anak tetangga yang beda agama.jadi kontolku tepat dibawah vaginanya dan dijepit oleh dua paha mulusnya.woow dijepit pahanya aja begitu nikmat gimana lagi kalau otot vaginanya menjepit penisku.bibirku menikmati puting dan buah dadanya yang indah.dewi mengerang kenikmatanahhhh..ahhhh bang.tiba-tiba pusarku terasa basah wehhh ternyata dewi mengalami orgasme.

lalu kulanjutkan aksiku terhadap dewi dan akhinya wi aku mau keluar nih cepet wikataku lalu aku mengangkat tubuhku dari tubuh dewi dan dewi mengambil tabung yang telah steril dan cret.cret..wow aku akhirnya mengalami orgasme dan setelah itu dewi lalu mengenakan pakaianya kemnali dengan cd yang masih basah oleh spermanya sendiri dan dengan jelas terbayang vagina yang tebal tersebut terbaluti oleh cd.mungkin inilah pertama sekali aku melihat vagina wanita dewasa walaupun sedikit samar-samar.

Tamat

Maafkan aku sobat - 2

Saya hanya tercenung mendengar ucapannya. Kemudian sambil tetap berpelukan ia mengatakan bahwa jika ia menjadi istri Irvan, mungkin ia tidak akan pernah merasakan keindahan seperti ini. Seumur hidup ia mencari cowok ideal buatnya dan baru kali ini menemukannya dalam diri saya. Sheila memang baru sekali pacaran yaitu dengan Irvan. Sangatlah menyesal jika apa yang menjadi impiannya harus lepas walaupun sudah berada di depan mata. Mendengar penuturannya, saya hanya berkata bahwa saya juga amat sayang dengannya, tapi kata-kata saya terhenti oleh sebab yang hingga saat ini saya tidak tahu apa, dan dengan lembut saya mencium pipinya.

Sheila tertunduk di pundakku sambil tersenyum dan membalas ciuman itu pada pipi kiriku. Mungkin karena terbawa suasana, Sheila dengan gerak refleksnya langsung mencium bibir saya dan menahannya lama. Ketika dilepaskannya ciuman itu, ia tertunduk malu atas kelakuannya, tapi wajahnya terlihat tersenyum.
"Maaf Nard, mudah-mudahan kamu ngga marah", ujarnya singkat. Saya hanya diam dan baru sadar ketika Sheila menarik tubuh saya dan tubuhnya direbahkan di karpet. Saya merasakan desiran hangat di sekitar kemaluan saya dan menyadari bahwa milik saya itu sudah menegang menekan perut bagian bawah Sheila.

Tanpa pikir panjang, saya mencium bibir Sheila dan dibalas dengan sangat panas olehnya. Sambil terus berciuman, saya melepaskan pelukan dan mulai meraba tubuh Sheila yang putih mulus itu. Tidak ada dalam pikiran saya untuk berbuat lebih. Jemarinya juga tidak tinggal diam mulai menjelajahi dan mengusap-usap punggung saya.

Lama kami bergumul dikarpet ruang tamu itu, berciuman, menciumi leher masing-masing dan menjilatinya. Kurang lebih sekitar 45 menit kami bercumbu sampai akhirnya saya berinisiatif menghentikannya. Dengan nafas tersengal-sengal, Sheila memandangi saya dengan wajah sedikit kesal.
"Kenapa Nard?" tanya Sheila.
"Jangan Sel, nanti keterusan", jawab saya.
Saya duduk di sofa dan sesaat kemudian Sheila duduk di sebelah saya dengan merapatkan tubuh dan menggelendot manja. Kata-kata terima kasih mengalir dari bibir ranum yang baru saja saya kulum itu. Ia merebahkan kepalanya di dada saya dan memeluk saya erat.

Sejak itu, selama sebulan, kami mengulangi perbuatan yang sama setiap Irvan harus ke Jakarta. Jadwal kuliah Dina bisa dengan mudah diketahui Sheila karena mereka sekampus dan setiap hari Sheila dan Dina kebagian jadwal yang berbeda. Sikap kami di depan Irvan juga tidak berubah. Sehari-hari kami berusaha menjaga kewajaran. Semua ini dengan tujuan agar tidak diketahui oleh masing-masing pasangan kami. Di depan saya, Sheila tetap manja dengan Irvan dan saya tetap mesra di depan Dina.

Dan kami mengulang lagi apa yang sudah sering kami lakukan saat Irvan ke Jakarta. Dina sudah pulang saat Sheila datang. Karena saya ingin mandi dahulu, tidak saya ketahui ketika Sheila sudah bertukar pakaian. Yang saya ketahui, ia sudah mengenakan bicycle pant pendek dan kaus oblong putih saat saya selesai mandi. Darah saya mendesir ketika Sheila menghampiri saya. Ia tampak sangat seksi dengan lekuk tubuh yang terbayang di kaosnya.

Langsung ia memeluk saya dan kami mulai lagi bercumbu. Saat itu saya juga hanya bercelana pendek. Desiran hangat mengalir deras di sekitar kemaluan saya ketika saya menindih Sheila. Tangan saya mengusap-usap punggungnya juga tangannya melakukan hal yang sama. lehernya habis saya ciumi dan saya jilati. Desahnya semakin menderu. Entah setan apa yang lewat, saya kali memberanikan diri memasukan tangan saya ke dalam kausnya. Saya raba perutnya yang indah dan perlahan-lahan mulai naik ke arah dada. Tak saya kira sebelumnya, Sheila bukannya melarang malah membimbing tangan saya menuju dadanya. Seumur hidup, baru sekali ini saya merasakan gumpalan kenyal di dada cewek, bahkan milik Dina pun saya tak berani.

Tangan saya terdiam diatas dadanya dan kemudian tangannya diletakan diatas tangan saya dan mulai meremas. Tangan saya jadi ikut meremas dadanya. Wow, saya sungguh baru sekali ini merasakan lembutnya gumpalan kenyal milik cewek. Semakin keras saya remas, Sheila semakin keras mendesah.

Tiba-tiba saya merasakan ada yang meraba kemaluan saya. Saya lihat, jemari Sheila mulai meraba dan juga meremas-remas milik saya yang sudah mengeras itu. Tangannya kemudian mulai menyelusup ke dalam celana saya dan juga menyelusup ke dalam celana dalam yang saya pakai. Seketika aliran darah disekitar kemaluan saya bertambah deras. Tak mau kalah, saya langsung membuka kaitan bra yang dipakai Sheila dan segera kembali meremas buah dadanya (Saya gambarkan sedikit, buah dada Sheila mempunyai ukuran yang besar bagi ukuran cewek indonesia. Mungkin karena perawatan yang baik, buah dadanya masih kencang).

Semakin panas permainan kami ini sampai akhirnya kami membuka seluruh pakaian kami dan saling memberikan senyuman. Tak habis-habisnya saya memandangi tubuh telanjang Sheila dengan sebentuk tubuh yang seksi dan indah. Tidak mungkin cowok tidak terangsang jika melihat tubuh indah seperti yang dimiliki Sheila.

Kali ini giliran Sheila yang menciumi dan menjilati seluruh tubuh saya. Milik saya sudah mengacung tegang dan jilatan berikut ciuman Sheila makin turun ke bawah. Saya rasa saya sudah tidak tahan lagi. Saya langsung bangun dan merebahkan Sheila di ranjang. Sheila malah mendekap saya ketika saya bergerak akan menindihnya. Milik saya yang sudah menegang itu menempel keras di kemaluannya yang berbulu lembut di sekitarnya. Desahnya makin terdengar ketika gesekan terjadi. Nafsu sudah menguasai kita berdua dan semakin mengkungkung kami saat ujung kemaluan saya menyentuh mulut kemaluannya. Kakinya berusaha menahan badan saya agar tidak mendorong tubuhnya lebih dalam. Rintihan kesakitan terdengar saat saya mulai kembali menekan tubuhnya. Saya sama sekali tidak ingin memasukan milik saya ke dalam kemaluannya, bagaimanapun itu adalah hak suaminya kelak.

Tiba-tiba tangannya meraih milik saya dan menggesek-gesekan ujung milik saya itu di mulut kemaluannya. Badan terlonjak-lonjak, sayapun merasakan sensasi yang luar biasa. Kenikmatan yang tidak ada bandingannya. Tubuh saya bergetar menahan nafsu yang semakin memuncak. Tiba-tiba tubuh Sheila menegang dan terlonjak sangat keras ke kasur. Saya dengar desahnya sempat sangat keras dan perlahan mereda.
"Sayangku, aku udah ngga tahan lagi", ujarnya setengah membisikiku.

Kebimbangan segera hinggap di kepalaku. Wajahnya memancarkan kehangatan yang berbeda dan saya menjadi tidak berakal. Pelan-pelan saya dorong tubuh saya dan milik saya perlahan-lahan masuk ke mulut kemaluannya. Wajahnya meringis menahan sakit sambil terus mendorong tubuh bagian bawah saya agar perlahan terus masuk. Mulut kemaluannya terasa sangat sempit. Saya lepas kembali dan perlahan-lahan saya masukan lagi. Begitu berulang-ulang sampai akhirnya saya sudah tidak tahan lagi dan seketika menerobos mulut kemaluannya dengan ganas. Ia terlonjak kaget dan saya lihat airmatanya meleleh tapi wajahnya tersenyum.
"Ohh.., Sayangku..", desahnya sambil memelukku erat. Tubuh saya mulai bergerak naik turun dan saya merasakan desiran hangat di seluruh kemaluan saya. Terasa ada yang memijit-mijit seluruh permukaan milik saya itu. Walaupun sambil menahan sakit, Sheila terlihat sangat menikmati permainan kami tersebut. Permainan yang sama-sama baru kita rasakan sekarang. Tak sampai sepuluh menit, mungkin karena masih sama-sama baru, saya merasakan nikmatnya muncratan cairan hangat dari kemaluan saya di dalam rongga kemaluan Sheila. Kemaluannya seketika menjadi hangat dan dipenuhi oleh cairan kental dari kemaluan saya.

Sheila memeluk saya dengan sangat erat, ia sesegukan menahan tangisnya, bibirnya bergumam menyebutkan bahwa ini adalah yang pertama baginya. Kami berpandang-pandangan dan saya kemudian bertanya apakah ia menyesal?
Kaget saya dibuatnya ketika dengan cepat ia menggeleng dan berkata", Sheila melakukannya dengan orang yang memang menjadi idaman Sheila dari dulu, Sheila tidak menyesal..", tuturnya diiringi senyuman di bibirnya. Mungkin karena gemas, ia mencium bibir saya lagi dan memainkan lidahnya di dalam mulut saya.

Sejak peristiwa "the first time" yang kami alami itu, kami menjadi semakin terobsesi untuk mengulang kejadian itu dan mereguk kenikmatan yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya. Semua tingkah laku kami memang tetap biasa, tidak ada yang berubah. Saya tidak ingin hubungan saya dengan Dina berantakan karena kegiatan Sheila dan saya tercium, terlebih lagi terhadap Irvan, sobat kental saya yang sudah saya anggap sebagai saudara kembar itu. Tetapi semua itu akan segera berubah menjadi nafsu terpendam ketika Irvan dan Dina tidak ada. Kami melakukan lagi dan lagi dan lagi, seperti tidak ada lagi hari esok dengan makin panas dan bernafsu.

Saya dan Sheila tetap melakukan persetubuhan kami ini sampai saat menjelang mereka menikah. Bisakah anda bayangkan?, Tiga hari sebelum menikah, kami masih sempat melakukan persetubuhan itu. Ditengah waktu yang sempit kami melakukannya di dalam kamar kakak Sheila yang memang kosong. Letak kamar tersebut di paviliun rumah Sheila. Itu kami lakukan di tengah-tengah kesibukan orang-orang mempersiapkan rumah untuk upacara perkawinan Irvan dan Sheila.

Selama sebulan setelah pernikahan mereka (Saya dan Dina menikah sebulan lebih dulu dari mereka), saya dan Sheila menghentikan perbuatan biadab tersebut. Sampai suatu hari Irvan menelepon saya dan memberitahu bahwa ia akan tugas ke Eropa selama seminggu sambil menanyakan titipan apa yang saya mau. Saya menjawab sekenanya karena bayangan saya segera lari ke tubuh indah Sheila yang sudah sering saya reguk tersebut. Dan benar saja, sepuluh menit setelah itu, Sheila gantian menelepon saya dan mengajak saya bertemu di sebuah hotel di daerah Jakarta Selatan.

Kami akhirnya melakukan perbuatan laknat itu lagi dari siang hingga sore hari seakan kerinduan selama sebulan terobati dengan tiga kali hubungan badan yang kami lakukan. Itulah perbuatan kami yang pertama setelah Sheila dan Irvan menikah. Sebulan kemudian, saya mendengar dua kabar baik bahwa Dina dan Sheila tengah hamil. Saya dan Irvan terlonjak kegirangan karena Dina dan Sheila sama-sama hamil satu bulan.

Kini, Jason dan Grant (anak Irvan dan Sheila, diberi nama itu karena Irvan sangat mengidolakan Grant Hill, power forward Detroit Piston) sudah berumur 1,5 tahun. Keduanya lincah dan cerdas. Hobi mereka sama. Karena saya dan Irvan memang membeli rumah yang bersebelahan, otomatis Jason dan Grant menjadi dua sahabat kecil selalu rukun.

Grant dan Jason terlihat persis seperti saya dan Irvan. Saya sering mendengar Irvan memuji Grant dengan bangga sampai saya sempat kaget ketika sambil dengan muka ceria Irvan berkata, "Mukanya mirip banget sama lu Nard, liat aja tuh, ngga salah gue punya sobat kayak lu", seketika saya melihat Grant dan memang benar, ciri-ciri fisiknya sama dengan saya sehingga Grant dan Jason selintas seperti adik kakak. Kemudian dengan cepat pula mata saya memandang Sheila yang tersenyum dan begitu bertemu muka dengan saya, ia mengangguk pelan sambil tersenyum ke arah saya.

Hubungan intim saya dengan Sheila memang tidak sesering dulu lagi, tapi bagaimanapun saya adalah yang pertama untuknya dan ia adalah yang pertama bagi saya. Sulit untuk melupakan yang pertama, sebisa mungkin kami mencoba untuk mengulanginya dan merasakan keindahannya lagi.

TAMAT

Maafkan aku sobat - 1

Nama saya Bernard, usia saya kini 29 tahun. Istri saya (yang saya nikahi tiga tahun yang lalu) bernama Dina. Kami bertemu saat kuliah, dia lebih muda dua tahun dari saya. Manis menurut saya dengan tinggi 160 cm. Saya sangat mencintai istri saya karena sangat pengertian. Kami sudah mempunyai anak (laki-laki) berumur 1,5 tahun, lucunya anak saya ini, saya bisa tahan bermain dengannya sampai berjam-jam. Itulah sebabnya saya sering berkata kepada teman-teman saya bahwa kebahagiaan abadi adalah jika kamu pulang dari kantor kemudian bermain bersama anakmu. Namanya Jason, sengaja saya namakan demikian karena saya sangat suka dengan point guard Phoenix Sun yaitu Jason Kidd. Untungnya dia juga sudah mulai suka memantul-mantulkan bola ke tanah, sebuah dasar permainan basket.

Saya bekerja disebuah perusahaan multinasional yang bermarkas di Jerman. Penghasilan saya lumayan, lebih dari cukup malah, sehingga saya bisa tinggal di perumahan elite di pinggir kota Jakarta. Namun saya lebih suka hidup sederhana, mobilpun hanya punya satu.

Saya punya sobat kental yang bernama Irvan. Persahabatan saya dengan Irvan sudah terbina sejak kami masih sama-sama TK. Usianya sama dengan saya, kami hanya berbeda satu bulan (saya lebih tua). Perkenalan saya dengan Irvan terjadi karena kami saling berebut kue ulang tahun yang dibawa oleh teman kami. Saat itu, seperti layaknya anak kecil kami bertengkar yang kemudian berkembang menjadi perkelahian ala anak kecil. Irvan sempat terjengkang saat itu, demikian juga saya yang terjatuh karena kaki saya ditendangnya setelah ia terjatuh kena pukulan saya. Dilerai oleh guru, kamipun akhirnya berkenalan. Hukuman yang diberikan Ibu Yanti adalah selama satu bulan selama di sekolah, kami harus bersama terus. Ternyata hukuman seperti ini sangat efektif karena sejak saat itu pula kami selalu bersama.

Kebersamaan kami tidak hanya di TK. Ketika masuk SD, kami ingin sekali untuk tetap bersama. Kebetulan niat kami ini menjadi kenyataan. Kami masuk ke sebuah SD swasta yang terkenal amat disiplin. Seingat saya, kami hanya sekali terpisah selama SD, SMP dan SMA, yaitu kelas empat SD. Sisanya kami selalu sekelas. Hingga SMA kami selalu mempunyai prestasi di sekolah yang hampir sama. Jika Irvan dapat ranking tiga maka saya dipastikan akan berada di peringkat dua atau empat. Terhitung saya unggul lima kali dan Irvan tujuh kali.

Kedekatan saya dengan Irvan juga mengimbas ke kedua orang tua kami. Saya sudah seperti anak sendiri di depan orang tuanya demikian pula sebaliknya. Ketika kecil, kami sering bergantian menginap. Ini memang memudahkan kedua orang tua kami untuk mengontrol kami. Kalau saya menginap di rumah Irvan, maka ibunya segera menelepon ibu saya dan mengatakan bahwa saya menginap di rumahnya. Hal serupa juga terjadi pada Irvan.

Satu-satunya yang berbeda pada kami hanya sifat. Saya orang yang mudah sekali bergaul. Setiap ada pertemuan, hampir dapat dipastikan saya menjadi centre of attention karena kemampuan saya untuk berbicara. Irvan sebetulnya bukannya tidak baik berkomunikasi, ia hanya lebih pendiam, itu pula yang membuatnya tampak lebih berwibawa dibanding saya.

Hobi kamipun sama yaitu main sepakbola dan basket. Jika main sepakbola, Irvan biasa menempati posisi wingback kanan, sedang saya gelandang bertahan. Karena wibawanyalah, Irvan selalu menjadi kapten saat bermain sepak bola. Di basket, posisi yang sering di tempatinya adalah posisi small forward. Saya sendiri biasa di posisi shooting guard.

Kami memang ditakdirkan untuk bersahabat. Selain hobi dan tetek bengek lain yang sama, kami sama-sama bungsu dari empat bersaudara. Jumlah kakak perempuan dan laki-laki pun sama, hanya berbeda urutan. Keluarga Irvan, laki-laki-perempuan-perempuan-laki-laki sedang saya, perempuan-laki-laki-perempuan-laki-laki. Tinggi kami berdua tidak berbeda jauh yaitu sekitar 180 cm, hanya saja Irvan lebih tinggi dari saya sekitar satu cm. Penampilan fisik kami, kalau boleh saya sedikit sombong, sangat OK. Banyak teman-teman wanita kami yang tertarik kepada kami.

Ketika kuliah (tempatnya juga sama di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, jurusan manajemen), kami tetap satu kost. Tapi karena namanya juga kost-kostan, kami tidak bisa memilih untuk bersebelahan kamar. Irvan mendapat kamar di lantai dua sedang saya dilantai satu.

Prestasi kami saat kuliah juga hampir mirip dengan prestasi kami di TK-SD-SMP-SMA, hanya saja kali ini karena kuliah kami tidak mungkin sekelas terus. IP kami yang selalu mirip, kisarannya sekitar 2,7-2,8. Yang ajaib, saat sebelum sidang sarjana, IPK kami sama persis yaitu 2,76. Karena malam sebelum sidang (kami sidang berbarengan) saya sibuk menjadi mentor bagi Irvan, akhirnya saat sidang sesungguhnya saya hanya mendapat nilai B dan Irvan justru A. Akan tetapi, hal ini bukanlah masalah bagi saya.

Dua tahun terakhir sebelum lulus, Irvan tertarik dengan gadis sekampus kami yang berada di angkatan dua tahun lebih muda. Nama gadis tersebut Sheila. Rupanya sangat cantik, berhidung mancung, berkulit putih mulus, berdarah bule sedikit (ayahnya indo-belanda). Tingginya sekitar 175 cm dengan berat badan yang sangat proporsional. Yang kurang proporsional menurut saya hanyalah dadanya yang sedikit kebesaran. Singkat kata Sheila sangat seksi. Jujur saja, saya sempat suka dengannya.

Awal-awal pendekatan, Irvan selalu mengajak saya bila apel ke rumah Sheila. Alasannya singkat saja "Loe khan pinter ngomong..". Karena saat itu saya juga belum punya pacar, kami sering sekali jalan bertiga. Tak heran jika Sheila kemudian dekat juga dengan saya. Kedekatan saya dengan Sheila bahkan sudah melebihi kedekatannya dengan Irvan. Ini saya anggap sudah sangat berbahaya, jadi akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menemani Irvan.

Pendekatan Irvan untuk mencairkan hati Sheila berlangsung cukup lama, kurang lebih 1,5 tahun. Malah akhirnya saya yang lebih dahulu mendapat pacar, yaitu Dina yang saya dekati selama kurang lebih enam bulan. Dan tak lama (kurang lebih satu bulan) setelah saya dan Dina resmi pacaran, merekapun menyusul resmi berpacaran. Bahagianya hati kami saat itu.

Sheila juga yang mempunyai usul agar kami mengontrak rumah bersama (maksudnya saya dan Irvan). Dan usulan ini kami anggap sangat bagus dan enam bulan sebelum lulus, kami pindah ke rumah kontrakan kecil berkamar dua. Sheila dan Dina sering datang dan mengurusi segala kebutuhan kami, dari mulai makan hingga keperluan kami sehari-hari. Saat itu kami merasa sebagai dua cowok paling beruntung di dunia. Kebiasaan kami untuk menjaga keamanan adalah sistem bawa kunci sendiri-sendiri. Setiap saat pagar rumah di gembok dan pintu rumah dikunci, ada atau tidak ada orang. Kebiasaan Irvan jika pulang ke rumah adalah teriakannya yang khas "Permisi..!", saya tidak mempunyai kebiasaan itu. Ini pula akhirnya yang menjadi tanda siapa yang pulang.

Setelah lulus, kami sibuk mencari kerja ke sana ke mari. Irvanlah yang paling beruntung di antara kami. Baru sebulan lulus, dia sudah menerima panggilan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta, sedang saya juga sudah sering terima surat balasan, tapi isinya kerap berisi penolakan.

Sebulan setelah dipanggil, Irvan dinyatakan diterima di perusahaan tersebut. Inilah yang membuatnya menjadi sering bolak balik Jakarta-Bandung. Saya menjadi sering sendirian di rumah, walaupun Dina masih sering datang dan menemani saya. Saya dan Irvan walaupun mempunyai pacar yang sering berkunjung ke rumah, sangat menjaga pergaulan. Saya dan Dina kerap hanya berciuman dan berpelukan jika di rumah, demikian pula dengan Irvan dan Sheila. Kami juga menjunjung sopan santun yang menjadi dasar budaya suku kami.

Suatu hari, saat saya sedang sendirian di rumah, Sheila menelepon. Saya katakan bahwa Irvan belum pulang dari Jakarta. Namun, rupanya Sheila justru ingin berbicara dengan saya. Mulanya saya pikir hanya akan berbicara di telepon, paling nanya soal Irvan, pikir saya. Rupanya Sheila ingin berbicara langsung dengan saya dan meminta ijin untuk datang. Saya ijinkan, kebetulan Dina kuliah sampai malam dan baru besok datang ke rumah kontrakan ini.

Kira-kira pukul satu, dengan mukanya yang ceria Sheila datang. Setelah mengunci pagar dan pintu kami duduk di ruang tamu (kebetulan, ruangan di rumah ini selain dua kamar tidur, hanya ruang tamu ini). Sheila saat itu mengenakan pakaian yang sudah menjadi ciri khasnya, jeans ketat, kaus juga ketat dengan rompi diluarnya.

Kami berbincang-bincang dan bercanda cukup lama. Kami memang sangat nyambung jika ngobrol, jadi obrolan seakan mengalir tanpa diatur. Sampai tiba-tiba Sheila menundukan kepalanya dan ketika kepalanya terangkat lagi, saya lihat butiran airmata mengambang disudut matanya.
"Sel, kenapa..?", aku segera bertanya sambil berjalan mendekatinya. Dengan mata merah dan airmata yang siap meleleh, Sheila berkata bahwa suasana seperti ini sudah lama ia harapkan. Saya jadi bingung akan maksudnya berkata seperti itu.
"Gue sangat mengharapkan bisa ngobrol berdua sama loe sudah sejak lama Nard", ucap Sheila sambil menyeka air matanya. Saya berlutut di depannya sambil bertanya lagi maksudnya apa. Ia mengulangi perkataannya dan menambahkan bahwa maksudnya adalah ngobrol berdua dengan saya.
Saya masih kebingungan dan tak bisa berbicara ketika dari mulut Sheila keluar pernyataan yang mengagetkan, "Gue sebetulnya suka sama loe, Nard".
Hah? Saya terlonjak kaget dan tetap tak mampu berkata-kata. Kemudian Sheila menambahkan bahwa dirinya sangat terpukul ketika tahu bahwa saya dan Dina resmi pacaran. Harapannya musnah, impiannya melayang, angannya terbang yang berakibat ia akhir luluh di depan Irvan. Bersedianya ia menjadi pacar Irvan rupanya terdorong rasa kecewanya gagal mendapatkan saya. Atas dasar itu juga Sheila memberikan usul agar saya dan Irvan tinggal di rumah kontrakan ini, maksudnya agar ia bisa setiap hari melihat saya, sekedar melihat saya.

Semakin lama berpacaran dengan Irvan, hatinya justru semakin kuat melekat pada diri saya. Ia tahan berada di rumah ini hanya untuk melihat segala aktivitas saya seharian, walaupun itu dilakukannya dalam pelukan dan belaian Irvan. Tak dipungkirinya, Irvan sangat ia sayangi, tapi cintanya tetaplah pada saya. Ia membutuhkan orang yang mampu menjadi tempat bertanya, Irvan tidak memiliki itu. Sifat dasar kamilah yang akhirnya menjadi penentu bagi Sheila.
"Nard, maukah kamu peluk Sheila?" Saya terdiam sejenak, sungguh tak mampu berkata-kata.
Memeluk Sheila? Bagi laki-laki lain kesempatan ini tidak akan dibiarkan hilang, tapi bagi saya, memeluk Sheila dengan kehangatan cinta adalah pengkhianatan terhadap Dina dan Irvan.

Akhirnya segala perdebatan di kepala saya perlahan-perlahan saya singkirkan. Pelan-pelan tangan saya mencari pinggang Sheila dan mendekatkan tubuh saya kepadanya. Sejenak saya merasakan dada saya menabrak segumpal benda kenyal di dada Sheila. Tangan Sheila kemudian melingkar dipundak saya dan segera menarik saya agar lebih menempel pada tubuhnya. Seketika saya merasakan himpitan kekenyalan dadanya di dada saya. Sheila memeluk saya dengan kuat dan mulai mencium leher saya sambil berkata pelan di telinga saya, "Terima kasih Nard, Saya mencintaimu",.

Bersambung . . . .

Pengalaman di Palembang

Namaku Andi, aku mau menceritakan pengalamanku waktu liburan tahun lalu. Aku kuliah di universitas swasta di Jakarta semester lima. Pacarku Nita, teman satu kampus. Aku sudah sering "ngeseks" bareng dia soalnya aku dan nita punya satu kesamaan, gampang horny.

Singkat cerita aku pulang ke kampung di Palembang, kebetulan sedang libur panjang dan lagi bosan dengan suasana Jakarta. Itung-itung refreshing. Aku tinggal di rumah pamanku di pinggiran kota Palembang, di pinggiran sungai Musi. Di sana aku mendapat kebiasaan baru, ngintipin cewek-cewek yang ke sungai tiap sore. Walaupun nggak ada acara bugil-bugilan, tapi aku memang lebih suka meliat cewek yang setengah tertutup daripada yang bugil sama sekali. Rasanya lebih seksi dan bikin penasaran.

Suatu sore, aku melihat ada seorang cewek yang lumayan manis, kulitnya coklat, body bahenol, tapi kalau dia sedang tersenyum, rasanya jantung ini mau copot. Aku mencari info sama sepupuku dan akhirnya ketahuan kalau namanya Aminah. Dua hari kemudian, kebetulan siang itu Aminah sedang belanja ke warung di sebelah rumah pamanku, kesempatan nih buat kenalan. Akhirnya dengan berpura-pura membeli rokok aku kenalan sama dia. Ternyata dia sudah setahun lulus SMA, terus nggak dilanjutin lagi karena masalah biaya. Maunya dia sih langsung kerja tapi belum dapat akhirnya sementara itu dia di rumah membantu ibunya. Aku mulai mendekatinya, ngobrol dengannya, kadang aku nekat "nyamperin" dia ke rumahnya kalau malam. Untungnya orang tuanya kenal dengan pamanku, jadinya lancar aja deh.

Dalam hitungan hari, rasa cintaku sama dia bertambah dan aku tahu kalau dia juga suka padaku.Suatu malam, kuajak dia jalan-jalan di kota, lalu nonton ke bioskop. Tadinya sih dia nolak, alasannya sih takut kemalaman. Cuma setelah dibujuk-bujuk dia mau juga. Di dalam bioskop kuambil kursi yang pojokan baris atas dengan alasan supaya nontonnya lebih jelas padahal sih.. Untungnya bioskop agak sepi, soalnya hari biasa bukan malam minggu. Waktu itu kami nonton film drama, aku lupa judulnya, tapi yang jelas adegan "kiss-kissan" dan romantisnya pasti ada lah. Pas adegan itu, aku melirik ke sebelah melihat reaksi dia, sepertinya sih dia agak risih. Mungkin karena nontonnya bareng aku kali. Aku agak ngeri juga mau 'gerilya' soalnya kalau dia nggak suka urusannya bisa berabe nanti.

Akhirnya dengan sedikit nekat kurangkulkan tanganku ke bahunya. Awalnya dia terkejut, tapi dia diam saja. Lampu hijau nih pikirku, tapi pelan-pelan aja lah. Selang beberapa lama, bahunya kutarik supaya merapat padaku, dan dia diam aja. Kuberanikan untuk memegang tangannya, mencium rambutnya, kubelai-belai dengan lembut, sambil sesekali kucium dahinya. Dia ternyata juga memberi reaksi dengan meremas lembut tanganku.

Kupanggil namanya, "Minah..," dia melihat ke arahku.
"Abang sayang sama Minah."
Dia tersenyum malu, menundukkan muka tanpa bilang apa-apa. Lalu kuangkat dagunya, dan dengan lembut kukecup bibirnya. Dia pun membalas dengan lembut. Cukup lama kami berpagutan, tanganku mulai bekerja langsung meraba payudaranya. Dia tersentak kaget, karena mungkin baru pertama kali payudaranya disentuh laki-laki.
"Jangan, Bang.." katanya sedikit memohon.
Aku hanya tersenyum dan berkata, "Sorry deh, Abang kelepasan."
Dia pun mengangguk mengerti. Dalam hati aku berkata susah juga nih cewek, butuh perlakuan khusus nih.

Lalu kurangkul dia kembali sambil kubelai lembut lengan dan bahunya. Sesekali kucium rambutnya yang agak panjang tergerai hingga mendekati daerah leher dan telinganya. Ia sedikit bergerak karena geli, namun aku tahu semakin lama ia akan semakin terangsang. Dengan sedikit kesabaran dia terus kuperlakukan dengan lembut, menunggu saat yang tepat. Hingga akhirnya kukecup lagi bibirnya dan seperti dugaanku ia membalas dengan sedikit agresif dibanding kecupan yang pertama.

Tanganku mulai naik dari arah pinggang merambat perlahan hingga ke payudaranya tanpa ada reaksi penolakan. Kuusap lembut payudaranya yang masih kencang sambil terus mengecupnya. Nafasnya mulai memburu menikmati permainan tanganku. Lalu bergantian kedua payudaranya kuremas dengan lembut.Setelah puas merambah kedua gunung yang masih perawan, tanganku mulai turun ke arah paha dan mengelusnya dengan lembut. Secara perlahan rabaanku mulai naik ke daerah selangkangannya. Ia sedikit merapatkan pahanya, namun aku tidak peduli karena kesempatan seperti ini sulit didapat. Dengan sedikit memaksa, kusentuh kelaminnya. Karena saat itu ia memakai celana panjang dari bahan kain, lekuk vaginanya masih terasa kuraba. Dengan mengira-ngira kuelus bagian sekitar klitorisnya hingga ia sedikit mengerang karena nikmat. Terkadang jari tengahku sedikit kutekan pada lubang vaginanya dan saat itu pula pantatnya ikut menekan maju.

Sebenarnya ingin kuhentikan rabaanku karena keinginanku sudah tercapai, lagipula aku juga merasa nggak enak kalau ada orang lain yang melihat, maklumlah di kampung orang. Namun karena dia sudah menikmati rangsanganku aku pun merasa tidak tega. Sudahlah kepalang tanggung, biar sekalian kuselesaikan. Kugesek lebih cepat jariku pada bagian vaginanya terutama daerah klitoris, ditambah dengan ciuman pada daerah leher dan telinga. Dia pun semakin terangsang hingga tak lama kemudian ia mengerang dan kurasakan badannya mengejang dengan kedua kakinya sedikit mengangkat. Lalu ia menundukkan kepalanya ke dadaku. Kukecup dahinya dan kurangkul dia dengan erat.

Sebelum film selesai, kuajak dia keluar mencari udara segar, karena kami sama-sama kegerahan karena kejadian tadi. Sikapnya sangat berbeda sekarang. Tadinya kami hanya berjalan beriringan sebelum menonton bioskop, tapi sekarang kami saling berangkulan hingga payudaranya yang kencang terasa di tubuhku. Kuantarkan dia pulang ke rumahnya lalu aku sendiri pulang ke rumah pamanku.

Aku langsung masuk ke kamar dan masturbasi sambil menghayalkan kejadian tadi. Bahkan hingga dua kali berturut-turut. Dua malam kemudian ada suatu acara resepsi pernikahan di daerah itu, kebetulan orang yang mengadakan resepsi cukup terpandang di daerah itu. Setelah resepsi masih ada hiburan layar tancap sampai pagi. Kalau tidak salah malam itu malam Minggu. Ingin juga merasakan enaknya nonton layar tancap, soalnya seumur-umur nggak pernah sih.

Saat makan malam berbagai hidangan disajikan dan sebagian besar masakan padang. Aku duduk berdua dengan Aminah mulai awal pesta. Saat makan, karena tersenggol orang, Aminah menumpahkan sirop yang dipegangnya ke bajuku hingga membasahi celanaku. Kemeja putihku sebagian berwarna merah ketumpahan sirop.
"Nggak pa-pa kok, aku ganti baju aja dulu sebentar," kataku karena melihat rasa menyesal di wajahnya.
"Saya temenin ya, Bang. Tidak enak hati saya jadinya," katanya.
"Ngga pa-pa, Minah. Kamu makan aja dulu, biar Abang pulang sebentar. Nggak usah ditemani," jawabku.
Tapi karena terus memaksa, aku pun membiarkannya.

Sesampai di rumah pamanku, saat itu tidak ada ornag, aku langsung melepaskan kemejaku dan melemparnya ke ember cucian, lalu naik ke kamarku untuk berganti baju. Tidak lama kemudian aku pun turun, dan kulihat Aminah sedang mencuci noda di bajuku.
"Sudah biar saja, Minah. Besok saja dicuci," kataku.
"Tak pa-pa Bang, Cuma sebentar," jawabnya.
Akhirnya kubiarkan karena dilarangpun tetap saja dikerjakannya. Sambil menunggu, aku mengambil air es dan kuminum. Lalu aku kembali ke kamar mandi. Sesampainya di sana kulihat Aminah dengan menunduk membelakangiku, sedikit menungging, sedang membilas bajuku. Walupun ia saat itu memakai sarung berenda khas sumsel, namun lekuk pinggul dan pantatnya sangat indah, membuatku terangsang dan tanpa terasa penisku mulai bangkit. Apalagi posisi ini posisi favoritku dan Nita di Jakarta bila sedang making love.

Goddaan setan melintas di pikiranku, apalagi sekarang rumah lagi kosong, namun tetap kutahan.Setelah selesai membilas, dan merendam pakaianku ia pun membalikkan badannya dan sesaat terhenti karena melihat aku menatapnya tak berkedip. Kulihat wajahnya yang manis dengan senyumnya yang menawan, ada sedikit butiran keringat di dahinya yang seakan menambah daya tarik.
"Kenapa, Bang?" katanya.
Aku tak menjawab, lalu kudekati dia dan langsung kukecup bibirnya. Awalnya ia membalas dengan lembut. Kubelai seluruh tubuhnya, dan kupeluk dia dengan erat sambil terus mengecup bibirnya. Entah kenapa rasanya berbeda sekali dibanding bila kulakukan ini dengan Nita. Kulepaskan kecupanku sesaat, kupandang sekali lagi wajahnya dan ia balas menatapku. Lalu kami saling berpagutan kembali, kali ini lebih menggelora. Tanganku pun mulai bergerilya ke seluruh tubuhnya, mengelus dan meremas tanpa henti.

Kemudian kugendong dia dan kubaringkan di atas kursi panjang, sambil aku berlutut, kami kembali saling berpagutan. Karena nafsuku yang sudah memuncak, akibat "puasa" hingga dua minggu lebih langsung saja kuraba vaginanya. Ternyata di balik sarungnya ia tidak memakai penutup lagi selain celana dalam. "Kebetulan nih," pikirku. Langsung saja kuulangi peristiwa di bioskop kemarin, dan ia pun pasrah saja menikmati sentuhanku. Tidak berapa lama, kuselipkan jariku ke dalam celana dalamnya dan langsung bersentuhan dengan vaginanya. Dengan mengandalkan pengalaman bersama Nita kurangsang dia dengan mengusap klitorisnya, memainkan jari pada lubang vagina tanpa memasukkannya, membuat ia semakin bergairah dan biasanya pada akhirnya setiap wanita akan meminta kita untuk memasukkannya. Walaupun dia tidak meminta secara langsung namun secara perlahan ia mulai menggoyangkan pinggulnya mengikuti gerakan jariku pada vaginanya. Walaupun birahiku semakin memuncak dan sulit untuk ditahan, namun aku tetap sabar. Ada kepuasan tersendiri di saat menaklukkan seorang wanita hingga memohon untuk dipuaskan.

Tidak berapa lama kemudian gerakan pinggulnya kurasakan semakin cepat dan nafasnya semakin memburu hingga jariku kewalahan untuk merangsangnya sambil menahan celana dalamnya. Perlahan kulepaskan jariku dari vaginanya dan kucoba untuk melepaskan celana dalamnya. Seakan mengerti, ia sedikit mengangkat pantatnya hingga memudahkanku melepaskannya. Kulanjutkan kembali kegiatanku seperti tadi hingga ia kembali terangsang dengan hebat, sebab setelah celana dalamnya terlepas, jariku semakin leluasa memainkan vaginanya. Dia tidak pernah mengucapkan sepatah katapun, hanya erangan nikmat yang sesekali keluar dari bibirnya. Padahal bila dengan Nita, kami sering mengucapkan kata-kata kotor untuk lebih merangsang permainan.

Tiba-tiba kutarik jariku dari vaginanya sebelum ia mencapai puncak kenikmatannya. Ia sedikit terkejut menatapku. Lalu aku mulai melepaskan ikat pinggang dan resleting celanaku. "Ahh.." ucapnya sambil memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Namun aku tahu ia tak akan sanggup lagi untuk menolak hal ini. Setelah kulepaskan semua celanaku, kupegang tangannya dan kubimbing ke arah penisku. Saat terpegang olehnya, ia seperti sadar dan menarik tangannya tapi kutahan dan kutuntun tangannya untuk mengocok penisku. Ia pun menurut dan tanganku kembali bermain di vaginanya. Ia kembali terangsang, dan mulai memberanikan diri untuk melihat penisku sambil terus mengocoknya.

Kami menikmati permainan itu hingga beberapa saat kemudian badannya mengejang mencapai puncak kenikmatan. Vaginanya sungguh lembut dan hangat dan sangat basah. Ingin sekali kumasukkan penisku saat itu, tapi mengingat ia masih perawan, aku harus memperlakukannya dengan lembut. Belum selesai ia menikmati orgasmenya, aku langsung melebarkan kakinya dan sambil berdiri dengan posisi 69 kubenamkan wajahku ke vaginanya. Aroma yang sangat khas namun lebih lembut dibanding aroma Nita tercium olehku. Kumainkan lidahku di seluruh permukaan vaginanya, terutama pada bagian klitorisnya. Ia mulai terangsang kembali dengan cepat sambil tangannya terus mengocok penisku.

Saat aku sedang asyik menjelajahi vaginanya dengan lidahku, kurasakan ia sedikit menggerakkan badannya dan sesaat kemudian penisku terasa masuk ke dalam rongga yang hangat. Aku tersenyum dalm hati, ternyata ia cepat belajar. Namun karena pertama kali dan karena posisi kami yang kurang pas, terkadang secara tak sengaja tergigit olehnya hingga aku harus menarik pinggulku karena terasa sakit. Untungnya ia mengerti dan akhirnya hanya memainkan lidahnya di sekujur penisku tanpa dimasukkan ke dalam mulutnya. Cukup lama kami berada di posisi ini. Pinggul Aminah mulai bergerak liar menekan ke arah lidahku. Posisi yang kurang enak membuat badanku lelah dan akhirnya kuhentikan jilatanku pada vaginanya. Langsung saja aku mengambil posisi standard sambil mengangkat salah satu kakinya dengan tanganku dan bertumpu pada tanganku yang lainnya.

"Kamu tuntun ya, Minah.." kubisikkan kepadanya dan ia mengangguk pelan.
Ia pegang penisku dan menuntunya ke lubang vaginanya. Setelah posisinya pas aku mulai mendorong secara perlahan.
"Sakit Bang. Ahh.. pelan-pelan," bisiknya ditengah-tengah erangan nikmat.
"Ya, pelan-pelan saja. Minah saja yang tuntun, kalo sakit jangan dipaksa," jawabku.
Aku pun menyesuaikan goyangan pinggulku dengan tuntunan tangannya. Secara perlahan namun pasti penisku mulai masuk sedikit demi sedikit. Walaupun terasa sakit, rasa nikmat dari sanggama membuatnya terus mencoba memasukkan penisku. Setelah kurasakan bibir vaginanya mulai mengembang, aku mengambil alih gerakan. Pinggulku mulai kupercepat menghunjam vaginanya. Nafsu yang sudah tertahan-tahan akhirnya dapat kulepaskan hingga di suatu saat kudorong penisku cukup keras ke dalam vaginanya.

"Ouch.." hampir berbarengan kami mengerang.
Setengah penisku masuk ke dalam vagina yang sempit dan hangat. Lalu mulai kudorong lagi perlahan-lahan dan secara bertahap temponya kupercepat hingga otot vaginanya bisa menyesuaikan penisku. Hingga akhirnya penisku bisa masuk seluruhnya ke dalam liang vagina yang jauh lebih nikmat dari milik Nita, karena memang saat aku bersanggama dengan Nita ia sudah tidak perawan lagi. Kulepaskan peganganku pada kakinya, lalu kuangkat sedikit pantatnya dengan tanganku yang bebas agar penetrasi menjadi lebih mudah. "Ooh.. aah.." hanya desahan dan rintihan yang bisa keluar dari bibir kami. Nikmat yang kurasa sangat menakjubkan hingga aku yang biasa bisa menahan orgasme, sangat sulit untuk melakukannya.

Beberapa menit kemudian gairah kami mulai memuncak dan aku pun tidak bisa lagi menahannya lebih lama. Aminah pun mulai menggoyangkan pinggulnya dengan liar, hingga akhirnya aku bertumpu pada kedua tangan dan berkonsentrasi pada goyangan pinggulku. Beberapa saat kemudian, saat kupercepat goyanganku Aminah menaikkan pantatnya dan mengejang nikmat. Ia mencapai orgasmenya. Dalam hitungan detik pun kurasakan denyutan yang familiar pada pinggangku. Seketika itu juga kucabut penisku dari vaginanya dan mulai mengocoknya dengan keras. Kutumpahkan semua maniku ke lantai, sambil terus mengocok penisku hingga badanku lemas dan serasa tak bertenaga. Saat kulakukan itu Aminah bangun dari kursi dan menghampiriku serta membantuku menyelesaikan orgasme.

Kami lalu berpelukan dan berpagutan beberapa saat hingga kusadari ia menitikkan air mata.
"Jangan takut Minah, ini rahasia kita berdua. Kalau Abang selesai kuliah di Jakarta, Abang akan jemput Minah ke sini," kataku untuk menghiburnya.
Ia menatapku sambil tersenyum lalu kami berciuman lagi untuk beberapa saat. Lalu merapikan diri untuk kembali ke resepsi, dengan tak lupa membersihkan bekas-bekas pertempuran di ruang tamu.Kami melakukannya sekali lagi di sebuah motel di luar Palembang saat kami sedang berjalan-jalan ke luar kota, hingga seminggu kemudian aku kembali ke Jakarta untuk kuliah. Kami masih saling berkirim surat hingga sekarang, namun sayangnya liburan ini aku tidak bisa pulang ke kampung karena masalah akademis. Walaupun aku masih berhubungan dengan Nita, itu hanyalah sebagai pelampiasan nafsu belaka, namun hatiku masih tertambat di kampung halamanku.

TAMAT

Pengalaman kuliah

Sebelumnya aku mencoba unruk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Aku sekarang berumur 22 tahun dan bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang bergerak di bidang pariwisata. Tinggi badan 174 cm dengan berat badan 64 kg. Sekarang ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga aku jarang memiliki kesempatan untuk memikirkan hal yang lain termasuk percintaan. Di waktu kerja senggang, aku mencoba menceritakan sebuah pengalaman yang pernah kualami waktu kuliah di sebuah sekolah pariwisata di Bandung. Cerita ini berawal ketika aku memasuki semester tiga. Ketika itu aku bersama temanku, Gema, mencari tempat kost, maklum asrama cuma untuk mahasiswa baru. Kami berusaha mencari kost yang tempatnya sama. Setelah beberapa hari kami baru menemukan tempat kost yang kira-kira asyik dan tidak begitu banyak aturan, maklum aku sering ke fame station dan pulang malam, jadi kan kalau tidak ada induk semang bisa pulang kapan saja. Setelah aku menemukan tempat kost, aku kemudian melakukan boyongan dari asrama ke tempat kost yang baru. Ternyata tempat kostku itu gabung antara cowok dengan cewek. Wah kebetulan nih jadi nggak BT.

Ceritanya berawal dari sini..
Pada suatu ketika aku sangat malas kuliah karena sedang hujan dan udara sangat dingin (maklum Bandung masih dingin walau tidak memakai AC) kemudian sekitar jam 09:00, aku baru bangun karena sudah merencanakan untuk bolos kuliah. Kemudian dengan entengnya aku mengambil perlengkapan mandi seperti biasa lalu dengan santainya menuju kamar mandi yang tidak jauh dariku, dan langsung kubuka pintu kamar mandi tanpa rasa ragu namun ternyata Felin sedang mandi dan sepertinya dia lupa menutup kamar mandi. Kemudian dia berkata, "Eh Ki.. loe punya mata kagak.. orang lagi mandi loe main masuk aja." Dengan wajah sedikit malu aku terkejut melihat tubuhnya yang tanpa busana itu. Tubuhnya dengan sedikit basah, sepertinya baru saja mandi. Tubuhnya yang mulus itu sedikit menghadapku, terlihat buah dadanya yang kira-kira berukuran 36B dengan mulusnya bersarang di dadanya dengan puting susunya yang sedikit kemerah-merahan. Aku tidak begitu jelas melihat tubuhnya karena payudaranya sedikit tertutup oleh ranbutnya yang hitam lurus sebahu itu. Kemudian aku berkata kepada Felin, "Sorry nih nggak sengaja, aku kira nggak ada orang.." Kemudian dia menutup kembali dengan cueknya dan aku kembali ke kamar dengan tanpa memikirkan apa-apa. Kemudian setelah masuk kamar, aku menyalakan TV yang ada di kamar kostku, wah ternyata lagi acara MTV land, kemudian aku dengan asyiknya menikmati acara itu.

Saat sedang asyiknya aku menonton TV, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku, "Ki.. loe lagi ngapain, gue Felin.."
"Oh elo udah beres mandinya ya.."
"Ki, gue numpang nonton di kamar loe ya, gue juga lagi males kuliah."
"Ya udah masuk aja.. pintunya nggak dikunci kok.. loe sok sungkan amat sih.."

Felin adalah mahasiswi perguruan tinggi swasta di Bandung. Dia berbeda kampus denganku, namun kami tinggal satu kost. Dia mahasiswi semester 1, anak Jakarta. Dia mengambil jurusan Akutansi, itu katanya sih. Kemudian dia memasuki kamarku dengan hanya menggunakan baju mandi dengan rambut yang basah terurai di pundaknya. Buah dadanya terlihat montok sekali, serasa aku ingin melumatnya (dalam khayalku).

Kemudian aku mencoba memecahkan keheningan suasana.
"Fel, kamu kok nggak kuliah sih.."
"Aku lagi nggak ada mata kuliah hari ini."
"Oh.."
"Fel aku mau mandi dulu ya, kamu di kamarku aja ya.. kalo mau nonton setel aja VCD."
Aku kemudian mandi dan baru ingat bahwa tadi malam aku nonton blue film, kasetnya masih di dalam. "Gimana ya kalo dia nonton, malu kan aku.." tapi aku cuek saja dan terus mandi sambil memanjakan penisku yang merupakan barang wasiat. Setelah mandi kemudian aku langsung menuju kamarku dan sebelum aku masuk kamar terdengar suara desahan wanita seperti suara yang ada di blue film yang kunonton tadi malam, kemudian aku langsung masuk ke kamar dan..

"Fel bagus nggak filmnya.." sapaku.
Dia malu dan langsung mematikan TV-nya, kemudian terdiam beberapa saat.
"Nggak usah malu lagi Fel, wajar kan?"
"Hmm.. kamu sering nonton film ginian ya Ki?""Nggak kok Fel.. tapi ya aku pengen sih tapi nggak ada salurannya."
Kemudian kuambil remote dari tangannya dan kemudian menghidupkan kembali VCD yang masih terus berputar. Aku pura-pura cuek namun aku melihat gerakannya mulai agak risih.

"Ki.. gue mau ke kamar dulu."
"Ke kamar mana."
"Ki gue mau.."
Dengan rasa takut kemudian aku mencoba untuk memegang tangannya dan langsung mencium bibirnya yang mungil. Dia membalasnya dengan agresif sepertinya dia sudah mulai terangsang dengan blue film yang ditontonnya selama aku mandi. Kemudian dia menghentikan ciumannya dan mengunci pintu kamarku. Dia dengan segera menciumku dengan memegang batang kemaluanku dari luar celana pendek yang sedang kukenakan. Kemudian dia merebahkan dirinya ke kasur yang kuletakkan di bawah (di lantai). Dengan dorongan yang dahsyat dari tubuhku, aku terus menciumi tubuhnya mulai dari bibirnya yang mungil dan kemudian kucium turun ke lehernya, sepertinya dia merasa geli sekaligus nikmat. Kemudian aku terus menciuminya sambil tangganku memegang buah dadanya yang begitu montok, lalu aku langusng melepaskan baju mandi yang dikenakannya dan ternyata dia tidak memakai kain selembar pun di badannya sehingga aku bisa melihat tubuhnya yang mulus itu tanpa sedikit pun penghalang di tubuhnya.

Kemudian aku berbisik di telinganya, "Apa kamu masih perawan?" dia mengangguk tanpa berbicara sambil terus mengelus batang penisku yang mulai menegang. Kemudian ciumanku kualihkan ke payudara sebelah kiri dan tanganku meremas yang sebelah kanan seperti bayi yang kehausan. Aku melumat susunya bergantian dari sebelah kiri dan kanan secara bergantian. Kemudian aku menikmati permainan ini dan kemudian ikut melepaskan pakaian yang kukenakan. Tanganku mulai beralih ke liang kewanitaannya. Nafsuku sepertinya sudah tidak tertahankan lagi, kemudian ciumanku pun menelusuri ke bawah dari payudara miliknya dan terus hingga ke lubang kewanitaan miliknya, kemudian aku mulai menjilati vagina miliknya yang sudah mulai mengeluarkan cairan licin, sepertinya Felin sudah mulai merasakan kenikmatan tubuhku. Aku terus menjilati vaginanya dengan ritme yang teratur seperti yang terdapat di blue film yang pernah kutonton. Wah.. ternyata enak juga saat kuhisap vaginanya. Felin mengeluarkan suara desahan yang menambah nafsuku, seakan aku mulai terbang. "Oohh.. uhh.. ahh.. Ki.. Aku rasanya.." Aku terus menjilati sambil menghisap klitorisnya dengan menambahkan tempo jilatanku dengan kuatnya dan sepertinya tubuh Felin mengejang sehingga dia merasakan orgasme yang dahsyat. "Ohh Kii.. terus.."

Kemudian aku berdiri dan kuarahkan penisku ke arahnya. "Fel gantian dong kamu kan udah enak nih adikku juga disenengin dong." Lalu dia pun mulai memegang penis dan dengan malu-malu kemudian dia menjilati kepala penisku dan dengan sigapnya langsung kupegang kepalanya dan kudorongkan penisku ke dalam mulutnya dengan tempo yang sudah mulai teratur dia memainkan penisku dan desahan dari mulutku pun keluar karena kenikmatan surga yang kurasakan "Oohh.. aku.. terus.. oh.." Desahanku itu sepertinya bertambah gila dan terus membabibuta menjilati penis milikku ini dan kemudian, "Crot.. croot.." Keluarlah spermaku di mulutnya dan sepertinya dia tersendak oleh spermaku tapi aku langsung menghampiri mulutnya dan kukulum kembali mulutnya yang basah oleh spermaku yang ada di mulutnya.

Kemudian setelah itu kudekap tubuhnya dan kurebahkan tubuhnya di kasur di dalam kamar kostku, kemudian aku merenggangkan kedua paha mulus miliknya, lalu aku mengarahkan penisku ke dalam surga kenikmatan miliknya yang mulai membasah itu dan kugesek-gesekkan kepala penisku di depan lubang kenikmatannya. Setelah berapa lama bermain di mulut vaginanya, aku bertanya, "Fel.. boleh nggak aku memasukkan adikku ini.." tanyaku. Dengan anggukan kecil dia menjawab. Tanpa ragu lagi kemudian kucelupkan penisku ke dalam lembah kewanitaannya dan rasa hangat yang terasa di sekeliling penisku yang terdapat di dalam vaginanya membuatku merasa melayang. Kemudian aku terus menggoyangkan pinggulku maju mundur sampai beberapa lama. Rasa nikmat yang tak terasakan disertai desahan Felin yang membuat pikiranku menjadi tak menentu dan, "Ah.. Ki kamu.." kemudian, "Fel rasanya udah mau keluar nih.." dengan cekatan dia menggarahkan mulutya ke penisku dan, "Crot.." basahlah mulutnya dengan sperma yang dilontarkan dari penisku dan dengan sangat cekatan dia terus menjilati sperma yang ada di sekeliling penisku.

Kemudian kami membersihkan tubuh kami dan kemudian kami pun tertidur dan tidak disangka aku bisa menikmati tubuh yang indah itu. Pada saat aku terbangun dari tidurku kulihat dia sudah keluar dari kamarku. Kejadian seperti ini hampir berlangsung selama satu tahun karena pada semester lima aku melakukan praktek kerja nyata dan sepulangnnya dari PKN aku sudah tidak mengetahui dia berada di mana, kadang memang ada rasa rindu pada diriku untuk merasakan kehangatan tubuh wanita namun apa mau dikata, kesibukanku sekarang ini menyita waktuku sehingga aku jarang mendapat kesempatan untuk melakukannya. Semoga pembaca dapat terhibur dengan pengalaman pribadiku.

TAMAT