Monday, July 15, 2013
Tante Yani - 1
Jakarta! Ya, akhirnya jadi juga aku ke Jakarta. Kota impian semua orang, paling tidak bagi orang sedesaku di Gumelar, Kabupaten Banyumas, 23 Km ke arah utara Purwokerto, Jawa Tengah. Aku memang orang desa. Badanku tidak menggambarkan usiaku yang baru menginjak 16 tahun, bongsor berotot dengan kulit sawo gelap. Baru saja aku menamatkan ST (Sekolah Teknik) Negeri Baturaden, sekitar 5 Km dari Desa Gumelar, atau 17 Km utara Purwokerto. Kegiatanku sehari-hari selama ini kalau tidak sekolah, membantu Bapak dan Emak berkebun. Itulah sebabnya badanku jadi kekar dan kulit gelap. Kebunku memang tak begitu luas, tapi cukup untuk menopang kehidupan keluarga kami sehari-hari yang hanya 5 orang. Aku punya 2 orang adik laki-laki semua, 12 dan 10 tahun. Boleh dikatakan aku ini orangnya ?kuper?. Anak dari desa kecil yang terdiri dari hanya belasan rumah yang terletak di kaki Gunung Slamet. Jarak antar rumahpun berjauhan karena diselingi kebun-kebun, aku jadi jarang bertemu orang. Situasi semacam ini mempengaruhi kehidupanku kelak. Rendah diri, pendiam dan tak pandai bergaul, apalagi dengan wanita.
Pengetahuanku tentang wanita hampir dapat dikatakan nol, karena lingkungan bergaulku hanya seputar rumah, kebun, dan sekolah teknik yang muridnya 100% lelaki. Pembaca yang budiman, kisah yang akan Anda baca ini adalah pengalaman nyata kehidupanku sekitar 9 sampai 6 tahun lalu. Pengalaman nyata ini aku ceritakan semuanya kepada Mas Joko, kakak kelasku, satu-satunya orang yang aku percayai yang hobinya memang menulis. Dia sering menulis untuk majalah dinding, buletin sekolah, koran dan majalah lokal yang hanya beredar di seputar Purwokerto. Mas Joko kemudian meminta izinku untuk menulis kisah hidupku ini yang katanya unik dan katanya akan dipasang di internet. Aku memberinya izin asalkan nama asliku tidak disebutkan. Jadi panggil saja aku Tarto, nama samaran tentu saja. Aku ke Jakarta atas seizin orang tuaku, bahkan merekalah yang mendorongnya. Pada mulanya aku sebenarnya enggan meninggalkan keluargaku, tapi ayahku menginginkan aku untuk melanjutkan sekolah ke STM. Aku lebih suka kerja saja di Purwokerto. Aku menerima usulan ayahku asalkan sekolah di SMA (sekarang SMU) dan tidak di kampung.
Dia memberi alamat adik misannya yang telah sukses dan tinggal di bilangan Tebet, Jakarta. Ayahku sangat jarang berhubungan dengan adik misannya itu. Paling hanya beberapa kali melalui surat, karena telepon belum masuk ke desaku. Kabar terakhir yang aku dengar dari ayahku, adik misannya itu, sebut saja Oom Ton, punya usaha sendiri dan sukses, sudah berkeluarga dengan satu anak lelaki umur 4 tahun dan berkecukupan. Rumahnya lumayan besar. Jadi, dengan berbekal alamat, dua pasang pakaian, dan uang sekedarnya, aku berangkat ke Jakarta. Satu-satunya petunjuk yang aku punyai: naik KA pagi dari Purwokerto dan turun di stasiun Manggarai. Tebet tak jauh dari stasiun ini. Stasiun Manggarai, pukul 15.20 siang aku dicekam kebingungan. Begitu banyak manusia dan kendaraan berlalu lalang, sangat jauh berbeda dengan suasana desaku yang sepi dan hening. Singkat cerita, setelah ?berjuang? hampir 3 jam, tanya ke sana kemari, dua kali naik mikrolet (sekali salah naik), sekali naik ojek yang mahalnya bukan main, sampailah aku pada sebuah rumah besar dengan taman yang asri yang cocok dengan alamat yang kubawa.
Berdebar-debar aku masuki pintu pagar yang sedikit terbuka, ketok pintu dan menunggu. Seorang wanita muda, berkulit bersih, dan .. ya ampun, menurutku cantik sekali (mungkin di desaku tidak ada wanita cantik), berdiri di depanku memandang dengan sedikit curiga. Setelah aku jelaskan asal-usulku, wajahnya berubah cerah. ?Tarto, ya ? Ayo masuk, masuk. Kenalkan, saya Tantemu.? Dengan gugup aku menyambut tangannya yang terjulur. Tangan itu halus sekali. ?Tadinya Oom Ton mau jemput ke Manggarai, tapi ada acara mendadak. Tante engga sangka kamu sudah sebesar ini. Naik apa tadi, nyasar, ya ?? Cecarnya dengan ramah. ?Maaar, bikin minuman!? teriaknya kemudian. Tak berapa lama datang seorang wanita muda meletakkan minuman ke meja dengan penuh hormat. Wanita ini ternyata pembantu, aku kira keponakan atau anggota keluarga lainnya, sebab terlalu ?trendy? gaya pakaiannya untuk seorang pembantu. Sungguh aku tak menduga sambutan yang begitu ramah. Menurut cerita yang aku dengar, orang Jakarta terkenal individualis, tidak ramah dengan orang asing, antar tetangga tak saling kenal. Tapi wanita tadi, isteri Oomku, Tante Yani namanya (?Panggil saja Tante,? katanya akrab) ramah, cantik lagi. Tentu karena aku sudah dikenalkannya oleh Oom Ton. Aku diberi kamar sendiri, walaupun agak di belakang tapi masih di rumah utama, dekat dengan ruang keluarga. Kamarku ada AC-nya, memang seluruh ruang yang ada di rumah utama ber-AC. Ini suatu kemewahan bagiku. Dipanku ada kasur yang empuk dan selimut tebal. Walaupun AC-nya cukup dingin, rasanya aku tak memerlukan selimut tebal itu. Mungkin aku cukup menggunakan sprei putih tipis yang di lemari itu untuk selimut. Rumah di desaku cukup dingin karena letaknya di kaki gunung, aku tak pernah pakai selimut, tidur di dipan kayu hanya beralas tikar. Aku diberi ?kewenangan? untuk mengatur kamarku sendiri. Aku masih merasa canggung berada di rumah mewah ini. Petang itu aku tak tahu apa yang musti kukerjakan. Selesai beres-beres kamar, aku hanya bengong saja di kamar. ?Too, sini, jangan ngumpet aja di kamar,? Tante memanggilku. Aku ke ruang keluarga. Tante sedang duduk di sofa nonton TV.
Sudah lapar, To ?? ?Belum Tante.? Sore tadi aku makan kue-kue yang disediakan Si Mar. ?Kita nunggu Oom Ton ya, nanti kita makan malam bersama-sama.? Oom Ton pulang kantor sekitar jam 19 lewat. ?Selamat malam, Oom,? sapaku. ?Eh, Ini Tarto ? Udah gede kamu.? ?Iya Oom.? ?Gimana kabarnya Mas Kardi dan Yu Siti,? Oom menanyakan ayah dan ibuku. ?Baik-baik saja Oom.? Di meja makan Oom banyak bercerita tentang rencana sekolahku di Jakarta. Aku akan didaftarkan ke SMA Negeri yang dekat rumah. Aku juga diminta untuk menjaga rumah sebab Oom kadang-kadang harus ke Bandung atau Surabaya mengurusi bisnisnya. ?Iya, saya kadang-kadang takut juga engga ada laki-laki di rumah,? timpal Tante. ?Berapa umurmu sekarang, To ?? ?Dua bulan lagi saya 16 tahun, Oom.? ?Badanmu engga sesuai umurmu.? *** Hari-hari baruku dimulai. Aku diterima di SMA Negeri 26 Tebet, tak jauh dari rumah Oom dan Tanteku. Ke sekolah cukup berjalan kaki. Aku memang belum sepenuhnya dapat melepas kecanggunganku. Bayangkan, orang udik yang kuper tamatan ST (setingkat SLTP) sekarang sekolah di SMA metropolitan.
Kawan sekolah yang biasanya lelaki melulu, kini banyak teman wanita, dan beberapa diantaranya cantik-cantik. Cantik ? Ya, sejak aku di Jakarta ini jadi tahu mana wanita yang dianggap cantik, tentunya menurut ukuranku. Dan tanteku, Tante Yani, isteri Oom Ton menurutku paling cantik, dibandingkan dengan kawan-kawan sekolahku, dibanding dengan tante sebelah kiri rumah, atau gadis (mahasiswi ?) tiga rumah ke kanan. Cepat-cepat kuusir bayangan wajah tanteku yang tiba-tiba muncul. Tak baik membayangkan wajah tante sendiri. Pada umumnya teman-teman sekolahku baik, walaupun kadang-kadang mereka memanggilku ?Jawa?, atau meledek cara bicaraku yang mereka sebut ?medok?. Tak apalah, tapi saya minta mereka panggil saja Tarto. Alasanku, kalau memanggil ?Jawa?, toh orang Jawa di sekolah itu bukan hanya aku. Mereka akhirnya mau menerima usulanku. Terus terang aku di kelas menjadi cepat populer, bukan karena aku pandai bergaul. Dibandingkan teman satu kelas tubuhku paling tinggi dan paling besar. Bukan sombong, aku juga termasuk murid yang pintar.
Aku memang serius kalau belajar, kegemaranku membaca menunjang pengetahuanku. Kegemaranku membaca inilah yang mendorongku bongkar-bongkar isi rak buku di kamarku di suatu siang pulang sekolah. Rak buku ini milik Oom Ton. Nah, di antara tumpukan buku, aku menemukan selembar majalah bergambar, namanya Popular. Rupanya penemuan majalah inilah merupakan titik awalku belajar mandiri tentang wanita. Tidak sendiri sebetulnya, sebab ada ?guru? yang diam-diam membimbingku. Kelak di kemudian hari aku baru tahu tentang ?guru? itu. Majalah itu banyak memuat gambar-gambar wanita yang bagus, maksudnya bagus kualitas fotonya dan modelnya. Dengan berdebar-debar satu-persatu kutelusuri halaman demi halaman. Ini memang majalah hiburan khusus pria. Semua model yang nampang di majalah itu pakaiannya terbuka dan seronok. Ada yang pakai rok demikian pendeknya sehingga hampir seluruh pahanya terlihat, dan mulus. Ada yang pakai blus rendah dan membungkuk memperlihatkan bagian belahan buah dada. Dan, ini yang membuat jantungku keras berdegup : memakai T-shirt yang basah karena disiram, sementara dalamnya tidak ada apa-apa lagi.
Samar-samar bentuk sepasang buah kembar kelihatan. Oh, begini tho bentuk tubuh wanita. Dasarnya aku sangat jarang ketemu wanita. Kalau ketemu-pun wanita desa atau embok-embok, dan yang aku lihat hanya bagian wajah. Bagaimana aku tidak deg-deg-an baru pertama kali melihat gambar tubuh wanita, walaupun hanya gambar paha dan sebagian atas dada. Sejak ketemu majalah Popular itu aku jadi lain jika memandang wanita teman kelasku. Tidak hanya wajahnya yang kulihat, tapi kaki, paha dan dadanya ?kuteliti?. Si Rika yang selama ini aku nilai wajahnya lumayan dan putih, kalau ia duduk menyilangkan kakinya ternyata memiliki paha mulus agak mirip foto di majalah itu. Memang hanya sebagian paha bawah saja yang kelihatan, tapi cukup membuatku tegang. Ya tegang. ?Adikku? jadi keras! Sebetulnya penisku menjadi tegang itu sudah biasa setiap pagi. Tapi ini tegang karena melihat paha mulus Rika adalah pengalaman baru bagiku. Sayangnya dada Rika tipis-tipis saja. Yang dadanya besar si Ani, demikian menonjol ke depan.
Memang ia sedikit agak gemuk. Aku sering mencuri pandang ke belahan kemejanya. Dari samping terkadang terbuka sedikit memperlihatkan bagian dadanya di sebelah kutang. Walau terlihat sedikit cukup membuatku ?ngaceng?. Sayangnya, kaki Ani tak begitu bagus, agak besar. Aku lalu membayangkan bagaimana bentuk dada Ani seutuhnya, ah ngaceng lagi! Atau si Yuli. Badannya biasa-biasa saja, paha dan kaki lumayan berbentuk, dadanya menonjol wajar, tapi aku senang melihat wajahnya yang manis, apalagi senyumnya. Satu lagi, kalau ia bercerita, tangannya ikut ?sibuk?. Maksudku kadang mencubit, menepuk, memukul, dan, ini dia, semua roknya berpotongan agak pendek. Ah, aku sekarang punya ?wawasan? lain kalau memandang teman-teman cewe. Ah! Tante Yani! Ya, kenapa selama ini aku belum ?melihat dengan cara lain?? Mungkin karena ia isteri Oomku, orang yang aku hormati, yang membiayai hidupku, sekolahku. Mana berani aku ?menggodanya? meskipun hanya dari cara memandang. Sampai detik ini aku melihat Tante Yani sebagai : wajahnya putih bersih dan cantik. Tapi dasar setan selalu menggoda manusia, bagaimana tubuhnya ?
Ah, aku jadi pengin cepat-cepat pulang sekolah untuk ?meneliti? Tanteku. Jangan ah, aku menghormati Tanteku. Aduh! Kenapa begini ? Apanya yang begini ? Tante Yani! Seperti biasa, kalau pulang aku masuk dari pintu pagar langsung ke garasi, lalu masuk dari pintu samping rumah ke ruang keluarga di tengah-tengah rumah. Melewati ruang keluarga, sedikit ke belakang sampai ke kamarku. Isi ruang keluarga ini dapat kugambarkan : di tengahnya terhampar karpet tebal yang empuk yang biasa digunakan tante untuk membaca sambil rebahan, atau sedang dipijit Si Mar kalau habis senam. Agak di belakang ada satu set sofa dan pesawat TV di seberangnya. Sewaktu melewati ruang keluarga, aku menjumpai Tante Yani duduk di kursi dekat TV menyilang kaki sedang menyulam, berpakaian model kimono. Duduknya persis si Rika tadi pagi, cuma kaki Tante jauh lebih indah dari Rika. Putih, bersih, panjang, di betis bawahnya dihiasi bulu-bulu halus ke atas sampai paha. Ya, paha, dengan cara duduk menyilang, tanpa disadari Tante belahan kimononya tersingkap hingga ke bagian paha agak atas. Tanpa sengaja pula aku jadi tahu bahwa tante memiliki paha selain putih bersih juga berbulu lembut. Sejenak aku terpana, dan lagi-lagi tegang. Untung aku cepat sadar dan untung lagi Tante begitu asyik menyulam sehingga tidak melihat ulah keponakannya yang dengan kurang ajar ?memeriksa? pahanya. Ah, kacau. Sebenarnya tidak sekali ini aku melihat Tante memakai kimono. Kenapa aku tadi terangsang mungkin karena ?penghayatan? yang lain, gara-gara majalah itu. Selesai makan ada dorongan aku ingin ke ruang tengah, meneruskan ?penelitianku? tadi. Aku ada alasan lain tentu saja, nonton TV swasta, hal baru bagiku. Mungkin aku mulai kurang ajar : mengambil posisi duduk di sofa nonton TV tepat di depan Tante, searah-pandang kalau mengamati pahanya! ?Gimana sekolahmu tadi To ?? tanya Tante tiba-tiba yang sempat membuatku kaget sebab sedang memperhatikan bulu-bulu kakinya. ?Biasa-biasa saja Tante.? ?Biasa gimana ? Ada kesulitan engga ?? ?Engga Tante.? ?Udah banyak dapat kawan ?? ?Banyak, kawan sekelas.? ?Kalau kamu pengin main lihat-lihat kota, silakan aja.?
Terima kasih, Tante. Saya belum hafal angkutannya.? ?Harus dicoba, yah nyasar-nyasar dikit engga apa-apa, toh kamu tahu jalan pulang.? ?Iya Tante, mungkin hari Minggu saya akan coba.? ?Kalau perlu apa-apa, uang jajan misalnya atau perlu beli apa, ngomong aja sama Tante, engga usah malu-malu.? Gimana kurang baiknya Tanteku ini, keponakannya saja yang nakal. Nakal ? Ah ?kan cuma dalam pikiran saja, lagi pula hanya ?meneliti? kaki yang tanpa sengaja terlihat, apa salahnya. ?Terima kasih Tante, uang yang kemarin masih ada kok.? ?Emang kamu engga jajan di sekolah ?? Berdesir darahku. Sambil mengucapkan ?jajan? tadi Tante mengubah posisi kakinya sehingga sekejap, tak sampai sedetik, sempat terlihat warna merah jambu celana dalamnya! Aku berusaha keras menenangkan diri. ?Jajan juga sih, hanya minuman dan makanan kecil.? Akupun ikut-ikutan mengubah posisi, ada sesuatu yang mengganjal di dalam celanaku. Untung Tante tidak memperhatikan perubahan wajahku. Sepanjang siang ini aku bukannya nonton TV. Mataku lebih sering ke arah Tante, terutama bagian bawahnya! Hari-hari berikutnya tak ada kejadian istimewa.
Rutin saja, sekolah, makan siang, nonton TV, sesekali melirik kaki Tante. Oom Ton pulang kantor selalu malam hari. Saat ketemu Oomku hanya pada makan malam, bertiga. Si Luki, anak lelakinya 4 tahun biasanya sudah tidur. Kalau Luki sudah tidur, Tinah, pengasuhnya pamitan pulang. Pada acara makan malam ini, sebetulnya aku punya kesempatan untuk menikmati? (cuma dengan mata) paha mulus berbulu Tante, sebab malam ini ia memakai rok pendek, biasanya memakai daster. Tapi mana berani aku menatap pemandangan indah ini di depan Oom. Betapa bahagianya mereka menurut pandanganku. Oom tamat sekolahnya, punya usaha sendiri yang sukses, punya isteri yang cantik, putih, mulus. Anak hanya satu. Punya sopir, seorang pembantu, Si Mar dan seorang baby sitter Si Tinah. Sopir dan baby sitter tidak menginap, hanya pembantu yang punya kamar di belakang. Praktis Tante Yani banyak waktu luang. Anak ada yang mengasuh, pekerjaan rumah tangga beres ditangan pembantu. Oh ya, ada seorang lagi, pengurus taman biasa di panggil Mang Karna, sudah agak tua yang datang sewaktu-waktu, tidak tiap hari. Keesokkan harinya ada kejadian
penting? yang perlu kuceritakan. Pagi-pagi ketika aku sedang menyusun buku-buku yang akan kubawa ke sekolah, ada beberapa lembar halaman yang mungkin lepasan atau sobekan dari majalah luar negeri terselip di antara buku-buku pelajaranku. Aku belum sempat mengamati lembaran itu, karena buru-buru mau berangkat takut telat. Di sekolah pikiranku sempat terganggu ingat sobekan majalah berbahasa Inggris itu, milik siapa ? Tadi pagi sekilas kulihat ada gambarnya wanita hanya memakai celana jean tak berbaju. Inilah yang mengganggu pikiranku. Sempat kubayangkan, bagaimana kalau Ani hanya memakai jean. Kaki dan pahanya yang kurang bagus tertutup, sementara bulatan dadanya yang besar terlihat jelas. Ah.. nakal kamu To! Pulang sekolah tidak seperti biasa aku tidak langsung ke meja makan, tapi ngumpet di kamarku. Pintu kamar kukunci dan mulai mengamati sobekan majalah itu. Ada 4 lembar, kebanyakan tulisan yang tentu saja tidak kubaca. Aku belum paham Bahasa Inggris. Di setiap pojok bawah lembaran itu tertulis: Penthouse. Langsung saja ke gambar.
Gemetaran aku dibuatnya. Wanita bule, berpose membusungkan dadanya yang besar, putih, mulus, dan terbuka seluruhnya! Paha dan kakinya meskipun tertutup jean ketat, tapi punya bentuk yang indah, panjang, persis kaki milik Tante. Hah, kenapa aku jadi membandingkan dengan tubuh Tante ? Peduli amat, tapi itulah yang terbayang. Kenapa aku sebut kejadian penting, karena baru sekaranglah aku tahu bentuk utuh sepasang buah dada, meskipun hanya dari foto. Bulat, di tengah ada bulatan kecil warna coklat, dan di tengah-tengah bulatan ada ujungnya yang menonjol keluar. Segera saja tubuhku berreaksi, penisku tegang, dada berdebar-debar. Halaman berikutnya membuatku lemas, mungkin belum makan. Masih wanita bule yang tadi tapi sekarang di close-up. Buah dadanya makin jelas, sampai ke pori-porinya. Ini kesempatanku untuk ?mempelajari? anatomi buah kembar itu. Dari atas kulit itu bergerak naik, sampai puting yang merupakan puncaknya, kemudian turun lagi ?membulat?. Ya, beginilah bentuk buah dada wanita. Putingnya, apakah selalu menonjol keluar seperti menunjuk ke depan ? Jawabannya baru tahu kelak kemudian hari ketika aku ?praktek?.
Tiba-tiba terlintas pikiran nakal, Tante Yani! Bagaimana ya bentuk buah dada Tanteku itu ? Ah, kenapa selama ini aku tak memperhatikannya. Asyik lihat ke bawah terus sih! Memang kesempatannya baru lihat paha. Kimono Tante waktu itu, kalau tak salah, tertutup sampai dibawah lehernya. Tapi ?kan bisa lihat bentuk luarnya. Ah, memang mataku tak sampai kesitu. Melihat bentuk paha dan kaki cewe bule ini mirip milik Tante, aku rasa bentuk dadanyapun tak jauh berbeda, begitu aku mencoba memperkirakan. Begitu banyak aku berdialog dengan diri sendiri tentang buah dada. Begitu banyak pertanyaan yang bermuara pada pertanyaan inti : Bagaimana bentuk buah dada Tanteku yang cantik itu ? Untungnya, atau celakanya, pertanyaanku itu segera mendapat jawaban, di meja makan. Di pertengahan makan siangku, Tante muncul istimewa. Mengenakan baju-mandi, baju mirip kimono tapi pendek dari bahan seperti handuk tapi lebih tipis warna putih dan ada pengikat di pinggangnya. Tante kelihatan lain siang itu, segar, cerah. Kelihatannya baru selesai mandi dan keramas, sebab rambutnya diikat handuk ke atas mirip ikat kepala para syeh. ?Oh, kamu sudah pulang, engga kedengaran masuknya,? sapanya ramah sambil berjalan menuju ke tempatku. ?Dari tadi Tante,? jawabku singkat. Ia berhenti, berdiri tak jauh dari dudukku. Kedua tangannya ke atas membenahi handuk di rambutnya. Posisi tubuh Tante yang beginilah memberi jawaban atas pertanyaanku tadi. Luar biasa! Besar juga buah dada Tante ini, persis seperti perkiraanku tadi, bentuknya mirip punya cewe bule di Penthouse tadi. Meskipun aku melihatnya masih ?terbungkus? baju-mandi, tapi jelas alurnya, bulat menonjol ke depan. Di bagian kanan baju mandinya rupanya ada yang basah, ini makin mempertegas bentuk buah indah itu. Samar-samar aku bisa melihat lingkaran kecil di tengahnya. Sehabis mandi mungkin hanya baju-mandi itu saja yang membungkus tubuhnya sekarang. Bawahnya aku tak tahu. Bawahnya! Ya, aku melupakan pahanya. Segera saja mataku turun. Kini lebih jelas, bulu-bulu lembut di pahanya seperti diatur, berbaris rapi.
Ah aku sekarang lagi tergila-gila buah dada. Pandanganku ke atas lagi. Mudah-mudahan ia tak melihatku melahap (dengan mata) tubuhnya. Memang ia tidak memperhatikanku, pandangannya ke arah lain masih terus asyik merapikan rambutnya. Tapi aku tak bisa berlama-lama begini, disamping takut ketahuan, lagipula aku ?kan sedang makan. Kuteruskan makanku. Bagaimana reaksi tubuhku, susah diceritakan. Yang jelas kelaminku tegang luar biasa. Tiba-tiba ia menarik kursi makan di sebelahku dan duduk. Ah, wangi tubuhnya terhirup olehku. ?Makan yang banyak, tambah lagi tuh ayamnya.? Bagaimana mau makan banyak, kalau ?diganggu? seperti ini. Aku mengiakan saja. Rupanya ?gangguan nikmat? belum selesai. Aku duduk menghadap ke utara. Di dekatku duduk si Badan-sintal yang habis mandi, menghadap ke timur. Aku bebas melihat tubuhnya dari samping kiri. Ia menundukkan kepalanya dan mengurai rambutnya ke depan. Dengan posisi seperti ini, badan agak membungkuk ke depan dan satu-satunya pengikat baju ada di pinggang, dengan serta merta baju mandinya terbelah dan menampakkan pemandangan yang bukan main. Buah dada kirinya dapat kulihat dari samping dengan jelas. Ampun.. putihnya, dan membulat. Kalau aku menggeser kepalaku agak ke kiri, mungkin aku bisa melihat putingnya. Tapi ini sih ketahuan banget. Jangan sampai. Betapa tersiksanya aku siang ini. Tersiksa tapi nikmat! Oh Tuhan, janganlah aku Kau beri siksa yang begini. Aku khawatir tak sanggup menahan diri. Rasa-rasanya tanganku ingin menelusup ke belahan baju mandi ini lalu meremas buah putih itu? Kalau itu terjadi, bisa-bisa aku dipulangkan, dan hilanglah kesempatanku meraih masa depan yang lebih baik. Apa yang kubilang pada ayahku ? Dapat kupastikan ia marah besar, dan artinya, kiamat bagiku. Untung, atau sialnya, Tante cepat bangkit menuju ke kamar sambil menukas: ?Teruskan ya makannya.? ?Ya Tante,? sahutku masih gemetaran. Aah., aku menemukan sesuatu lagi. Aku mengamati Tante berjalan ke kamarnya dari belakang, gerakan pinggulnya indah sekali.
Pinggul yang tak begitu lebar, tapi pantatnya demikian menonjol ke belakang. Tubuh ideal, memang. Malamnya aku disuruh makan duluan sendiri. Tante menunggu Oom yang telat pulang malam ini. Masih terbayang kejadian siang tadi bagaimana aku menikmati pemandangan dada Tante yang membuat aku tak begitu selera makan. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan Tante yang muncul dari kamarnya. Masih mengenakan baju-mandi yang tadi, rambutnya juga masih diikat handuk. Langsung ia duduk disebelahku persis di kursi yang tadi. Belum habis rasa kagetku, tiba-tiba pula ia pindah dan duduk di pangkuanku! Bayangkan pembaca, bagaimana nervous-nya aku. Yang jelas penisku langsung mengeras merasakan tindihan pantat Tante yang padat. Disingkirkannya piringku, memegang tangan kiriku dan dituntunnya menyelinap ke belahan baju-mandinya. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kuremas dadanya dengan gemas. Hangat, padat dan lembut. Tantepun menggoyang pantatnya, terasa enak di kelaminku.
Goyangan makin cepat, aku jadi merasa geli di ujung penisku. Rasa geli makin meningkat dan meningkat, dan .. Aaaaah, aku merasakan nikmat yang belum pernah kualami, dan eh, ada sesuatu terasa keluar berbarengan rasa nikmat tadi, seperti pipis dan? aku terbangun. Sialan! Cuma mimpi rupanya. Masa memimpikan Tante, aku jadi malu sendiri. Kejadian siang tadi begitu membekas sampai terbawa mimpi. Eh, celanaku basah. Mana mungkin aku ngompol. Lalu apa dong ? Cepat-cepat aku periksa. Memang aku ngompol! Tapi tunggu dulu, kok airnya lain, lengket-lengket agak kental. Ah, kenapa pula aku ini ? Apa yang terjadi denganku ? Besok coba aku tanya pada Oom. Gila apa! Jangan sama Oom dong. Lalu tanya kepada Tante, tak mungkin juga. Coba ada Mas Joko, kakak kelasku di ST dulu. Mungkin teman sekolahku ada yang tahu, besok aku tanyakan. *** Esoknya aku ceritakan hal itu kepada Dito teman paling dekat. Sudah barang tentu kisahnya aku modifikasi, bukan Tante yang duduk di pangkuanku, tapi ?seseorang yang tak kukenal?. ?Kamu baru mengalami tadi malam ?? ?Ya, tadi malam.? ?Telat banget.
Aku sudah mengalami sewaktu kelas 2 SMP, dua tahun lalu. Itu namanya mimpi basah.? ?Mimpi basah ?? ?Ya. Itu tandanya kamu mulai dewasa, sudah aqil-baliq. Lho, emangnya kamu belum pernah dengar ?? Malu juga aku dibilang telat dan belum tahu mimpi basah. Tapi juga ada rasa sedikit bangga, aku mulai dewasa! ?Rupanya kamu badan aja yang gede, pikiran masih anak-anak.? Ah biar saja. Beberapa hari sebelum mimpi basah itu toh aku sudah ?menghayati? wanita sebagai orang dewasa! ?Kamu punya pacar ?? ?Engga.? ?Atau pernah pacaran ?? ?Engga juga.? ?Pantesan telat kalau begitu. Waktu kelas 3 SMP aku punya pacar, teman sekelas. Enak deh, sekolah jadi semangat.? ?Kalau pacaran ngapain aja sih ?? tanyaku lugu. Memang betul aku belum tahu tentang pacaran. Tentang wanitapun aku baru tahu beberapa hari lalu. ?Ha.. ha.. ha.! Kampungan lu! Ya tergantung orangnya. Kalau aku sih paling-paling ciuman, raba-raba, udah. Kalau si Ricky kelewatan, sampai pacarnya hamil.? Ciuman, raba-raba. Aku pernah lihat orang ciuman di filem TV, enak juga kelihatannya, belum pernah aku membayangkan. Kalau meraba, pernah kubayangkan meremas dada Tante. ?Hamil ?? Pelajaran baru nih. ?Ada juga yang sampai ?gitu? tapi engga hamil. Engga tahu aku caranya gimana.? ?Gitu gimana ?? ?Kamu betul-betul engga tahu ?? Lalu ia cerita bagaimana hubungan kelamin itu. Dengan bisik-bisik tentunya. Aku jadi tegang. Pantaslah aku dibilang kampungan, memang betul-betul baru tahu saat ini. Kelamin lelaki masuk ke kelamin wanita, keluar bibit manusia, lalu hamil. Bibit! Mungkin yang keluar dari kelaminku semalam adalah bibit manusia. Bagaimana mungkin kelaminku sebesar ini bisa masuk ke lubang pipis wanita ? Sebesar apa lubangnya, dan di mana ? Yang pernah aku lihat kelamin wanita itu kecil, berbentuk segitiga terbalik dan ada belahan kecil di ujung bawahnya. Tapi yang kulihat dulu itu di desa adalah kelamin anak-anak perempuan yang sedang mandi di pancuran. Kelamin wanita dewasa sama sekali aku belum pernah lihat. Bagaimana bentuknya ya ? Mungkin segitiganya lebih besar.
Bersambung . . . . . .
Perselingkuhan abad ini
Sebetulnya saya setengah percaya setengah tidak dengan cerita di situs ini. Rasanya kok gampang sekali, dapat cewek dan langsung bisa ML. Bagaimanapun, Rumah Seks termasuk situs favorit yang minimal seminggu sekali saya baca sejak awal 2001. Saya punya cerita asli yang kalau masuk tabloid atau majalah (khususnya gosip tentang musik) bisa bikin heboh.
Awal 1990, saya kuliah di Universitas Nagri di Surabaya. Saya punya pacar bernama Dini yang umurnya tiga tahun dibawah saya. Kami pacaran lumayan lama, sekitar 4 tahun. Bodinya seksi, cantik dan pintar. Terus terang banyak teman yang cemburu, soalnya saya waktu itu gondrong, kumel dan metal. Maklum gitaris band rock amatiran. Biarpun begitu, rata-rata teman se-band saya sekarang sudah top dan sering tampil di TV. Sebutin saja 3 grup musik asal Surabaya, bukannya sombong, 10 tahun lalu mereka penah ngeband bersama saya. Dini putus sejak saya kembali ke Jakarta (1994) dan bekerja di bank swasta. Saya sendiri akhirnya dapat pengganti Dini, dan sudah menikah sejak 1999 lalu.
Tidak disangka, Juli 2001 saya bertemu dengannya. Ternyata ia sudah menikah dengan teman band saya. Saya tidak akan menyebutkan nama band-nya, yang jelas mereka sekarang nomor satu dan baru konser bersama grup Inggris di Senayan. Kami pun mengobrol bersama (sama suaminya juga) dan bercerita masa lalu. Mereka tinggal di Bekasi, sedang saya di kawasan Jakarta Selatan. Periode Agustus-September, band mereka tur keliling Indonesia. Waktu itu Dini sedang hamil 5 bulan dan ia tidak mau tinggal sendirian, ia menginap di markas band, yang jaraknya hanya 5 km dari rumah saya, tentu saja ada beberapa kru band yang menemaninya.
Saya pun rajin datang, bukannya ngelaba, tapi asyik ngobrol tentang band dan alat musik bersama krunya. Dini kadang ikutan, tapi lebih sering di kamar nonton VCD. Kejadiannya seminggu kemudian. Krunya terpaksa menyusul band ke Palu (Sulawesi), sebab panitia di sana 'bloon' tidak mengerti mengeset alat plus panggung. Karena sendirian lagi, saya mengajak Dini menginap di rumah. Toh istri saya sudah kenal dengannya dan suaminya. Oh ya, istri saya tidak tahu kalau Dini itu mantan saya.
Waktu itu Rabu malam. Istri saya sejak pagi ke rumah orangtuanya, sebab ayahnya sakit (padahal hanya kangen) dan baru pulang Kamis siang. Saya dan Dini pun mengobrol lagi sambil nonton VIP yang diputar di AXN.
"Kamu masih seneng cewek yang toketnya segede Pamela Anderson..?" tanya Dini iseng.
"Seneng sih, asal kenceng. Cuma kalau kegedean malah ngeri..," jawab saya cuek sambil menyalakan laptop.
"Eh katanya banyak situs porno Indonesia ya..? Bukain dong..!" ujarnya tiba-tiba.
"Entar kalau kepingin gimana..? Banyak setan lewat lo..," jawab saya.
"Udah deh.., bukain dulu..!"
Saya tahu Dini dulu termasuk yang punya nafsu besar dalam sex. Jaman pacaran, kami rajin menonton BF bersama supaya menambah pengetahuan. Saya pun membukakan Rumah Seks, dan saya membiarkan dia membaca sendiri. Setengah jam kemudian rautnya sudah berubah merah padam.
"Emang bener ada kisah asli kaya gini..?" tanya Dini.
"Lu mau bikin cerita..?" tantang saya.
"Gua nggak bisa ngarang," lanjutnya sambil tangannya menggaruk-garuk selangkangan.
Jangan ngeres dulu, doi pakai long dress ibu-ibu hamil. Dia menggaruk karena memang gatal. Tidak banyak bicara, saya langsung duduk di sebelahnya, dan pura-pura membaca bersama sambil menempelkan ke pipinya.
"Andi, gua bisa horny nih. Tolongin, ya.. tapi janji lo jangan bilang siapa-siapa.."
Jawabannya hanya satu, "Beres.."
Saya pun mengusap pahanya sambil mencium pipinya. Eh, dia malah kasih bibir dan melumat lidah saya. Wah, masih galak juga nih anak.
"Ndi, si Roni (suaminya) udah 3 bulan tak mau main. Padahal lu tahu sendiri, orang hamil kan nafsunya gede," kata Dini sambil menggosok celana pendek saya.
Biarpun hamil, body Dini masih cihuy. Kulitnya seputih salju dan susunya lumayan kencang, tidak terlalu besar. Kami pun berpagutan sambil mencopot baju masing-masing.
"Ndi, jangan kaget, ya.." bilang Dini pelan sambil melolosi longdresnya.
Ternyata ia tidak memakai celana dalam.
"Soalnya dari tadi aku udah 5 kali pipis (katanya sih bawaan orang hamil) jadi males pakai. Lagian, lu kan nggak nafsu ama ibu hamil." jawabannya kali ini salah.
Melihat pemandangan itu sangat menggiurkan. Bayangkan, perutnya membuncit dan bulu kemaluannya bertaburan lebat. Padahal dulu saya paling tidak mau kalau melihat cewek gendut, apalagi berbulu lebat. Ternyata seksi sekali.
"Ndi, gua susah posisi macem-macem. Standar aja ya..,"
Saya berdiri dan ia duduk di karpet sambil menghisap batang kemaluan saya.
"Gila nih barang. Ditinggal 9 tahun malah tambah gede," katanya diiringi suara slurp.., slurp.
Saya tidak dapat menjawab, hanya merem melek keenakan. Dari belasan cewek yang pernah saya tiduri, Dini adalah 'the best sucker'. Hisapannya lebih kencang dari vacuum cleaner.
Sepuluh menit kemudian giliran saya menyapu. Bulu kemaluannya yang lebat dan tebal ternyata membuat batang kejantanan saya semakin tegang. Posisi saya yang jongkok mendapat pemandangan baru, hutan lebat dengan perbukitan plus gunung kembar. Perutnya yang hamil 5 bulan ternyata membuat sensasi tambahan. Lidah saya pun menerobos bibir vaginanya dan mengenai bagian dalam.
"Aduuh.., itilku kena, terus, jangan ditarik..!" kata Dini sambil tangannya menjambak rambut saya.
Hanya lima menit kemudian ia berteriak, "Ndi.., mau keluar nih. Telan ya..!"
Saya jilat cairan yang membasahi vaginanya.
"Gilaa, enak bener. Nyesel nih gua putusin elu," teriak Dini sambil bersandar di sofa.
"Tunggu setengah jam, ya.. Ndi. Entar gantian elu gua puasin."
Kami pun kembali membaca Rumah Seks, com sambil ngemil Pringles, makanan favorit kami zaman dulu.
"Ndra, lagi dong, cepetan..! Entar istrilu dateng, berabe kan..?"
Kami pindah ke ruang tamu. Kami dulu suka eksperimen di berbagai lokasi. Dapur, taman, loteng, bioskop dan lain-lain. Dini ternyata punya cara baru. Ia menari erotis diiringi lagu Samba Pati-nya Santana. Kemudian menarik kepala saya dan dipaksa menghisap payudaranya. Awalnya enak benar, lama-lama kok ada yang aneh. Tahunya, menetes ASI!
"Gua kan hamil, ya.. keluar dong. Rasanya enak bener kalau keluar. Gua sering maen pakai alat pengisap ASI sambil onani," kata Dini tanpa ditanya.
Ia kemudian mendorong wajah saya dan memencet putingnya hingga ASI menyemprot deras ke wajah saya. Persis seperti gambar di websites lactating. Kemudian ia tiduran dan batang kemaluan saya dijepit di antara payudaranya yang masih menetes susu. Waduh, sensasinya luar biasa. Lalu inilah yang ditunggu. batang kemaluan saya digenggam kencang dan seakan dipaksa masuk liang vaginanya.
"Goyang, Ndi, yang keras kaya dulu..!"
Ternyata vagina cewek hamil itu lebih kencang ketimbang biasa, batang kemaluan saya serasa dipijat.
Selama melakukan senggama, Dini masih mengarahkan putingnya ke wajah saya, hingga susunya menciprati mata. Hampir 20 menit kami bergulat di karpet ruang tamu.
"Ndi, jangan berhenti. Lu tunggu semenit lagi, dan rasain ya..!"
Saya kira dia mau keluar lagi. Tiba-tiba terasa penis saya basah. Dini kencing!
"Ndi, jangan dicabut, please.. Gua baru sekarang nih kesampaian."
Ternyata Dini ingin bersenggama sambil kencing. Saya pernah baca di buku 'rahasia memuaskan suami' teknik ini. Memang hebat. Kalian pada cobain deh. Nafsu saya tidak tahan merasakan sensasi ini.
"Gua mau keluar Din. Di dalam apa dimana..?" tanya saya tersengal-sengal.
"Di tetekku aja. Biar kulitnya halus dan kencang."
Saya cabut batang kemaluan saya dan sama tangannya langsung dijepit ke tengah payudaranya. Beberapa detik kemudian, muncrat lah sperma saya membanjiri gunung kembarnya. Bayangkan posisinya teman. Kaki saya hampir patah, sebab saya berjinjit (Dini kan perutnya hamil) jadi tidak bisa telentang di atasnya.
Saya kira permainan telah selesai. Tapi Dini punya sesi tambahan. Batang kemaluan saya yang belepotan peju ditambahkan ASI yang terus-terusan diperas, kemudian diletakkan di dalam tangannya dan diminum. Saya yang bengong langsung ditarik dan kami berciuman.
"Biar adil. Gua minum peju, elu minum peju memek dan kita berdua dapat susu."
Kami kembali ke ruang tengah nonton TV sambil makan Pringles. Rasa asinnya dapat mengusir 'nek minum ASI dan sperma.
"Roni tak suka gaya macem-macem. Mungkin ia kebanyakan main sama fans ceweknya, jadi bosan. Ya.. ini pembalasannya. Cuma, gua cinta Roni," katanya kalem.
Saya hanya tersenyum, sebab saya tahu persis fans cewek grup ini banyak sekali. Waktu main di Senayan kemarin, saya kecipratan satu cewek SMA yang body-nya aduhai. Mereka menginap di hotel H yang mewah di Senayan, jadi mudah sekali mengajak fans-nya. Lagian itu hanya fans, pikir saya manajernya.
"Elu masih sering nonton BF nggak? Ini gaya sering gua baca di majalah K dan buku lain. Pingin nyobain, tapi gua kan bukan cewek gampangan. Lagian udah kawin," tukas Dini sambil mengelus batang kemaluan saya.
"Din, bentar ya.. gua mau kencing nih..!" kata saya.
"Eit.., ntar dulu. Kini giliran elu nyobain."
Ia kembali membuka vaginanya dan menarik batang penis saya.
"Masukkin terus pipis di dalem..!" perintahnya.
Saya pun menurut. Waduh rasanya lebih hebat daripada sperma muncrat.
"Enak kan..?" lanjutnya ringan.
Kemudian kami mandi air panas bersama dan tidur. Hanya saja ia tidur di kamar depan, saya di kamar saya. Daripada ketahuan istri bisa perang kaya USA vs Afganistan. Dan sekali lagi dugaan saya salah. Esoknya istri saya datang sambil tersenyum.
"Enak main ama Dini..?" tanyanya.
Saya awalnya tidak mau mengaku. Baru kemudian istri saya bilang, "Itu emang rencana kita. Dini udah minta izin. Makanya aku nginep di rumah bokap. Aku sih oke aja, asal nanti kita bisa main bertiga."
Saya hanya terbengong.
Baru saya ingat, ternyata istri saya waktu nonton BF tahun lalu bilang ingin threesome. Apakah itu ceweknya dua atau cowoknya dua.
Monday, July 8, 2013
Wawa Part 2
Melewati malam yang sudah hampir ke dinihari, aku tersedar dari lena kepuasan aku. Aku lihat Wawa masih lagi tidur mengiring dengan tangannya memeluk Faris manakala Faris tidur terlentang. Aku bangun dan duduk sambil melunjurkan kaki ku. Perlahan aku tatap wajah anak saudara ku, Wawa.
Terlihat diwajahnya raut kepuasan apabila nafsu keghairahan yang terbendung selama hampir 2 minggu terlepas juga akhirnya di zakar Faris. Aku tatap pula wajah suami ku, Faris. Lelaki hebat yang sekian lama bersama ku malah pernah hampir 10 kali bersama dengan perempuan lain yang ku kenali bertiga di atas katil. Kini, Wawa yang menjadi santapannya. Mungkin secara kebetulan.
Namun peluang sebegini sudah tentu aku dan Faris takkan lepaskan begitu saja. Begitu juga dengan aku. Yang pernah bersama Faris dan lelaki lain bertiga di ranjang permainan seks. Atau ertikata lain, threesome. Samada dengan 2 lelaki atau dengan 2 perempuan, telah banyak yang aku lalui bersama Faris, suami ku. Walaupun pemikiran kami begitu terbuka menerima keadaan sedemikian, namun hormat antara satu sama lain amat penting. Tiada perasaan cemburu atau sakit hati antara aku dan Faris. Semuanya telah terbuang jauh sewaktu memulakan aktiviti ini dulu. Semuanya tersimpan rapi dalam kotak ingatan aku dan Faris serta semua rahsia disimpan begitu cermat agar tidak terbongkar walau pada sesiapa pun.
Terlihat diwajahnya raut kepuasan apabila nafsu keghairahan yang terbendung selama hampir 2 minggu terlepas juga akhirnya di zakar Faris. Aku tatap pula wajah suami ku, Faris. Lelaki hebat yang sekian lama bersama ku malah pernah hampir 10 kali bersama dengan perempuan lain yang ku kenali bertiga di atas katil. Kini, Wawa yang menjadi santapannya. Mungkin secara kebetulan.
Namun peluang sebegini sudah tentu aku dan Faris takkan lepaskan begitu saja. Begitu juga dengan aku. Yang pernah bersama Faris dan lelaki lain bertiga di ranjang permainan seks. Atau ertikata lain, threesome. Samada dengan 2 lelaki atau dengan 2 perempuan, telah banyak yang aku lalui bersama Faris, suami ku. Walaupun pemikiran kami begitu terbuka menerima keadaan sedemikian, namun hormat antara satu sama lain amat penting. Tiada perasaan cemburu atau sakit hati antara aku dan Faris. Semuanya telah terbuang jauh sewaktu memulakan aktiviti ini dulu. Semuanya tersimpan rapi dalam kotak ingatan aku dan Faris serta semua rahsia disimpan begitu cermat agar tidak terbongkar walau pada sesiapa pun.
Aku memegang zakar Faris yang layu sambil mengurutnya perlahan. Sekejap saja zakar Faris mula menegang dan mengeras. Faris yang masih tidur bergerak perlahan seolah diulit mimpi. Aku rapatkan mulutku ke kepala zakar Faris dan menjilatnya. Aku larikan lidahku disekeliling takuk kepala zakar Faris. Faris menggeliat perlahan sambil menolak punggungnya ke atas seolah menikmati mimpi indahnya. Aku teruskan lagi menjilat dan mengulum kepala zakar Faris. Seketika kemudian zakarnya semakin keras dan berdenyut2 ku rasakan. Separuh zakarnya dalam mulutku dan aku mainkan lidahku di serata batang zakar Faris yang didalam mulut ku. Aku keluarkan dan aku masukkan semula dalam mulut ku. Semakin penuh mulutku dengan zakar Faris.
Semakin sendat zakarnya merapati anak tekak ku.Aku puas melakukan begitu pada zakar Faris. Faris berdesis tanpa disedarinya. Cuba melarikan zakarnya dari dalam mulutku. Kakinya sekali sekala ku lihat kejang lurus. Aku tahu dia kesedapan walaupun tanpa disedarinya. Itulah antara aktiviti ku diwaktu pagi setiap hari. Samada untuk mengejutkan Faris bangun setiap hari untuk bekerja ataupun untuk menyambung lagi aktiviti pada malam sebelumnya. Seronok melihat Faris menggeliat apabila zakarnya dihisap dan dikulum setiap pagi tanpa disedarinya. Kadang2 tu, Faris akan tersentak dan terjaga apabila aku mengigit manja kepala zakarnya. Dengan zakar yang menegang itulah, dia akan bangun dan menuju ke bilik air untuk mandi. Tapi pagi itu, bukan ke bilik air tujuannya aku menghisap zakar Faris. Selain menjadi kegemaranku setiap pagi, hari itu aku akan pastikan
Wawa menerima sekali lagi kehadiran zakar Faris dalam faraj nikmatnya. Setelah zakar Faris menegang dan terpacak, aku beralih ke sisi Wawa. Perlahan aku ramas buah dadanya sambil menarik badan Wawa agar terlentang. Wawa terjaga apabila aku menyentuhnya. Terus aku tuju ke puting buah dadanya. Aku kulum dan aku hisap. Terangkat badan Wawa apabila aku menghisapnya dengan perlahan sambil menarik putingnya dengan bibirku. Aku rapatkan bibirku diputingnya dan mengulum sambil memilin dengan lidahku. Wawa mengerang. Aku beralih ke puting yang satu lagi sementara puting tadi ku gentel dengan jari ku. Wawa semakin kuat menggeliat dan mengeluh. Aku teruskan tanpa henti.
Wawa menerima sekali lagi kehadiran zakar Faris dalam faraj nikmatnya. Setelah zakar Faris menegang dan terpacak, aku beralih ke sisi Wawa. Perlahan aku ramas buah dadanya sambil menarik badan Wawa agar terlentang. Wawa terjaga apabila aku menyentuhnya. Terus aku tuju ke puting buah dadanya. Aku kulum dan aku hisap. Terangkat badan Wawa apabila aku menghisapnya dengan perlahan sambil menarik putingnya dengan bibirku. Aku rapatkan bibirku diputingnya dan mengulum sambil memilin dengan lidahku. Wawa mengerang. Aku beralih ke puting yang satu lagi sementara puting tadi ku gentel dengan jari ku. Wawa semakin kuat menggeliat dan mengeluh. Aku teruskan tanpa henti.
Kini jariku pula merayap ke farajnya. Perlahan aku masukkan jariku ke dalam farajnya. Dah basah rupanya Wawa ni, bisik hati ku. Aku teruskan menghisap putingnya silih berganti sambil jari ku keluar masuk difarajnya. Aku berpusing dan menghadap Wawa. Jari ku telah pun aku keluarkan dari faraj Wawa. Kini mulutku pula menghirup air yang melimpah keluar membasahi faraj Wawa. Aku jilat perlahan sekitar bibir farajnya. Wawa membuka kangkangnya luas membenarkan kepala ku rapat ke farajnya. Lidah ku menguis2 kelentit Wawa. Wawa menggeliat lagi apabila lidah ku menyentuh titik kesedapannya. "Aaarrrrr..:, Wawa bersuara sambil kepalanya ke kiri dan ke kanan. Sekali sekala
Wawa mengangkat kepalanya untuik melihat kelakuan mak saudaranya yang sedang menikmati hidangan di celahan kangkangnya. Aku capai tangan Wawa dan aku bawa ke zakar Faris yang masih menegang. Lantas aku gerakkan tangan Wawa yang memegang zakar Faris ke atas dan ke bawah. Aku lepaskan tangan Wawa sambil aku masih lagi menjilat farajnya. Tangan Wawa kini melancap batang zakar Faris yang menegang dan keras itu. Agak beberapa lama Wawa melancapkan batang zakar Faris, dia mengingsut merapati Faris. Mendekatkan kepalanya ke zakar Faris dan terus mengulumnya.
Wawa mengangkat kepalanya untuik melihat kelakuan mak saudaranya yang sedang menikmati hidangan di celahan kangkangnya. Aku capai tangan Wawa dan aku bawa ke zakar Faris yang masih menegang. Lantas aku gerakkan tangan Wawa yang memegang zakar Faris ke atas dan ke bawah. Aku lepaskan tangan Wawa sambil aku masih lagi menjilat farajnya. Tangan Wawa kini melancap batang zakar Faris yang menegang dan keras itu. Agak beberapa lama Wawa melancapkan batang zakar Faris, dia mengingsut merapati Faris. Mendekatkan kepalanya ke zakar Faris dan terus mengulumnya.
Begitu enak sekali aku perhatikan mulut Wawa menelan dan meluahkan kembali zakar Faris tanpa henti. Faris yang tidak bergerak dari tadi, kembali menggeliat. Mulut Faris kembali berbunyi. Berdesis menahan kesedapan dan mungkin juga kengiluan kerana Wawa menghisapnya dari tepi. Aku teruskan menjilat faraj Wawa sambil sebelah tanganku meramas buah dadanya. Wawa begitu ghairah sekali menghisap dan mengulum zakar Faris. Faris semakin kuat menggeliat dan tiba2 dia terjaga.., "Arrrrr..", Faris mengerang. Faris bangun sambil menyiku. Melihat aku yang sedang menjilat faraj Wawa dan melihat Wawa yang sedang menghisap batang zakarnya. Aku nampak Faris tersenyum memandang ku.
Kemudian Faris memegang kepala Wawa dengan sebelah tangannya dan menolak kepala Wawa agar zakarnya dapat masuk lebih dalam lagi ke mulut Wawa. 4-5 kali Faris lakukan sebegitu pada Wawa. Wawa seperti sudah dapat menerima asakan zakar Faris dalam mulutnya hingga ke pangkal. Kemudian Faris menarik bahu Wawa dan memalingkan muka Wawa menghadapnya. Berjejeh air liur Wawa keluar menitik ke badan Faris kerana dia belum sempat untuk menyedutnya kembali. "Wawa pusing.. abang nak jilat pula..", kata Faris. Emmm, 69, fikir ku. Aku lepaskan jilatan ku. Wawa berpusing dan kangkangnya menghadap muka Faris. Sebelum Wawa menghisap kembali zakar Faris yang tegak didepan mukanya, aku dulu dah mencapai dan menghisapnya. Wawa menonggeng dengan badannya hampir separuh ke atas sambil menikmati jilatan Faris dari belakang. "Uuuiiissssshhhh..", Wawa berdesis. Faris lajukan lagi jilatan difaraj Wawa manakala aku terus menghisap zakar Faris. "Ummmm.. uummm.. uurrrgggg.. uuurrrgggg..".
Aku seolah mahu menelan terus zakar Faris yang mengeras itu. Aku lepaskan zakarnya sambil menghela nafas panjang. Wawa pula mencapai zakar Faris dan menyambung kembali hisapannya yang terhenti tadi. Aku pula menuju ke telur Faris yang juga menegang merapati kangkangnya. Aku jilat perlahan dengan hujung lidah ku. "Aaaarrrr..", Faris pula menahan kesedapan apabila aku lakukan sebegitu. Aku kuak lagi kangkang Faris agar kepalaku dapat masuk dan jilatku bermain lagi di telurnya. Terangkat2 punggung Faris melonjakkan zakarnya ke mulut Wawa dan menahan kegelian akibat jilatan ku di telurnya. Lantas aku beralih ke zakar Faris. Kini aku dan Wawa sama2 menjilat keseluruhan batang zakar Faris. Silih berganti antara mulut aku dan mulut Wawa menikmati zakar Faris yang berdenyut2 dan menegang itu. Sewaktu aku mengulum kepala zakarnya, Wawa menjilat batang zakar Faris.
Kemudian lidah aku dan Wawa bermain dikepala zakar Faris. Sekali sekala aku berkucupan dengan Wawa. Wawa sudah boleh menerima kucupan dari seorang perempuan kepada seorang perempuan. "I'll turn you into a bisexual lady..", bisik hati kecil ku sambil tersenyum. Faris berhenti menjilat dan mengarahkan Wawa agar berbaring. Kedua kaki Wawa terkangkang luas untuk menerima asakan zakar Faris dipagi itu. Faris tidak menunggu lama sebelum membenamkan zakarnya yang menegang itu. "Aabbaaannnnggg..", Wawa mengerang apabila tusukan pertama Faris terus menuju rapat ke dalam farajnya. Penuh faraj Wawa dengan zakar Faris. Faris memulakan rentak menghayun zakarnya dengan pantas. Bergegar badan Wawa aku perhatikan sambil tangan Wawa tergapai-gapai mencari sesuatu untuk dipegang. Padu hentakan yang Faris berikan pada faraj Wawa. Wawa tak berhenti mengerang.
Aku melutut disebelah Faris dan menciumnya. Faris kemudiannya menghisap puting buah dada ku sambil aku memeluk kepalanya. Hayunan zakar Faris ke faraj Wawa masih berterusan. Menghentak laju dan padat seolah Faris melepaskan geram. "Aaaarrrrhhhh bangggg.. aaaabbbaaannnngggg.. aaarrr.. aaarrrgggghhhh.. seedddaaapppnyaa.. aarrrggghhhh..bbaaa..aaannggg.. aaaarrrhhh..bbbaaanngggg..". Wawa merintih bila dirasakan nikmat semalam berulang kembali. Mungkin lagi hebat kerana zakar Faris menegang ke maksimumnya pagi itu.
Kemudian Faris memegang kepala Wawa dengan sebelah tangannya dan menolak kepala Wawa agar zakarnya dapat masuk lebih dalam lagi ke mulut Wawa. 4-5 kali Faris lakukan sebegitu pada Wawa. Wawa seperti sudah dapat menerima asakan zakar Faris dalam mulutnya hingga ke pangkal. Kemudian Faris menarik bahu Wawa dan memalingkan muka Wawa menghadapnya. Berjejeh air liur Wawa keluar menitik ke badan Faris kerana dia belum sempat untuk menyedutnya kembali. "Wawa pusing.. abang nak jilat pula..", kata Faris. Emmm, 69, fikir ku. Aku lepaskan jilatan ku. Wawa berpusing dan kangkangnya menghadap muka Faris. Sebelum Wawa menghisap kembali zakar Faris yang tegak didepan mukanya, aku dulu dah mencapai dan menghisapnya. Wawa menonggeng dengan badannya hampir separuh ke atas sambil menikmati jilatan Faris dari belakang. "Uuuiiissssshhhh..", Wawa berdesis. Faris lajukan lagi jilatan difaraj Wawa manakala aku terus menghisap zakar Faris. "Ummmm.. uummm.. uurrrgggg.. uuurrrgggg..".
Aku seolah mahu menelan terus zakar Faris yang mengeras itu. Aku lepaskan zakarnya sambil menghela nafas panjang. Wawa pula mencapai zakar Faris dan menyambung kembali hisapannya yang terhenti tadi. Aku pula menuju ke telur Faris yang juga menegang merapati kangkangnya. Aku jilat perlahan dengan hujung lidah ku. "Aaaarrrr..", Faris pula menahan kesedapan apabila aku lakukan sebegitu. Aku kuak lagi kangkang Faris agar kepalaku dapat masuk dan jilatku bermain lagi di telurnya. Terangkat2 punggung Faris melonjakkan zakarnya ke mulut Wawa dan menahan kegelian akibat jilatan ku di telurnya. Lantas aku beralih ke zakar Faris. Kini aku dan Wawa sama2 menjilat keseluruhan batang zakar Faris. Silih berganti antara mulut aku dan mulut Wawa menikmati zakar Faris yang berdenyut2 dan menegang itu. Sewaktu aku mengulum kepala zakarnya, Wawa menjilat batang zakar Faris.
Kemudian lidah aku dan Wawa bermain dikepala zakar Faris. Sekali sekala aku berkucupan dengan Wawa. Wawa sudah boleh menerima kucupan dari seorang perempuan kepada seorang perempuan. "I'll turn you into a bisexual lady..", bisik hati kecil ku sambil tersenyum. Faris berhenti menjilat dan mengarahkan Wawa agar berbaring. Kedua kaki Wawa terkangkang luas untuk menerima asakan zakar Faris dipagi itu. Faris tidak menunggu lama sebelum membenamkan zakarnya yang menegang itu. "Aabbaaannnnggg..", Wawa mengerang apabila tusukan pertama Faris terus menuju rapat ke dalam farajnya. Penuh faraj Wawa dengan zakar Faris. Faris memulakan rentak menghayun zakarnya dengan pantas. Bergegar badan Wawa aku perhatikan sambil tangan Wawa tergapai-gapai mencari sesuatu untuk dipegang. Padu hentakan yang Faris berikan pada faraj Wawa. Wawa tak berhenti mengerang.
Aku melutut disebelah Faris dan menciumnya. Faris kemudiannya menghisap puting buah dada ku sambil aku memeluk kepalanya. Hayunan zakar Faris ke faraj Wawa masih berterusan. Menghentak laju dan padat seolah Faris melepaskan geram. "Aaaarrrrhhhh bangggg.. aaaabbbaaannnngggg.. aaarrr.. aaarrrgggghhhh.. seedddaaapppnyaa.. aarrrggghhhh..bbaaa..aaannggg.. aaaarrrhhh..bbbaaanngggg..". Wawa merintih bila dirasakan nikmat semalam berulang kembali. Mungkin lagi hebat kerana zakar Faris menegang ke maksimumnya pagi itu.
Hentakan demi hentakan diberikan Faris ke faraj Wawa tanpa henti. Dari kedua kaki mengangkang luas, kini kduanya berdada di bahu Faris. Sebentar kemudian, hanya sebelah berada dibahu Faris manakala sebelah lagi berada di pinggang Faris. Namun Faris masih terus menghayun keluar masuk zakarnya ke faraj Wawa. Akhirnya Wawa terkejang selagi lagi. "Aaaarrrrggghhhh baaannnggg.. nngggg.. Waaa sampaiii.. aaaarrrhhhh..". Begitu asyik sekali aku melihat Wawa kesampaian dengan tubuhnya seperti melonjak ke atas menahan gelora nafsu kesunyiannya yang kini telah dipenuhi. Faris melepaskan kaki Wawa dibahunya dan meminta aku pula menonggeng. Membiarkan Wawa terkapar dalam keadaan terkangkang tercungap2 mencari udara yang dingin dipagi itu.
Faris terus melajukan hayunannya ke faraj ku pula. Buah dada ku terbuai2 apabila Faris menghentak faraj ku dari belakang. "Lagi bang.. lagi..", aku meminta. Nikmat tusukan zakar Faris ku rasakan ke segenap inci tubuh ku. Dengan kekerasan dan ketegangan yang sebegitu, aku tahu klimaks ku akan sampai sebentar lagi. Aku rendahkan posisi ku dari pinggang hingga ke kepala. Kepalaku kini berada ditilam sambil terteleng ke kanan cuba memandang Faris dan Wawa. Tangan kanan ku cuba mencapai pinggang Faris. Faris dengan pantas memegang lengan kanan ku. Hayunannya ke faraj ku semakin laju.
"It's coming.. banggg.. harder.. harder..", aku pinta Faris melajukan lagi serangan dan asakannya ke farajku. "Aaarrrrrr it'ssssss cummminggggg.. iiiissssssss",. Badanku seolah melengkung bila Faris memeberi hentakan terakhir sambil memaut rapat pinggang ku. Membiarkan zakarnya terbenam jauh ke dalam faraj ku sambil menikmati kemutan demi kemutan dari faraj ku. "Eessssshhhhhh aaarrrr yeeeeeesssssss.. yyyeeesssssss..", aku pula lepaskan keluhan kenikmatan merasakan klimaks yang mendatangi diri ku. Ketikaa itu tangan ku menggenggam erat tangan Wawa. Meramasnya seolah tak mahu ku lepaskan. Faris kemudian menujukan pula zakarnya ke lubang jubur ku.
Perlahan dia tujah lubang jubur ku. Air dari farajku sudah mencukupi untuk membantu zakar Faris meneruskan kemasukkan ke lubang jubur ku. "Aaahhhhh.. aaahhh..", aku mengerang kesedapan apabila satu lagi lubang ku dipenuhi zakar keras Faris. Penuh hingga ke pangkal zakar faris lubang jubur ku. Faris lalu mengeluarkan dan memasukkannya semula. Lubang jubur ku sudah selalu menerima kehadiran zakar Faris. Sudah menjadi kenikmatan bagi ku dan juga Faris.
Faris terus melajukan hayunannya ke faraj ku pula. Buah dada ku terbuai2 apabila Faris menghentak faraj ku dari belakang. "Lagi bang.. lagi..", aku meminta. Nikmat tusukan zakar Faris ku rasakan ke segenap inci tubuh ku. Dengan kekerasan dan ketegangan yang sebegitu, aku tahu klimaks ku akan sampai sebentar lagi. Aku rendahkan posisi ku dari pinggang hingga ke kepala. Kepalaku kini berada ditilam sambil terteleng ke kanan cuba memandang Faris dan Wawa. Tangan kanan ku cuba mencapai pinggang Faris. Faris dengan pantas memegang lengan kanan ku. Hayunannya ke faraj ku semakin laju.
"It's coming.. banggg.. harder.. harder..", aku pinta Faris melajukan lagi serangan dan asakannya ke farajku. "Aaarrrrrr it'ssssss cummminggggg.. iiiissssssss",. Badanku seolah melengkung bila Faris memeberi hentakan terakhir sambil memaut rapat pinggang ku. Membiarkan zakarnya terbenam jauh ke dalam faraj ku sambil menikmati kemutan demi kemutan dari faraj ku. "Eessssshhhhhh aaarrrr yeeeeeesssssss.. yyyeeesssssss..", aku pula lepaskan keluhan kenikmatan merasakan klimaks yang mendatangi diri ku. Ketikaa itu tangan ku menggenggam erat tangan Wawa. Meramasnya seolah tak mahu ku lepaskan. Faris kemudian menujukan pula zakarnya ke lubang jubur ku.
Perlahan dia tujah lubang jubur ku. Air dari farajku sudah mencukupi untuk membantu zakar Faris meneruskan kemasukkan ke lubang jubur ku. "Aaahhhhh.. aaahhh..", aku mengerang kesedapan apabila satu lagi lubang ku dipenuhi zakar keras Faris. Penuh hingga ke pangkal zakar faris lubang jubur ku. Faris lalu mengeluarkan dan memasukkannya semula. Lubang jubur ku sudah selalu menerima kehadiran zakar Faris. Sudah menjadi kenikmatan bagi ku dan juga Faris.
Ketika Faris berhenti menghayun zakarnya, lubang jubur ku akan terus-terusan mengemut zakarnya. Itu yang amat disukai Faris. Tak salah kalau aku katakan, hampir semua zakar yang pernah berada didalamnya akan merasa begitu. Faris kembali menghayun dengan agak pantas dan keras. Aku biarkan saja. Seketika Faris berhenti lagi. Menarik nafasa panjang. Diwaktu itu secara pasti, lubang jubur ku akan mengemut zakar Faris. Menghentak lagi Faris dengan agak laju dan terus ke dalam sejauh yang mungkin. "Aaaarrrrhhh..", Faris pula seakan kesampaian. Hentakannya makin laju. Aku tetap menahan. "Aaaarrrggghhh.. aaarrrrrhhhhh.. it's time.. aaarrrrr.. love.. it's cummingg..". Faris mencapai puncak nikmatnya.
Dengan pantas dia mengeluarkan zakarnya sambil memegang erat bahagian pangkal. Bergerak ke sisi ku. Menghadap muka Wawa sambil zakarnya dibawa ke mulut Wawa. Sebelah tangannya merangkul tengkuk Wawa. Zakarnya kini rapat ke mulut Wawa dan menolak ke dalam mulut Wawa. "Aaaarrrrrhhhh.. eeemmmmm.. aaaarrrrr..", Faris melepaskan ledakan air maninya ke dalam mulut Wawa. Wawa yang dalam keadaan terbaring sambil tengkuknya dipegang kemas oleh Faris hanya mampu menerima pancutan demi pancutan air nikmat Faris dalam mulutnya tanpa dapat mengelak lagi. Tangannya memegang tangan Faris seolah minta dilepaskan tapi Faris masih menggenggam zakarnya dalam mulut Wawa. "Uuurrrggggg.. uuugggg.. uuuggggghhh..". Boleh terdengar bunyi Wawa meneguk dan menelan air mani Faris.
Mata Wawa seolah berair merasakan air nikmat Faris yang zakarnya baru saja keluar dari lubang jubur ku. Tekak Wawa ku nampak kembang semasa menelan air mani Faris. Dengan perlahan, Faris mengeluarkan zakarnya dari mulut Wawa. Wawa seperti mahu meluahkan semula saki baki yang masih ada dalam mulutnya tapi Faris menahan dengan memegang dagunya. Wawa seolah mengerti dan menelannya lagi. Masih ada yang terkeluar ditepi bibir Wawa. Perlahan Faris gunakan zakarnya untuk menyapu lelehan tersebut dan membawanya sekali lagi ke mulut Wawa. Wawa menerimanya sambil mula menghisap zakar Faris kembali dengan perlahan. Menjilat2 kepala zakar Faris dan mengulumnya.
Aku turut serta menjilat batang zakar Faris. Akhirnya Faris terduduk menyandar di kepala katil. Wawa masih bernafas dengan laju. Termengah-mengah. Aku pula melentokkan kepala ku ke dada Faris sambil tersenyum memandang Wawa. Wajah kepuasan yang tak terhingga terpancar. Menghilangkan lagi rasa kesunyian di jiwanya… Aku dan Faris berkucupan seketika sambil Wawa bangun dan menuju ke bilik mandi. Jalannya agak perlahan dan tidak berapa tegak. Mungkin masih terasa kepedihan dan kesakitan akibat lubang juburnya ditembusi zakar Faris semalam. Seketika kemudian terdengar deruan air dibilik mandi. Hampir 30 minit Wawa berada di dalam bilik mandi. Membersihkan dan menyegarkan dirinya dari permainan yang dilaluinya bertiga bersama aku dan Faris. Kemudian Wawa keluar sambil berkemban tuala. Wajahnya berseri aku lihat. Dia tersenyum memandang aku dan Faris. "Abang.. kak Lisa.. mandilah dulu..", kata Wawa. "Abang mandi dulu..", kata Faris.
Aku menganggukkan kepala. Pantas Faris ke bilik mandi bertelanjang bulat. Terbuai2 zakarnya yang dah layu itu. Wawa kemudiannya berpakaian agak ringkas. Hanya skirt paras lutut dan t-shirt longgar. Wawa mengenakan sedikit lipstick dibibirnya. Ayu sekali wajah anak saudara ku yang mendapat kepuasan batin dari suami ku.
Dengan pantas dia mengeluarkan zakarnya sambil memegang erat bahagian pangkal. Bergerak ke sisi ku. Menghadap muka Wawa sambil zakarnya dibawa ke mulut Wawa. Sebelah tangannya merangkul tengkuk Wawa. Zakarnya kini rapat ke mulut Wawa dan menolak ke dalam mulut Wawa. "Aaaarrrrrhhhh.. eeemmmmm.. aaaarrrrr..", Faris melepaskan ledakan air maninya ke dalam mulut Wawa. Wawa yang dalam keadaan terbaring sambil tengkuknya dipegang kemas oleh Faris hanya mampu menerima pancutan demi pancutan air nikmat Faris dalam mulutnya tanpa dapat mengelak lagi. Tangannya memegang tangan Faris seolah minta dilepaskan tapi Faris masih menggenggam zakarnya dalam mulut Wawa. "Uuurrrggggg.. uuugggg.. uuuggggghhh..". Boleh terdengar bunyi Wawa meneguk dan menelan air mani Faris.
Mata Wawa seolah berair merasakan air nikmat Faris yang zakarnya baru saja keluar dari lubang jubur ku. Tekak Wawa ku nampak kembang semasa menelan air mani Faris. Dengan perlahan, Faris mengeluarkan zakarnya dari mulut Wawa. Wawa seperti mahu meluahkan semula saki baki yang masih ada dalam mulutnya tapi Faris menahan dengan memegang dagunya. Wawa seolah mengerti dan menelannya lagi. Masih ada yang terkeluar ditepi bibir Wawa. Perlahan Faris gunakan zakarnya untuk menyapu lelehan tersebut dan membawanya sekali lagi ke mulut Wawa. Wawa menerimanya sambil mula menghisap zakar Faris kembali dengan perlahan. Menjilat2 kepala zakar Faris dan mengulumnya.
Aku turut serta menjilat batang zakar Faris. Akhirnya Faris terduduk menyandar di kepala katil. Wawa masih bernafas dengan laju. Termengah-mengah. Aku pula melentokkan kepala ku ke dada Faris sambil tersenyum memandang Wawa. Wajah kepuasan yang tak terhingga terpancar. Menghilangkan lagi rasa kesunyian di jiwanya… Aku dan Faris berkucupan seketika sambil Wawa bangun dan menuju ke bilik mandi. Jalannya agak perlahan dan tidak berapa tegak. Mungkin masih terasa kepedihan dan kesakitan akibat lubang juburnya ditembusi zakar Faris semalam. Seketika kemudian terdengar deruan air dibilik mandi. Hampir 30 minit Wawa berada di dalam bilik mandi. Membersihkan dan menyegarkan dirinya dari permainan yang dilaluinya bertiga bersama aku dan Faris. Kemudian Wawa keluar sambil berkemban tuala. Wajahnya berseri aku lihat. Dia tersenyum memandang aku dan Faris. "Abang.. kak Lisa.. mandilah dulu..", kata Wawa. "Abang mandi dulu..", kata Faris.
Aku menganggukkan kepala. Pantas Faris ke bilik mandi bertelanjang bulat. Terbuai2 zakarnya yang dah layu itu. Wawa kemudiannya berpakaian agak ringkas. Hanya skirt paras lutut dan t-shirt longgar. Wawa mengenakan sedikit lipstick dibibirnya. Ayu sekali wajah anak saudara ku yang mendapat kepuasan batin dari suami ku.
"Kak Lisa.. Wawa macam terasa yang ini bukan kali pertama untuk kak Lisa dan abang Faris lah.. Macam kak Lisa dan abang Faris pernah melakukan seperti apa yang berlaku semalam dan tadi..", tanya Wawa. "Betulkan kak Lisa?". Aku diam. Memandang Wawa dan,
"Apa yang Wawa rasakan semalam dan tadi, adalah antara kita bertiga saja", ingat ku pada Wawa. "Kak Lisa dan abang keluar saja dari rumah ini, Wawa mesti lupakan semuanya. Itu janji Wawa kan?", kata ku lagi. Wawa mengangguk.
"Tapi kak Lisa tak jawab lagi soalan Wawa tadi..".
"Kenapa..? Penting ke soalan tu..?", tanya ku pula. "Wawa dah dapat apa yang Wawa nak dan kak Lisa izinkan. Bukan sekali Wawa puas tapi banyak kali kan. Abang Halim Wawa tu, boleh tak beri apa yang abang Faris berikan semalam?", tanyaku lagi. Wawa menggelengkan kepala sambil tunduk Aku usap kepala Wawa.
"Wawa.., semua tu tak penting. Kak Lisa hanya tolong apa yang Wawa minta. Mungkin semalam tu, terlebih sikit kan..", kataku lagi.
"Memang terlebih lah.. sakit lubang punggung Wawa ni. Nak berak tadi pun takut", kata Wawa sambil mencebik mulutnya. Aku ketawa mendengar keluhan Wawa.
"Sakit kat punggung tu sekejap saja. Kan kat situ selalu keluar. Tiba2 semalam, ada yang masuk pula. Kan kak Lisa dah bagitahu.., abang Faris tu lain sikit. So, Wawa kena terima lah. Tapi.., macamana semalam? Sedap tak? Puas tak?", bertalu2 aku tanya Wawa.
"Malulah kak tanya macam tu..", Wawa kata sambil tunduk.
"Laaaa nak malu apanya?? Kan dah telanjang bertiga semalam. Dah habis lepas semua perasaan semalam. Nak malu lagi?", tegas ku.
" Iya lah, memanglah sedap sebab memang itu yang Wawa cari. Nak tunggu abang Halim, lambat lagi baliknya". Kata Wawa. "Apapun, Wawa ucapkan terima kasih pada kak Lisa dan abang Faris kerana memahami keadaan Wawa. Thanks a lot, kak Lisa..", tambah Wawa sambil memeluk ku.
"It's ok sayang..". Aku turut memeluk Wawa dengan erat.
"Aiiikkkkk tak habis lagi ke?". Tiba2 terdengar suara Faris.
Aku lepaskan pelukkan ku dan berpusing menghadap suara Faris. Masih bertelanjang selepas mandi.
Aku lepaskan pelukkan ku dan berpusing menghadap suara Faris. Masih bertelanjang selepas mandi.
"Ok, kak Lisa nak mandi pula. Lepas tu, abang dan kak Lisa nak balik lah", kataku lagi.
"Wawa turun dulu. Buat breakfast ye". "Buat yang sedap2 tau. Abang lapar ni", Faris pula menambah sambil mula memakai seluar dalamnya.
"Semalam dan tadi dah makan besar, lapar lagi ke?", perli Wawa sambil melangkah keluar.
"Budak iniiii.." jerkah Faris sambl tersengih. Setelah aku selesai mandi, aku dan Faris melangkah ke ruang makan dibahagian tengah rumah Wawa. Menikmati sarapan yang disediakan oleh Wawa dengan berselera sekali sambil sekali sekala ketawa bersembang hal harian.
Dalam pukul 10.30 pagi, aku dan Faris mula meninggalkan rumah Wawa. Wawa juga akan keluar ke rumah emak mertuanya untuk mengambil anaknya yang ditinggalkan semalam dengan alasan ada dinner dan mungkin balik lewat malam. Dah siap dengan alasan rupanya si Wawa ni. Sebelum meninggalkan rumahnya, Wawa bersalaman dengan ku, mencium tangan ku sambil memohon maaf atas kejadian semalam. Aku cium kedua pipinya serta berpelukan seketika. Kemudia Wawa pergi mendapatkan abang Faris, bersalaman, mencium tangannya dan memohon maaf juga darinya. Faris mengucup dahi Wawa dan kemudiannya berbisik ke telinga Wawa,
Dalam pukul 10.30 pagi, aku dan Faris mula meninggalkan rumah Wawa. Wawa juga akan keluar ke rumah emak mertuanya untuk mengambil anaknya yang ditinggalkan semalam dengan alasan ada dinner dan mungkin balik lewat malam. Dah siap dengan alasan rupanya si Wawa ni. Sebelum meninggalkan rumahnya, Wawa bersalaman dengan ku, mencium tangan ku sambil memohon maaf atas kejadian semalam. Aku cium kedua pipinya serta berpelukan seketika. Kemudia Wawa pergi mendapatkan abang Faris, bersalaman, mencium tangannya dan memohon maaf juga darinya. Faris mengucup dahi Wawa dan kemudiannya berbisik ke telinga Wawa,
"Forget everything, ok..abang satisfied semalam dan abang harap Wawa juga satisfied.. love you". Wawa menganggukkan kepalanya tanpa memandang wajah Faris. Kami meninggalkan Wawa. Melambaikan tangan sambil berjanji akan berjumpa lagi.
Aku dan Faris saling berpegangan tangan semasa dalam kereta menuju ke rumah ku. Kepuasan terpancar di wajah Faris. Juga sinar kepuasan di mata ku. Tiba2 telefon bimbit ku berbunyi. Aku capai dan melihat. Pesanan ringkas masuk ke inbox. Aku tatap pesanan ringkas tersebut. Dari Wawa yang berbunyi…
Aku dan Faris saling berpegangan tangan semasa dalam kereta menuju ke rumah ku. Kepuasan terpancar di wajah Faris. Juga sinar kepuasan di mata ku. Tiba2 telefon bimbit ku berbunyi. Aku capai dan melihat. Pesanan ringkas masuk ke inbox. Aku tatap pesanan ringkas tersebut. Dari Wawa yang berbunyi…
'Thank you very much sis.. Wawa nak lagi.. BOLEH tak..?' beserta smiley senyuman. Aku pula yang tersenyum sambil memandang Faris
Hantu Raya
Sekitar awal tahun 90an aku dan bini aku pergi makan angin ke Jakarta. Kira-kira second honeymoon le tu. Masa tu kami pergi berdua aje. 2 orang anak kami tinggal di kampong dengan nenek mereka. Kami melancong dari Jakarta ke Puncak langsung ke Bandung. Kira-kira 2 hari terakhir kami balik semula ke Jakarta. Oleh kerana nak jimat duit, 2 hari terakhir tu kami tinggal di hotel murah dekat dengan Toko Sarinah. Oleh kerana betul-betul di pusat Kota Jakarta, senanglah kami nak jalan-jalan shopping.
Siang hari tu setelah penat berjalan, kami pulang ke hotel agak lewat petang. Didepan hotel tu terdapat banyak penjaja dari kain batek, buah-buahan dan sebagainya. Dalam banyak-banyak penjaja tu ada seorang Wak menjual jamu. Biasanya di Jakarta yang menjual jamu adalah kaum ibu. Tapi yang ini wak yang aku kira dalam sekitar umur 50an.
Kami pun mendekati wak jamu tu sambil aku bertanya jamu kuat untuk lelaki. Wak tu dengan senang hati mengesyorkan jamu kuat lelaki yang katanya bisa ngentot sampai satu jam. Kuat dan luarbiasa katanya. Sambil tu dia juga mengesyorkan jamu untuk wanita yang memberi semangat seksual dan mengetatkan lubang senggama. Selamba aje wak tu cerita akan kebaikan jamunya sambil muka bini aku jadi merah padam samaada malu atau pukinya dah basah. Oleh kerana terlalu berminat lalu aku pun minta wak tu membancuh ramuan jamu tu untuk diminum segera.
Satu gelas untuk aku dan satu gelas lagi untuk bini aku. Sambil tu aku beli lagi beberapa paket untuk di minum kemudian hari. Yang ini tongkat madura. Bagus untuk Ibu. Cara pake nya cuma cocok kat anu Ibu 15 minit sebelum ngentot. Nescaya anu ibu ketat dan biasa perah kontol bapak. Luarbiasa ni. Kata Wak tu pada bini aku. Tersengeh-sengeh bini aku bila mendengar keterangan Wak tu. Setelah membayar harga jamu-jamu tersebut dan sebelum beredar wak tu sekali lagi memberikan nasihatnya. Cuba malam ini keberkesanan jamu saya. Bapak sama Ibu bisa ngentot sampai pagi. Ini saya beri tangkal nikmat untuk Ibu “ gratis. Kalau ibu pakai nescaya daya seksual ibu bertambah baik dan bapak makin sayang. Langsung dipegangnya tangan bini aku lalu diikatnya tali tangkal tu di pergelangan tangan.
Kami mengucapkan terima kasih pada Wak dan terus masuk ke hotel. Aku lihat Wak tu tersenyum lebar sambil melambai-lambai kepada kami. Masuk ke bilik aku terus masuk bilik air untuk mandi. Bini aku membuka tv sambil duduk di sofa kepenatan. Suasana diluar sudah gelap dan oleh kerana dah makan tadi jadi malam ni khas untuk acara mengongkek saje lah piker ku. Keluar dari bilek air aku tengok bini aku dah telanjang bulat sambil membelek-belek tongkat madura yang di beli tadi. Kemudian diangkatnya sebelah kaki ke atas katil sambil menjongkok cuba nak menjolok tongkat madura tu ke lubang pukinya. Eh susah lah nak masuk, abang tolong jolokkan. Terus bini aku menelentang kat atas katil sambil mengangkang luas-luas. Cepat bang sambil menghulurkan tongkat madura kat aku. Lantas aku mencapai tongkat tu sambil membongkok merapatkan muka kat indah bini aku. Otomatik batang aku mencanak naik melihat pemandangan indah itu. Tangan kiri aku menguak bibir indah bini aku sambil pelan-pelan menjolok masuk tongkat madura sampai masuk habis “ aku kira adalah lebih kurang 5 inci tenggelam dalam lubang indah bini aku. Kemudaian aku rapatkan kaki bini aku yang terkangkang tadi. Biarkan dalam 5 minit kata ku sambil mengelap badan yang dah mula berpeluh-peluh.
Aku tengok bini aku memejamkan mata. Puting teteknya menegang dan mukanya berpeluh-peluh mungkin menahan rasa birahi yang teramat sangat. Konek aku tegang dengan urat-urat timbul. Aku belek-belek konek aku -lain macam pulak tegangnya, terasa besar semacam padahal konek aku cuma 6 inci aje panjangnya. Yang, mujarab betullah jamu Wak tadi. Abang dah rasa tak tahan nak menutuh ni. Bini aku kata cepatlah apa lagi “ keluarkan tongkat madura ni sambil di kangkangkan semula kaki nya. Aku pun terus menguak bibir indah bini aku sambil ku cuit-cuit biji indah. Mengeletek bini aku sambil berbunyi ah,ah ah. Aku tarik keluar tongkat madura pelan-pelan sambil ibu jari aku terus memainkan biji indah.
Pergi mandi dulu. Kata ku. Karanglah “ kita mainlah dulu balas bini aku “ dah tak tahan lah tu. Bini aku terus duduk di birai katil langsung menarik konek aku yang tegang semacam. Di kulumnya macam aiskrim. Lapar betul gaya bini aku ni. Hisapannya pun luarbiasa betul tak macam biasa. Kemudian bini aku menelentang semula dengan kaki terkangkang cepat bang “ jolok. Sebagai orang berpengalaman aku tak lah gelojoh sangat. Sambil melutut, aku jelirkan lidah menjilat biji indah. Pelan-pelan sekitar bibir pukinya lepas tu kat lubang yang ternganga tu. Uh ah uh ah bising betul mulut bini aku. Air indah nya mengalir banyak betul. Maknanya dah terlampau tak tahan la tu.
Aku teruskan jilatan maut dan tiba-tiba, bloop aku terasa macam di tolak keras. Aku tergolek langsung tersandar kat dinding bawah tepi katil. Aku tak boleh bergerak macam kena ikat dan tak boleh nak bersuara. Terkejut yang teramat sangat dengan apa yang berlaku. Sekeling bilik masih terang benderang dan bini aku masih terkangang di birai katil betul-betul depan mata aku. Dan aku masih tak boleh bergerak tersandar didinding telanjang bulat dengan konek masih tegang. Heran, aku dengar bini aku masih mengerang kuat kesedapan macam pukinya masih sedang kena jilat. Cepat bang jolok tak tahan uh. Ah uh ah keloh nya. Bang - nak terpancut ni, ah ah ah ah. Sah memang bini aku dah klimaks tu “ bergegar bontotnya dengan kaki macam menendang-nendang. Hebat sungguh.
Tapi siapa pulak yang menjilat bini aku sedangkan aku dibawah tak boleh bergerak. Tiba-tiba kaki bini naik keatas macam huruf V macam ada orang pegang. Uh uh pelan-pelan bang “ konek abang besar betul uh uh Aku tengok lubang bini aku tenganga besar ya amat macam ada botol oren masuk. Bibir pukinya bergerak-gerak macam mencengkam batang keluar masuk. Uh besarnya, sedap bang sedap. Bising betul mulut bini meracau-racau kesedapan. Enjut kuat lagi bang enjut ah ah ah ah Aku rasa suara bini aku boleh dengar sampai keluar bilek. Mau satu hotel ni dengar kot. Badan bini aku bergegar-gegar macam orang tengan menutuh. Katil berbunyi sedangkan cuma bini aku sorang atas katil tu. Tiba-tiba bulu roma aku berdiri lain macam “ hantu kut bisik hati ku.
Aku cuba bergerak tapi tak boleh. Kacau betul. Bini aku tengah main dengan hantu kot. Atas katil, bini menungging pulak. Botot lebarnya tepat mengadap muka aku. Lubang pukinya kembali terngaga besor betul. Bontotnya bergerak kedepan belakang macam orang tengah main doggy style. Uh uh ah aha sedapnya bang laju lagi laju lagi suaranya menggila. Kali ni bertukar posisi pulak “ bini aku mengangkang macam menunggang “ tentunya ada belali masuk dari bawah. Badannya mengenjut-ngenjut, payu dara melambung-lambung sambil suaranya meraung-raung kesedapan. Gila betul. Entah apa yang dipeluknya lepas tu mulut ternganga macam mengisap konek. Macam-macam pesen pulak aksi bini aku.
Aku cuma boleh tengok dengan mulut ternganga tapi konek aku masih keras tegang. Seronok pulak tengok bini aku macam tu. Main dengan mahkluk yang aku tak nampak tapi bini bertarung entah berapa kali dah di klimaks aku pun tak tahu. Akhirnya aku agak telah lebih sejam bini aku begitu dia meraung hebat tanda klimaks yang dasyat langsung dia tergolek terlentang senyap. Dua tiga minit aku rasakan macam dah tak ada apa-apa pergerakan diatas katil. Senyap aje. Tiba-tiba badan aku rasa boleh bergerak. Aku dah boleh bergerak “ lantas cepat aku bangun melihat di katil.
Bini aku terlentang terkangkang luas sambil mata tertutup. Mungkin tertidur kepuasan kot. Aku dekati bini aku sambil tangan memegang pukinya. Mak datuk lubangnya ternganga luas “ mesti lunyai dikerjakan dek hantu tadi. Badannya berpeluh-peluh lencun. belali aku masih keras, tak kan tak dapat apa-apa. Pelan-pelan aku menenggek atas bini aku. Ku masuk kan konek aku pelan-pelan. Mak ai longgarnya. Celaka betul hantu ni. Terok bini aku dikerjakannya. Aku rapatkan kaki bini aku biar lubangnya rapat sikit. Kemudian aku enjut pelan-pelan. Bini aku tersedar “ ish abang ni tak puas lagi ke. Aku tak peduli aku terus henjut lagi. Lubang indah nya lencun namun ada rasa lagi. Aku terus mengenjut. Kuat betul bang malam ni, bagus jamu Wak tadi kata bini aku sambil mata nya masih pejam. Lepas tu senyap langsung tertidur. Terkial-kial aku mengenjut kayu mati sampai akhir terpancut juga.
Aku menelentang terkelip-kelip. Dalam kepala otak seribu satu persoalan tentang kejadian tadi hinggalah aku terlena. Terjaga dari lena kira-kira dah subuh sebab kedengaran sayup-sayup suara azan. Bini aku pun terjaga. Kami berdua masih telanjang bulat dan konek aku tegang nak terkencing. Hu best lah malam tadi.. abang macam superman. Kata bini aku sambil membelai konek aku. Ai .. malam tadi besar semacam sekali ganda dari biasa. Yang ni kecik aje.. Ye ke.. awak nampak konek abang besar?. Balas aku. Malam tadi besar bang, saya isap pun tak muat dalam mulut. Abang pun saya tengok garang semacam “ badan macam hulk. He he he. Petang nanti kita cari Wak semalam “ beli lagi jamu dia bini aku menyambung.
Dalam hati aku mungkin Wak tu bela hantu raya yang boleh menyerupai aku. Itu sebab bini aku nampak yang menutuhnya malam tadi adalah aku sedangkan aku dah tergolek kat bawah tak boleh bergerak. Tak boleh jadi macam ni. Bini aku merangkak kat kangkang aku lalu di isap nya konek aku. Semangat jantan aku datang balik. Bini aku meyuakan bontotnya kat aku “ 69 style. Aku jilat biji nya “ mengeletek dia sedap. Terus menungging, bini aku mintak aku balun dari belakang. Aku pun tak buang masa, dah lah malam tadi cuma dapat sisa aje. Pagi tu kami main boleh tahan lama juga tapi bini aku tak berapa ghairah macam malam tadi. Mungkin dia rasa berbeza sangat. Tak perasan pulak yang dia klimaks ke tidak. Aku aje yang mengenjot semacam. Akhirnya kami terlelap semula sampai jam sepuloh pagi.
Kejadian malam tadi tak ku ceritakan pada bini aku. Takut dia terkejut. Nanti hysteria pulak , nahas jadinya. Cuma aku agak terganggu tak tahu nak buat macam mana. Bayangkan bini kena main orang lain “ sikit punya haru ke. Tapi terpaksa buat selamba aje lagipun tak luak pun lubangpuki bini Cuma aku takut bini aku tuntut kontol yang lebih besar lepas ni. Kat mana aku nak urut bagi besar? Kacau¦.
Lewat tengahari kami keluar ke Tanah Abang untuk shopping sebelum berangkat pulang esok. Sambil jalan-jalan bini aku cakap agaknya kontol orang indon besor-besor ye bang. Dia orang makan jamu, ilmu dia orang pun tinggi bab main ye ujarnya lagi. Aku cuma boleh jawab agaknye le.. Aku tengok muka bini aku merah semacam “ biasanya perempuan yang ghairah seksnya tinggi dan puas, muka dia orang ni berseri-seri. Aku tahulah “ kalau bini aku tak dapat kontol seminggu mukanya loyo semacam.
Sambil membeli belah bini aku sempat berpesan nak cari Wak semalam nak minum jamunya lagi. Ah¦ kacau dibuatnya. Dah mula ketagih la tu. Aku agak Wak tu memang bela hantu raya. Mungkin dah banyak bini orang dikerjakannya termasuklah mangsa terbarunya “ bini aku. Kalau dibuatnya lagi macam malam tadi “ macam mana ye? Tak terdaya aku memikirkan jalan penyelesaian. Teringat aku cerita tour guide kami sebelum ni, Indonesia adalah Negara mistik, banyak perkara pelek-pelek. Orang Indon ilmu batin dia orang memang hebat. Itu sebab Negara ini umatnya banyak lebih 100 juta orang. Dia orang , orang susah dah tentu kurang aktiviti social lain. Jadi nak ngisi masa lapang “ ngongkek aje keja dia orang. Tu yang banyak anak.
Lewat petang kami pulang semula ke hotel. Bini aku tak sabar-sabar nak jumpa Wak jamu tu. Lega aku bila Wak hantu raya tu tak ada petang tu. Tak meniaga kot atau takut aku belasah. Bini aku macam tak puas hati, di tanyanya pada penjaja lain mana pegi Wak jamu tu. Mereka semua jawab tak tau. Masam muka bini aku bukan kepalang. Kami masuk ke bilik dan bini tak ada mood nak berbual. Aku biarkan saja dan dalam hati aku suka bukan kepalang- nasib baik¦ lega. Bini aku duduk disofa sambil nonton tv dan aku membuka pakaian nak mandi. Yang jom mandi. Abang mandi lah dulu jawab bini aku. Aisehmen tak da can lah nak berseronok.
Keluar dari bilek mandi aku tengok bini aku dah tak ada dalam bilek. Mana pulak pegi nya. Cepat-cepat aku pakai seluar pendek, tiba-tiba pintu terbukak. Bini aku masuk. Hah pegi mana tanya ku. Turun ke bawah mana tau Wak jamu ada ujarnya tapi tak ada lah bang. Tak best lah macam ni rungutnya lagi. Sepanjang malam tu kami cakap banyak. Bini aku sibuk berkemas “ besok nak balik. Mata aku pun dah mula ngantuk “ jom tidur ajak ku. Bini aku pun menanggalkan t-shirt dan kain sarongnya. Biasa lah bini aku kalau tidur memang bogel habis. Seluar dalam pun tak pakai. Aircond pun tak berapa sejuk jadi bini aku menelentang atas katil tak pakai selimut. Sambil digaru-garu pukinya. Nak kontol ke? tanya ku. Bini aku diam aje tak ada respond. Tangan nya merayap kat kontol aku “ di kocok-kocok nya. Mencanak naik kontol aku. Apasal kecik aje? Rungut bini aku. Cis.. tercabar kelakian aku. Terus aku berpusing membelakangkan bontot aku . Merajuk konon.
Kepala otak aku masih terbayangkan aksi-aksi malam semalam. Aku menelentang balik tak boleh nak lelap. Aku pejamkan mata. Tiba-tiba aku rasa badan aku macam di tindih, aku tak boleh bergerak¦ sesak nafas aku . Aku cuba menjerit nak panggil bini aku¦ suara pun tak keluar. Bulu roma aku tegak berdiri --- his.. datang lagi ke hantu semalam? Aku dengar suara bini aku mendesah. uh..uh¦ah Aku tengok kakinya terkangkang luas. Jilat lagi bang bila pulak aku jilat pukidia???? Bontot dia terangkat-angkat.. Cilaka hantu raya jilat bini aku ni. Tiba-tiba bini aku menungging “ bontot nya mengadap kat aku. Lampu bilek masih terang benderang jadi memang jelaslah aku tengok pukinya. Dahlah bontot lebar, dengan bulu berselirat tak pernah cukur, bontotnya menggelitik keatas kebawah. Lubangnya ternganga luas macam ada senjata tumpul yang masuk. celepok¦ celepok bunyinya. Mesti konek hantu raya yang tengah menghunjam pukibini aku. Meraung-raung bini aku kesedapan. besornya¦ sedap bang sedap. Lagi bang lagi uh”uh”uh ahhhhhhh¦
Bising betul suara bini aku. Aku takut orang kat luar bilek boleh dengar. Malu aku. Kali ni tukar pesen pulak¦ bini aku terapung diudara.. tangannya macam memeluk seseorang, kaki pulak bersilang macam bersila mengepit sesuatu. Mesti Hantu Raya tu dokong bini aku “ main berdiri pulak tu. Kepala bini bergoyang-yang kebelakang sambil bontot maju mundur. Gunung papayanya melambung-lambung. payu dara bini ku memang boleh tahan besarnya. Putih melepak masih tegang. Puting hitam tegang besar macam jari kelingking. Merintih-rintih bini aku. Sedap lah tu. Katil bergoyang-goyang kriut¦kriut bunyi nya. Kemudian bini aku berdiri pulak menghadap dinding. Di tonggekkan bontotnya yang dah sedia tonggek tu, sebelah kaki terangkat, tangan menumpang dinding. Bontot tonggeknya bergerak depan belakang macam kena sodok¦ Ish ish asyik sungguh pemandangan. Kontol aku tegak keras semacam. Aku pulak yang syok.. tapi masih tak boleh bergerak.
Kali ni aku tengok macam-macam aksi pulak lebih hebat dari semalam. Menelentang , menelangkup, mengiring, menungging, menunggang cakap aje apa pesen. Semua ada. Untuk sekian lamanya aku cuma dapat melihat. Akhirnya selepas satu jeritan klimaks yang cukup agung bini aku senyap terlentang terkangkang diam. Aku tak tahu berapa kali dia klimaks tak sempat nak kira. Seketika kemudian aku dah boleh bergerak. Hatu raya tu mungkin dah belah. Puh lega¦ Satu pean mistik yang tak pernah ku bayangkan selama ini. Menakutkan, seram tapi syok pun ada.
Pelan-pelan aku duduk¦ termangu-mangu. Bini aku dah berkeroh tidur.. mulut ternganga sikit. Puas, penat lah tu. Cadar berselerak bantal selimut entah kemana, macam baru kena tsunami. Hebat. Aku jolok jari telunjuk dalam pukinya. Mak ai longgarnya lencun, tapi tak ada pulak macam air mani lelaki. Mungkin hantu raya tak ada air mani. Nasib baik.. kalau tidak bunting bini aku dapat anak hantu raya. Aku jolok-jolok tak rasa apa pun. Aku angkat bontotnya sambil membelek “belek pukibini aku. Aku tengok lubang jubor ternganga merah menyala. Cilaka .. hantu ni jubur bini aku pun ditalanya. Cis.. aku pun tak pernah dapat selama ni. Dia pulak yang rasmikan burit bini aku. Terkejut aku menengok pemandangan ini. Dua-dua lubang bini aku menganga luas. Ada bau taik sikit. Alamak.
Aku bangun ke bilek air membasahkan towel. Aku lap pukinya dan jubur bini aku. Sambil aku belek-belek bibir pukinya. Berserabut bulu indah. Ku ambil pisau cukur, aku lapik bontotnya dengan towel. Bini aku masih tak sedarkan diri. Pelan-pelan aku cukur bulunya. Bulu kat kat tepi jubur pun aku cukur. Ha..hah..ha dah botak. Licin tapi merah merah lebam kena balun dek hantu raya. Aku tengok jam dah pukul 1 pagi. Hish lama betul bini aku sontot. Padan lah dia tidur tak sedar diri. Kena cukur pun tak tahu.
Tiba-tiba aku terpandang tali tangkal kat tangan bini aku. Tangkal yang diberi oleh Wak jamu kelmarin. Mesti jampi wak dengan tangkal ni yang dah menoda bini aku. Pelan-pelan aku tanggal tangkal tu. Ku ambil lighter lalu ku bakar tangkal tu dalam bilek air. Cis mengapa aku tak tersedar akan tangkal tu. Mesti diguna-gunakan bini aku dengan tangkal ni. Celaka.
Naik semula ke katil aku cium-cium pukibini aku. Sedap baunya. Aku ludah-ludah lubang juburnya. Selama ni aku mintak tak dapat jadi malam ni mesti aku nak juga. Aku lipat kaki bini aku keatas. Aku masukkan batang aku pelan-pelan kat jubur dia. Hem¦ masih ketat. Aku enjut pelan-pelan.. sedap oooh. Aku enjut dan enjut akhirnya terpancut aku. Memang sedap. Padanlah orang suka main dengan bapok. Main jubur sedap rupanya. Aku padam lampu bilek langsung merebahkan badan sebelah bini. Langsung tertidur.
Pagi aku terjaga.. bini aku menumbuk-menumbuk kat badan aku. Apa-hal, apa hal aku terkejut. Abang, main burit saya mlam tadi berdosa tau bang muka bini aku menyinga semacam. Aik.. malam tadi awak tak marah pun.. suka lagi ada aku jawab balik. Ye ke bang¦ abis tu bulu dah habis botak ni abang punya kerja kan! jawab balik bini aku dengan nada yang reda sikit. Awak yang suruh cukur “ tak ingat ke aku sergah dia balik. Ye ke.. tak ingat lah bang. Aku ketawa geli hati. Sakit tau jubur orang, lain kali main kat depan aje, belakang no entry “ abang jahat kata bini aku. Sambil jalan terkengkang-kengkang masuk ke bilek air bini aku merungut-rungut entah apa yang di sumpahnya.
Mungkin dia lupa apa berlaku malam tadi. Mungkin tangkal tu dah aku bakar “ dia tak tahu apa-apa.
Kami pun cepat-cepat bersiap. Sebentar lagi kenderaan ke Airport akan menjemput kami. Sambil berjalan ke Lobby aku peratikan bini aku jalan masih mengengkang. Burit sakitlah, cipap gatal-gatal pulak sebab tak ada bulu bisik bini aku. Aku cuma boleh tersengeh aje. Selamat siang ibu, bapak sapa dua orang budak hotel berselisih dengan kami. Wah meriah sekali tadi malam ya pak !. bisik budak hotel tu kat aku. Aku cuma boleh tersenyum tersipu-sipu. Mungkin malam tadi mereka dengar suara bini aku meraung kena balun dek hantu raya.
Siang hari tu setelah penat berjalan, kami pulang ke hotel agak lewat petang. Didepan hotel tu terdapat banyak penjaja dari kain batek, buah-buahan dan sebagainya. Dalam banyak-banyak penjaja tu ada seorang Wak menjual jamu. Biasanya di Jakarta yang menjual jamu adalah kaum ibu. Tapi yang ini wak yang aku kira dalam sekitar umur 50an.
Kami pun mendekati wak jamu tu sambil aku bertanya jamu kuat untuk lelaki. Wak tu dengan senang hati mengesyorkan jamu kuat lelaki yang katanya bisa ngentot sampai satu jam. Kuat dan luarbiasa katanya. Sambil tu dia juga mengesyorkan jamu untuk wanita yang memberi semangat seksual dan mengetatkan lubang senggama. Selamba aje wak tu cerita akan kebaikan jamunya sambil muka bini aku jadi merah padam samaada malu atau pukinya dah basah. Oleh kerana terlalu berminat lalu aku pun minta wak tu membancuh ramuan jamu tu untuk diminum segera.
Satu gelas untuk aku dan satu gelas lagi untuk bini aku. Sambil tu aku beli lagi beberapa paket untuk di minum kemudian hari. Yang ini tongkat madura. Bagus untuk Ibu. Cara pake nya cuma cocok kat anu Ibu 15 minit sebelum ngentot. Nescaya anu ibu ketat dan biasa perah kontol bapak. Luarbiasa ni. Kata Wak tu pada bini aku. Tersengeh-sengeh bini aku bila mendengar keterangan Wak tu. Setelah membayar harga jamu-jamu tersebut dan sebelum beredar wak tu sekali lagi memberikan nasihatnya. Cuba malam ini keberkesanan jamu saya. Bapak sama Ibu bisa ngentot sampai pagi. Ini saya beri tangkal nikmat untuk Ibu “ gratis. Kalau ibu pakai nescaya daya seksual ibu bertambah baik dan bapak makin sayang. Langsung dipegangnya tangan bini aku lalu diikatnya tali tangkal tu di pergelangan tangan.
Kami mengucapkan terima kasih pada Wak dan terus masuk ke hotel. Aku lihat Wak tu tersenyum lebar sambil melambai-lambai kepada kami. Masuk ke bilik aku terus masuk bilik air untuk mandi. Bini aku membuka tv sambil duduk di sofa kepenatan. Suasana diluar sudah gelap dan oleh kerana dah makan tadi jadi malam ni khas untuk acara mengongkek saje lah piker ku. Keluar dari bilek air aku tengok bini aku dah telanjang bulat sambil membelek-belek tongkat madura yang di beli tadi. Kemudian diangkatnya sebelah kaki ke atas katil sambil menjongkok cuba nak menjolok tongkat madura tu ke lubang pukinya. Eh susah lah nak masuk, abang tolong jolokkan. Terus bini aku menelentang kat atas katil sambil mengangkang luas-luas. Cepat bang sambil menghulurkan tongkat madura kat aku. Lantas aku mencapai tongkat tu sambil membongkok merapatkan muka kat indah bini aku. Otomatik batang aku mencanak naik melihat pemandangan indah itu. Tangan kiri aku menguak bibir indah bini aku sambil pelan-pelan menjolok masuk tongkat madura sampai masuk habis “ aku kira adalah lebih kurang 5 inci tenggelam dalam lubang indah bini aku. Kemudaian aku rapatkan kaki bini aku yang terkangkang tadi. Biarkan dalam 5 minit kata ku sambil mengelap badan yang dah mula berpeluh-peluh.
Aku tengok bini aku memejamkan mata. Puting teteknya menegang dan mukanya berpeluh-peluh mungkin menahan rasa birahi yang teramat sangat. Konek aku tegang dengan urat-urat timbul. Aku belek-belek konek aku -lain macam pulak tegangnya, terasa besar semacam padahal konek aku cuma 6 inci aje panjangnya. Yang, mujarab betullah jamu Wak tadi. Abang dah rasa tak tahan nak menutuh ni. Bini aku kata cepatlah apa lagi “ keluarkan tongkat madura ni sambil di kangkangkan semula kaki nya. Aku pun terus menguak bibir indah bini aku sambil ku cuit-cuit biji indah. Mengeletek bini aku sambil berbunyi ah,ah ah. Aku tarik keluar tongkat madura pelan-pelan sambil ibu jari aku terus memainkan biji indah.
Pergi mandi dulu. Kata ku. Karanglah “ kita mainlah dulu balas bini aku “ dah tak tahan lah tu. Bini aku terus duduk di birai katil langsung menarik konek aku yang tegang semacam. Di kulumnya macam aiskrim. Lapar betul gaya bini aku ni. Hisapannya pun luarbiasa betul tak macam biasa. Kemudian bini aku menelentang semula dengan kaki terkangkang cepat bang “ jolok. Sebagai orang berpengalaman aku tak lah gelojoh sangat. Sambil melutut, aku jelirkan lidah menjilat biji indah. Pelan-pelan sekitar bibir pukinya lepas tu kat lubang yang ternganga tu. Uh ah uh ah bising betul mulut bini aku. Air indah nya mengalir banyak betul. Maknanya dah terlampau tak tahan la tu.
Aku teruskan jilatan maut dan tiba-tiba, bloop aku terasa macam di tolak keras. Aku tergolek langsung tersandar kat dinding bawah tepi katil. Aku tak boleh bergerak macam kena ikat dan tak boleh nak bersuara. Terkejut yang teramat sangat dengan apa yang berlaku. Sekeling bilik masih terang benderang dan bini aku masih terkangang di birai katil betul-betul depan mata aku. Dan aku masih tak boleh bergerak tersandar didinding telanjang bulat dengan konek masih tegang. Heran, aku dengar bini aku masih mengerang kuat kesedapan macam pukinya masih sedang kena jilat. Cepat bang jolok tak tahan uh. Ah uh ah keloh nya. Bang - nak terpancut ni, ah ah ah ah. Sah memang bini aku dah klimaks tu “ bergegar bontotnya dengan kaki macam menendang-nendang. Hebat sungguh.
Tapi siapa pulak yang menjilat bini aku sedangkan aku dibawah tak boleh bergerak. Tiba-tiba kaki bini naik keatas macam huruf V macam ada orang pegang. Uh uh pelan-pelan bang “ konek abang besar betul uh uh Aku tengok lubang bini aku tenganga besar ya amat macam ada botol oren masuk. Bibir pukinya bergerak-gerak macam mencengkam batang keluar masuk. Uh besarnya, sedap bang sedap. Bising betul mulut bini meracau-racau kesedapan. Enjut kuat lagi bang enjut ah ah ah ah Aku rasa suara bini aku boleh dengar sampai keluar bilek. Mau satu hotel ni dengar kot. Badan bini aku bergegar-gegar macam orang tengan menutuh. Katil berbunyi sedangkan cuma bini aku sorang atas katil tu. Tiba-tiba bulu roma aku berdiri lain macam “ hantu kut bisik hati ku.
Aku cuba bergerak tapi tak boleh. Kacau betul. Bini aku tengah main dengan hantu kot. Atas katil, bini menungging pulak. Botot lebarnya tepat mengadap muka aku. Lubang pukinya kembali terngaga besor betul. Bontotnya bergerak kedepan belakang macam orang tengah main doggy style. Uh uh ah aha sedapnya bang laju lagi laju lagi suaranya menggila. Kali ni bertukar posisi pulak “ bini aku mengangkang macam menunggang “ tentunya ada belali masuk dari bawah. Badannya mengenjut-ngenjut, payu dara melambung-lambung sambil suaranya meraung-raung kesedapan. Gila betul. Entah apa yang dipeluknya lepas tu mulut ternganga macam mengisap konek. Macam-macam pesen pulak aksi bini aku.
Aku cuma boleh tengok dengan mulut ternganga tapi konek aku masih keras tegang. Seronok pulak tengok bini aku macam tu. Main dengan mahkluk yang aku tak nampak tapi bini bertarung entah berapa kali dah di klimaks aku pun tak tahu. Akhirnya aku agak telah lebih sejam bini aku begitu dia meraung hebat tanda klimaks yang dasyat langsung dia tergolek terlentang senyap. Dua tiga minit aku rasakan macam dah tak ada apa-apa pergerakan diatas katil. Senyap aje. Tiba-tiba badan aku rasa boleh bergerak. Aku dah boleh bergerak “ lantas cepat aku bangun melihat di katil.
Bini aku terlentang terkangkang luas sambil mata tertutup. Mungkin tertidur kepuasan kot. Aku dekati bini aku sambil tangan memegang pukinya. Mak datuk lubangnya ternganga luas “ mesti lunyai dikerjakan dek hantu tadi. Badannya berpeluh-peluh lencun. belali aku masih keras, tak kan tak dapat apa-apa. Pelan-pelan aku menenggek atas bini aku. Ku masuk kan konek aku pelan-pelan. Mak ai longgarnya. Celaka betul hantu ni. Terok bini aku dikerjakannya. Aku rapatkan kaki bini aku biar lubangnya rapat sikit. Kemudian aku enjut pelan-pelan. Bini aku tersedar “ ish abang ni tak puas lagi ke. Aku tak peduli aku terus henjut lagi. Lubang indah nya lencun namun ada rasa lagi. Aku terus mengenjut. Kuat betul bang malam ni, bagus jamu Wak tadi kata bini aku sambil mata nya masih pejam. Lepas tu senyap langsung tertidur. Terkial-kial aku mengenjut kayu mati sampai akhir terpancut juga.
Aku menelentang terkelip-kelip. Dalam kepala otak seribu satu persoalan tentang kejadian tadi hinggalah aku terlena. Terjaga dari lena kira-kira dah subuh sebab kedengaran sayup-sayup suara azan. Bini aku pun terjaga. Kami berdua masih telanjang bulat dan konek aku tegang nak terkencing. Hu best lah malam tadi.. abang macam superman. Kata bini aku sambil membelai konek aku. Ai .. malam tadi besar semacam sekali ganda dari biasa. Yang ni kecik aje.. Ye ke.. awak nampak konek abang besar?. Balas aku. Malam tadi besar bang, saya isap pun tak muat dalam mulut. Abang pun saya tengok garang semacam “ badan macam hulk. He he he. Petang nanti kita cari Wak semalam “ beli lagi jamu dia bini aku menyambung.
Dalam hati aku mungkin Wak tu bela hantu raya yang boleh menyerupai aku. Itu sebab bini aku nampak yang menutuhnya malam tadi adalah aku sedangkan aku dah tergolek kat bawah tak boleh bergerak. Tak boleh jadi macam ni. Bini aku merangkak kat kangkang aku lalu di isap nya konek aku. Semangat jantan aku datang balik. Bini aku meyuakan bontotnya kat aku “ 69 style. Aku jilat biji nya “ mengeletek dia sedap. Terus menungging, bini aku mintak aku balun dari belakang. Aku pun tak buang masa, dah lah malam tadi cuma dapat sisa aje. Pagi tu kami main boleh tahan lama juga tapi bini aku tak berapa ghairah macam malam tadi. Mungkin dia rasa berbeza sangat. Tak perasan pulak yang dia klimaks ke tidak. Aku aje yang mengenjot semacam. Akhirnya kami terlelap semula sampai jam sepuloh pagi.
Kejadian malam tadi tak ku ceritakan pada bini aku. Takut dia terkejut. Nanti hysteria pulak , nahas jadinya. Cuma aku agak terganggu tak tahu nak buat macam mana. Bayangkan bini kena main orang lain “ sikit punya haru ke. Tapi terpaksa buat selamba aje lagipun tak luak pun lubangpuki bini Cuma aku takut bini aku tuntut kontol yang lebih besar lepas ni. Kat mana aku nak urut bagi besar? Kacau¦.
Lewat tengahari kami keluar ke Tanah Abang untuk shopping sebelum berangkat pulang esok. Sambil jalan-jalan bini aku cakap agaknya kontol orang indon besor-besor ye bang. Dia orang makan jamu, ilmu dia orang pun tinggi bab main ye ujarnya lagi. Aku cuma boleh jawab agaknye le.. Aku tengok muka bini aku merah semacam “ biasanya perempuan yang ghairah seksnya tinggi dan puas, muka dia orang ni berseri-seri. Aku tahulah “ kalau bini aku tak dapat kontol seminggu mukanya loyo semacam.
Sambil membeli belah bini aku sempat berpesan nak cari Wak semalam nak minum jamunya lagi. Ah¦ kacau dibuatnya. Dah mula ketagih la tu. Aku agak Wak tu memang bela hantu raya. Mungkin dah banyak bini orang dikerjakannya termasuklah mangsa terbarunya “ bini aku. Kalau dibuatnya lagi macam malam tadi “ macam mana ye? Tak terdaya aku memikirkan jalan penyelesaian. Teringat aku cerita tour guide kami sebelum ni, Indonesia adalah Negara mistik, banyak perkara pelek-pelek. Orang Indon ilmu batin dia orang memang hebat. Itu sebab Negara ini umatnya banyak lebih 100 juta orang. Dia orang , orang susah dah tentu kurang aktiviti social lain. Jadi nak ngisi masa lapang “ ngongkek aje keja dia orang. Tu yang banyak anak.
Lewat petang kami pulang semula ke hotel. Bini aku tak sabar-sabar nak jumpa Wak jamu tu. Lega aku bila Wak hantu raya tu tak ada petang tu. Tak meniaga kot atau takut aku belasah. Bini aku macam tak puas hati, di tanyanya pada penjaja lain mana pegi Wak jamu tu. Mereka semua jawab tak tau. Masam muka bini aku bukan kepalang. Kami masuk ke bilik dan bini tak ada mood nak berbual. Aku biarkan saja dan dalam hati aku suka bukan kepalang- nasib baik¦ lega. Bini aku duduk disofa sambil nonton tv dan aku membuka pakaian nak mandi. Yang jom mandi. Abang mandi lah dulu jawab bini aku. Aisehmen tak da can lah nak berseronok.
Keluar dari bilek mandi aku tengok bini aku dah tak ada dalam bilek. Mana pulak pegi nya. Cepat-cepat aku pakai seluar pendek, tiba-tiba pintu terbukak. Bini aku masuk. Hah pegi mana tanya ku. Turun ke bawah mana tau Wak jamu ada ujarnya tapi tak ada lah bang. Tak best lah macam ni rungutnya lagi. Sepanjang malam tu kami cakap banyak. Bini aku sibuk berkemas “ besok nak balik. Mata aku pun dah mula ngantuk “ jom tidur ajak ku. Bini aku pun menanggalkan t-shirt dan kain sarongnya. Biasa lah bini aku kalau tidur memang bogel habis. Seluar dalam pun tak pakai. Aircond pun tak berapa sejuk jadi bini aku menelentang atas katil tak pakai selimut. Sambil digaru-garu pukinya. Nak kontol ke? tanya ku. Bini aku diam aje tak ada respond. Tangan nya merayap kat kontol aku “ di kocok-kocok nya. Mencanak naik kontol aku. Apasal kecik aje? Rungut bini aku. Cis.. tercabar kelakian aku. Terus aku berpusing membelakangkan bontot aku . Merajuk konon.
Kepala otak aku masih terbayangkan aksi-aksi malam semalam. Aku menelentang balik tak boleh nak lelap. Aku pejamkan mata. Tiba-tiba aku rasa badan aku macam di tindih, aku tak boleh bergerak¦ sesak nafas aku . Aku cuba menjerit nak panggil bini aku¦ suara pun tak keluar. Bulu roma aku tegak berdiri --- his.. datang lagi ke hantu semalam? Aku dengar suara bini aku mendesah. uh..uh¦ah Aku tengok kakinya terkangkang luas. Jilat lagi bang bila pulak aku jilat pukidia???? Bontot dia terangkat-angkat.. Cilaka hantu raya jilat bini aku ni. Tiba-tiba bini aku menungging “ bontot nya mengadap kat aku. Lampu bilek masih terang benderang jadi memang jelaslah aku tengok pukinya. Dahlah bontot lebar, dengan bulu berselirat tak pernah cukur, bontotnya menggelitik keatas kebawah. Lubangnya ternganga luas macam ada senjata tumpul yang masuk. celepok¦ celepok bunyinya. Mesti konek hantu raya yang tengah menghunjam pukibini aku. Meraung-raung bini aku kesedapan. besornya¦ sedap bang sedap. Lagi bang lagi uh”uh”uh ahhhhhhh¦
Bising betul suara bini aku. Aku takut orang kat luar bilek boleh dengar. Malu aku. Kali ni tukar pesen pulak¦ bini aku terapung diudara.. tangannya macam memeluk seseorang, kaki pulak bersilang macam bersila mengepit sesuatu. Mesti Hantu Raya tu dokong bini aku “ main berdiri pulak tu. Kepala bini bergoyang-yang kebelakang sambil bontot maju mundur. Gunung papayanya melambung-lambung. payu dara bini ku memang boleh tahan besarnya. Putih melepak masih tegang. Puting hitam tegang besar macam jari kelingking. Merintih-rintih bini aku. Sedap lah tu. Katil bergoyang-goyang kriut¦kriut bunyi nya. Kemudian bini aku berdiri pulak menghadap dinding. Di tonggekkan bontotnya yang dah sedia tonggek tu, sebelah kaki terangkat, tangan menumpang dinding. Bontot tonggeknya bergerak depan belakang macam kena sodok¦ Ish ish asyik sungguh pemandangan. Kontol aku tegak keras semacam. Aku pulak yang syok.. tapi masih tak boleh bergerak.
Kali ni aku tengok macam-macam aksi pulak lebih hebat dari semalam. Menelentang , menelangkup, mengiring, menungging, menunggang cakap aje apa pesen. Semua ada. Untuk sekian lamanya aku cuma dapat melihat. Akhirnya selepas satu jeritan klimaks yang cukup agung bini aku senyap terlentang terkangkang diam. Aku tak tahu berapa kali dia klimaks tak sempat nak kira. Seketika kemudian aku dah boleh bergerak. Hatu raya tu mungkin dah belah. Puh lega¦ Satu pean mistik yang tak pernah ku bayangkan selama ini. Menakutkan, seram tapi syok pun ada.
Pelan-pelan aku duduk¦ termangu-mangu. Bini aku dah berkeroh tidur.. mulut ternganga sikit. Puas, penat lah tu. Cadar berselerak bantal selimut entah kemana, macam baru kena tsunami. Hebat. Aku jolok jari telunjuk dalam pukinya. Mak ai longgarnya lencun, tapi tak ada pulak macam air mani lelaki. Mungkin hantu raya tak ada air mani. Nasib baik.. kalau tidak bunting bini aku dapat anak hantu raya. Aku jolok-jolok tak rasa apa pun. Aku angkat bontotnya sambil membelek “belek pukibini aku. Aku tengok lubang jubor ternganga merah menyala. Cilaka .. hantu ni jubur bini aku pun ditalanya. Cis.. aku pun tak pernah dapat selama ni. Dia pulak yang rasmikan burit bini aku. Terkejut aku menengok pemandangan ini. Dua-dua lubang bini aku menganga luas. Ada bau taik sikit. Alamak.
Aku bangun ke bilek air membasahkan towel. Aku lap pukinya dan jubur bini aku. Sambil aku belek-belek bibir pukinya. Berserabut bulu indah. Ku ambil pisau cukur, aku lapik bontotnya dengan towel. Bini aku masih tak sedarkan diri. Pelan-pelan aku cukur bulunya. Bulu kat kat tepi jubur pun aku cukur. Ha..hah..ha dah botak. Licin tapi merah merah lebam kena balun dek hantu raya. Aku tengok jam dah pukul 1 pagi. Hish lama betul bini aku sontot. Padan lah dia tidur tak sedar diri. Kena cukur pun tak tahu.
Tiba-tiba aku terpandang tali tangkal kat tangan bini aku. Tangkal yang diberi oleh Wak jamu kelmarin. Mesti jampi wak dengan tangkal ni yang dah menoda bini aku. Pelan-pelan aku tanggal tangkal tu. Ku ambil lighter lalu ku bakar tangkal tu dalam bilek air. Cis mengapa aku tak tersedar akan tangkal tu. Mesti diguna-gunakan bini aku dengan tangkal ni. Celaka.
Naik semula ke katil aku cium-cium pukibini aku. Sedap baunya. Aku ludah-ludah lubang juburnya. Selama ni aku mintak tak dapat jadi malam ni mesti aku nak juga. Aku lipat kaki bini aku keatas. Aku masukkan batang aku pelan-pelan kat jubur dia. Hem¦ masih ketat. Aku enjut pelan-pelan.. sedap oooh. Aku enjut dan enjut akhirnya terpancut aku. Memang sedap. Padanlah orang suka main dengan bapok. Main jubur sedap rupanya. Aku padam lampu bilek langsung merebahkan badan sebelah bini. Langsung tertidur.
Pagi aku terjaga.. bini aku menumbuk-menumbuk kat badan aku. Apa-hal, apa hal aku terkejut. Abang, main burit saya mlam tadi berdosa tau bang muka bini aku menyinga semacam. Aik.. malam tadi awak tak marah pun.. suka lagi ada aku jawab balik. Ye ke bang¦ abis tu bulu dah habis botak ni abang punya kerja kan! jawab balik bini aku dengan nada yang reda sikit. Awak yang suruh cukur “ tak ingat ke aku sergah dia balik. Ye ke.. tak ingat lah bang. Aku ketawa geli hati. Sakit tau jubur orang, lain kali main kat depan aje, belakang no entry “ abang jahat kata bini aku. Sambil jalan terkengkang-kengkang masuk ke bilek air bini aku merungut-rungut entah apa yang di sumpahnya.
Mungkin dia lupa apa berlaku malam tadi. Mungkin tangkal tu dah aku bakar “ dia tak tahu apa-apa.
Kami pun cepat-cepat bersiap. Sebentar lagi kenderaan ke Airport akan menjemput kami. Sambil berjalan ke Lobby aku peratikan bini aku jalan masih mengengkang. Burit sakitlah, cipap gatal-gatal pulak sebab tak ada bulu bisik bini aku. Aku cuma boleh tersengeh aje. Selamat siang ibu, bapak sapa dua orang budak hotel berselisih dengan kami. Wah meriah sekali tadi malam ya pak !. bisik budak hotel tu kat aku. Aku cuma boleh tersenyum tersipu-sipu. Mungkin malam tadi mereka dengar suara bini aku meraung kena balun dek hantu raya.
Siti Hebat
Ini adalah kisah nyata diriku. Namaku Amir dan panggilan mesraku ialah Am. Usiaku 30'an. Pendapatanku amat lumayan dan hobiku mengumpul kenalan untuk dikongkek. Telah hampir 15 tahun hidupku bergelumang dosa, iaitu sejak aku frust bercinta dengan kekasih yang amat aku sayangi. Sejak itu aku bertekad untuk merosakkan setiap gadis yang aku kenali. Berdasarkan pengalaman dan pergaulan harian, aku dengan mudah dapat memikat gadis yang aku ingini. Dengan skill aku yang tersendiri, jarang yang terlepas dari penangan butohku. Perinsipku adalah "kalau tak dapat hari ini, lain kali boleh dapat juga." Sesetengahnya memakan masa hampir seminggu baru aku dapat.
Petikan dari pengalamanku juga, aku pernah amat menyukai pada seorang kenalan perempuan yang berumur awal 40'an. Dia ni isteri seorang pegawai majlis daerah. Siti namanya. Suaminya tidak dapat memberikan kepuasan kepadanya lantaran lemah sahwat kerana berbagai penyakit. Si Siti ni bertubuh kecil. Potongan rambutnya seperti Zarina Zainuddin, mengerbang tapi kemas. Dia bertubuh kecil, sekecil Shela Majid. Wajahnya ayu dengan make up yang sederhana tebal tetapi mampu memukau setiap lelaki yang memandang. Bibirnya sentiasa merah merkah dan menggairahkan. Buah dadanya menonjol dengan potongan badan yang cukup menggiurkan. Dia sentiasa berbaju kebaya atau kurung moden.
Satu malam aku bertemu dengannya dekat tempat parking, lalu aku mengajaknya ke tempat tinggalku. Aku membawanya ke banglowku di kawasan penempatan yang terasing dari hiruk-piruk kota dan tiada gangguan. Aku tinggal sendirian di situ.
Di ruang tamu rumahku aku meminta dia membiasakan diri seperti di rumah sendiri. Maklumlah kerana inilah kali pertama kami bertemu secara berdua sahaja dan di dalam bunglowku sendiri pula. Well... dia begitu cepat menyesuaikan diri. Sambil kuhulurkan minum, aku berbual dengannya sambil mendengar alunan musik romantik.
"Am tak sunyi tinggal seorang?" tanyanya memulakan bicara. "Siapa yang sudi temankan Am kak?..." balasku sambil memegang tangan dan merapat ke tubuhnya di atas sofa sambil membelainya. Dia memelukku secara tiba-tiba bagai tak ingin dilepaskan.
"Kak...., Am sunyi sekali di sini. Rumah besar tapi....!" kataku tersekat-sekat. "Kalau Am sunyi... biar akak saja yang hiburkan...! Itu pun kalau Am mau...!" katanya lagi sambil mengusap-usap pangkal paha ku. Lepas tu bibir kami pun bertaup rapat. "Bila-bila pun akak sudi temankan. Kalau Am nak akak boleh layan Am lebih dari suami akak sendiri...!"
Siti memegang tanganku dan membawanya ke arah bukit berkembar miliknya. Terasa kenyal daging yang membukit tersebut. Tanpa disuruh aku meramas kedua teteknya dengan ganas. Tak puas dari luar, aku buka kancing bajunya satu persatu hingga terburai kesemuanya. Teteknya bagai bersesak padat hendak keluar dari bra yang dipakainya. Dalam cahaya terang, teteknya nampak putih bersih tanpa sebarang cacat cela. Tanpa membuang masa aku pun tanggalkan cangkuk branya dari belakang. Lepas tu kulurutkan pula baju serta kain yang dipakainya.
Maka terdamparlah pakaiannya di atas lantai marble di ruang tamuku itu. Yang tinggal hanya seluar dalam yang bentuk "V" yang masih berperanan melindungi daerah terlarangnya itu. Aku mengulum dan menyonyot kepala teteknya yang bagaikan tumbung kelapa dengan bentuk bengkakkan di sekeliling tompok hitam kepala teteknya. Aku pasti anda pernah melihat bentuk seperti ini di dalam filem lucah. Malahan teteknya yang pejal itu juga membengkak seperti belon.
Dengan bernafsu sekali aku kerjakan teteknya. aku kulum dan aku nyonyot semahunya hinggakan dia menjerit-jerit kecil, "ahhh.. aaahh... ahhh...... seeddddaaapppnya...! Ammmm....!!!" bila ku gigit-gigit puting teteknya itu. Permainan kepala tetek berlangsung agak lama. Ianya sentiasa diiringi dengan dengusan nikmat dari mulutnya.
Kemudian kucium seluruh tubuhnya hingga dia menlentik-lentik tidak dapat menahan kegelian. Aku tidak mengucup bibirnya buat sementara waktu kerana bibirnya yang merkah itu akan ku lumat di akhir permainan nanti. Lagipun bibirnya amat menawan dengan gincu yang berkilat-kilat bagaikan berair dan sudah pasti ianya mahal.
Permainan di ruang tamu berlangsung cukup lama. Akhirnya aku merangkul tubuhnya untuk didukung masuk ke dalam bilik tidurku yang telah disusun kemas oleh pembantuku di siang hari tadi. Di atas tilam setebal satu setengah kaki itu aku londehkan seluar dalamnya dari tubuh. Kini terpampanglah segitiganya yang tembam dengan bulu hitam lebat merimbun di situ. Aku kangkangkan kedua pehanya selebar-lebarnya. Di bawah cahaya neon yang terang benderang itu maka terpampanglah rahsia peribadi miliknya itu.
"Kak... Am nak gunting sikit bulu akak ni ye....! Am nak buatkan satu bentuk yang menarik ok???" Kataku pada kak Siti. Terbedik-bedik biji matanya memikirkan hajat yang ku sampaikan itu. Tapi aku memang tak berniat nak tunggu jawapan darinya. Aku pun pantas mencapai pisau cukur, sikat dan gunting yang terletak di atas almari solekku.
Bagai seorang tukang gunting profesional aku melarikkan mata pisau cukur ke atas tundunnya. Dengan kedudukan mengangkang seluas itu, aku bebas mengerjakan laman terlarangnya itu. Mula mula aku buangkan bulu-bulu di sekeliling lurahnya. Kemudian aku bentukkan bentuk "Love" pada area atas sedikit dari kelentitnya yang nampak terjojol keluar. Aku gunting dan aku rapikan serapi yang mungkin.
Tanpa sebarang bantahan kak Siti menyerahkan kemaluannya untuk aku kerjakan. Sambil itu aku melayan kenakalan ku dengan mengentel-gentelkan kelentitnya berulang-ulang kali. Lama kelamaan terpancarlah lendiran yang membasahi lurah di bawahnya. Setelah selesai, aku menariknya masuk ke dalam bilik air di bilik aku itu. Di situ aku mula mencuci kemaluan kak Siti dengan shampoo. Aku buang semua cebisan bulu-bulu yang terlekat di celah lurahnya. Makulumlah lurahnya itu begitu melengas berair semasa aku mencukur bulu buritnya tadi.
Sambil menyempoo, aku urut dan kuis-kuis kelentitnya. Aku buat kak Siti bagaikan si anak kecil yang tak reti mencuci kangkangnya sendiri. Tanpa membantah kak Siti menyerahkan kangkangnya ke tangan ku. Terpejam pejam matanya menikmati belaian tangan ku di situ.
"Am...! Seedddaaappp laaaaa...!!! Main lagi kat situ......! Akak dah tak tahaaan... niiiiiiiii." Aku pun usap dan aku picit-picit kelentinya dengan rakus. Apa lagi, berlejeranlah lendir yang membasahi celah kangkangnya. Batang kejantananku juga sudah perit menonjol seluar jean yang masih aku pakai. Setelah selesai, aku bangunkan dia dan menariknya kembali ke dalam bilik.
Acara belaian diteruskan. Tapi kini giliran Kak Siti pula mengerjakan aku. Aku berbaring saja di atas katil. Pakaianku dibuangnya satu persatu. Akhirnya aku dibogelkan oleh Kak Siti dengan ganasnya. Pakaianku dirabutnya dengan kuat hingga baju T yang aku pakai itu terkoyak. Aku amat menyukai caranya. Sambil dia membuang pakaianku, tangannya membelai dan mengusap-usap tubuh serta kemaluanku. Akhir sekali tangannya menggenggam kemaluanku sambil mengosok dengan lembut. Ianya membuatkan aku terasa amat nikmat walaupun hanya dengan belaian tangannya saja.
Kak Siti ternyata bijak memainkan peranan. Setiap kali terasa kemaluanku digigit-gigit manja, dan sesekali juga seluruh batangku masuk ke dalam mulutnya. Ianya dihisap dan dilulur. Tanpa ku sedari aku menjerit, "aarrrruuuggghhh...!" Ketika itu batang kemaluanku ditokaknya dengan kuat secara tiba-tiba. Ianya seolah olah tanpa mahu
dilepaskannya. Lama batangku ditokak di dalam mulutnya. Kadang-kadang bagai dikunyahnya lembut.
Semakin lama semakin sedap ku rasakan. Apa lagi, aku pun mulalah menyorong tarik batang pelirku keluar masuk ke dalam mulut kak Siti. Tanganku pula tidak diam begitu sahaja. Aku pegang kepala kak Siti yang kecil itu. Sambil itu aku tarik tekan kepalanya hingga ke pangkal batang pelirku. Akibatnya berlumuranlah batang pelirku dengan air ludah Kak Siti.
"Aaarrrrr gggggghhhh...! Kkkkaaaaakkkkk tttttaakkk ttttaaahhhaan......!!! Aaaammm....! gggrrhhh.....!!!!!!" Berbagai macam bunyi yang tak tentu bahasa terbit dari mulut kak Siti. Namun aku tetap juga sorongkan batang saktiku itu sedalam-dalamnya ke dalam mulut tersebut. Akhirnya dapat ku rasakan yang ianya dah masuk melepasi kerongkong kak Siti. Ketika itu kehangatan bagaikan memijat-mijat pelirku. Memang dah terlalu dalam aku sorong batang pelirku itu. Keadaan itu jelas terbukti apabila bibir kak Siti pun sudah bertaut rapat ke pangkal tundun aku.
Agak lama juga aku benamkan batang pelirku ke kerongkong Kak Siti. Saja aku geram nak pekenakan mulutnya yang cantik itu. Kak Siti hampir tersedak kerana tidak dapat menahan nafas lagi. Matanya putih menahan nafas. Kak Siti mengelepar bagai ayam yang disembelih. Namun mulutnya tetap juga tak terlepas dari tancapan batang pelirku. Tangannya merewang-rewang cuba melepaskan mulutnya dari batang pelirku. Kakinya menendang-nendang, tapi tak satu pun yang mengenai sasaran. Yang berselerak hanyalah bantal, selimut dan cadar yang bagai dilanda taufan layaknya.
Kak Siti meronta semahu-mahunya. Celah kangkangnya berlendir dan comot dipaliti lendiran dari dalam buritnya sendiri. Memang banyak lendir pelicin yang terbit di situ. Lebih lebih lagi bila dah tiada bulu di sekeliling lurahnya itu. Maka jelaslah kelihatannya lendiran yang meleleh dari situ. Ianya dah penuh membasahi pangkal pehanya akibat dari rontaannya tadi. Nampaknya Kak Siti sudah pun berapa kali mencapai kemuncaknya. Lebih lebih lagi semasa tubuhnya mengejang keras sambil memeluk erat pada tubuhku.
Rontaan Kak Siti semakin lemah. Aku pun cabut keluar batang pelirku dari mulut Kak Siti untuk membiarkan ia mendapat nafas semula. Ketika itu kak Siti terlentang bulat bagaikan pengsan. Matanya tertutup rapat dengan hanya buah dadanya saja yang bergerak pantas naik turun bagaikan di pam-pam. Sambil kewalahan menarik nafas, dengusan nafasnya kuat sekali mengeluarkan bunyi, "ggggrrrhh....!!! gggrrrhhh....!!!" yang tidak putus-putus. Air liur berbuih-buih keluar dari mulut Kak Siti. Setelah sudah hampir dua setengah jam aku mengerjakannya, namun tiada tanda-tandanya yang aku telah puas. Yang pastinya aku akan terus mengganyang Kak Siti selepas ia pulih sebentar lagi.
Setengah jam telah berlalu bilamana batang kejantanan aku dah terkulai layu. Kesan tompokan merah dari gincu Kak Siti nyata terpalit di sekeliling kepala dan batang aku yang dilingkari oleh urat-urat kasar. Puas gak rasa hati ku kerana gincu mahal yang mencantikkan bibirnya itu, akhirnya menjadi alat bagi menyedapkan batang aku.
"Kak...dah okey ke???" tanyaku sambil mengusap lembut wajahnya. Dia tersenyum memejamkan mata sambil menganggukkan kepala. Gerak tangan aku perlahan-lahan mengusap tompokan bulu kemaluannya yang sudah berbentuk love. Terasa kesat dan tajam di situ kerana bulunya dah aku gunting pendek. Kemudian aku julurkan jari telunjukku menuruni lurah buritnya masih licin.
Jejariku bermain dan mengentel daging kelentitnya yang mulai mengeras. Semakin lama semakin keras ianya kurasakan. Dengan dua batang jari, aku mengepit kelentitnya sambil mengocok-gocok. Kelentitnya terjojol keluar dari kulit nipis yang menutupinya. Kelentik kak Siti aku pusing-pusingkan dengan jari ku yang berada pada hujung kelentit berkenaan. Apa lagi, berlenggoklah punggung Kak Siti mengiringi perbuatanku itu. Jika dia tak menyambut sebegitu nescaya koyaklah kelentiknya aku kerjakan.
Batang pelirku pun mulai mengeras. Aku kuak kedua peha Kak Siti hingga terkangkang luas. Kini giliran lidahku pula untuk mengerjakan kemaluan kak Siti. Aku mencium daerah terlarangnya. Aku sembamkan mukaku di situ dan aku putarkan mukaku pada buritnya. Sambil itu aku giat menghirup cairan licin yang terdapat di situ. Akibatnya, cairan tersebut semakin banyak terpancar dari burit sempit kepunyaan kak Siti.
Erangannya jelas terdengar. Kak Siti sudah tidak lagi tahu erti malu. Ini terbukti bila mana dia dengan tanpa segan silunya menjerit sekeras-kerasnya. Suasana banglow dan bilikku yang luas itu bergema dengan jeritan nafsunya yang memenuhi segenap ruang.
"Kak nak yang special tak?? tanyaku lagi. "Am... buatlah apa saja yang Am suka pada akak malam niii. Akak serahkan segalanya untuk hidangan Am....! Am boleh seksa akak lagi macam tadi pun......! Seedddddaaap.... sayang....!!!" bisik Kak Siti ke telingaku.
Aku semakin gairah bila mendengarkan lafaz pengabdian kak Siti terhadap ku. Aku pun angkat kaki Kak Siti setinggi yang boleh. Kemudian aku buka kangkangnya lebar-lebar. Hasilnya, maka terpampanglah dengan jelasnya setampok burit yang sudah terhidang di depan mata kepalaku.
"Akak tahan aje macam niee.....! Jangan tutup kangkang akak. Ini paling special untuk akak malam niee...!" kataku padanya. Tanpa memegang tubuhnya, aku hanya menjulurkan lidah ku menyentuh bibir buritnya. Kedua belah tangan ku sudah pun ke belakang tubuhku. Tangan kak Siti memegang kakinya sendiri supaya sentiasa terkangkang ketika aku menjalankan operasi dengan menggunakan mulut ku.
Aku jilat buritnya dari lubang dubur hingga naik ke atas kelentitnya. Ketika dikelentitnya, dengan skill tersendiri aku jilat secara memanjang ke atas. Serentak dengan itu, pantatnya pun ikut naik mengikuti jilatanku.
Apa lagi, buka main gila kak Siti menjerit, "uuuugggghhh....!!!! sedaaaapppnya....!!! AAAaaamm........!" Berkali-kali aku lakukan begitu iaitu tanpa menyentuh bahagian lain. Akibatnya, pemusatan keseluruhan nikmat yang kak Siti perolehi hanya tertumpu pada sekitar bahagian kelentitnya sahaja. Sesungguhnya itulah nikmat yang setiap perempuan cari. Cecair pelincir banyak keluar semasa operasi ini berlangsung. Suara jeritan nafsu kak Siti terus lantang berkumandang. Aku rasa ianya boleh kedengaran hingga ke perkarangan banglowku...!
"Ammm...akak dah tak tahan nieeeee...... eeeeeee...!!!!!! Masukkan batang Am ke dalam ya sayanggggg...!" Masa tu batang pelirku juga bagai meronta minta aku segera tusukkan ia ke dalam burit Kak Siti. Batang pelirku di raih oleh tangannya sambil digentel pada kelentitnya sendiri. Semakin ganas semakin ngilu terasa di hujung pelirku. Aku mengerang dalam kenikmatan.
Setelah tak tahan dipermainkan sebegitu rupa, maka kedua tanganku mulalah memegang kaki Kak Siti. Ianya aku kuak luas hingga terpampanglah buritnya dengan keadaan lubang yang kelihatan amat sempit. Aku rasa ianya hanya muat untuk menampung jari kelingking aku sahaja. Namun tetap aku halakan juga kepala torpedoku tepat di mulut buritnya.
Aku lihat Kak Siti menahan nafas sambil mengemut buritnya. Dapat aku rasakan lubang buritnya semakin mengecil kerana kepala pelirku terasa semakin merapat di situ. Aku tekan batang aku ke bawah untuk cuba memaksa ia memasuki pintu yang maha sempit itu. Burit dan punggungnya memang ikut tertekan ke bawah. Namun kepala pelirku sedikit pun tidak lepas masuk ke dalam lubang buritnya walaupun banyak air pelincir di situ.
Dua kali aku cuba tapi masih tetap sama. Aku mula tertanya tanya mungkinkah batang pelirku terlalu besar untuk lubangnya itu? Tapi saiz batang butuhku biasa sahaja cuma panjang sedikit dari kebanyakan lelaki Melayu. Akhirnya aku cuba menjoloknya dengan jari kelingkingku. Tapi Kak Siti pula segera menghalang. Tangannya dengan cepat menangkap tanganku sebelum sempat kujolokkan masuk ke dalam lubang buritnya.
"Am....! Yang ini special dari akak...! Jangan guna jariiiiii.....!" Kak Siti meminta kerjasama ku. Memang nyata lubang buritnya terlalu sempit. Aku tak dapat masukkan kepala butohku walau pun sedikit. Ianya hanya sekadar mencecah bibir dan pintu kemaluannya saja.
"Kak...! Kenapa sempit sangat niee.....?" Inilah kali pertama aku menutuh burit isteri seseorang yang sebegitu sempit. Bahkan ianya lebih sempit dari milik gadis perawan. Aku mula merasakan amat bertuah dapat menikmati persetubuhan ini.
"Am....! Ini rahsia akak tau.....! Khas untuk Am saja....!" katanya pada ku. "Akak akan tahan nafas sambil mengemut burit akak macam niii...." Kak Siti pun menunjukkan buritnya padaku. "Jadi.... itulah pasal lubang akak sentiasa sempit.....! Semasa Am nak masukkan tadi, otot di sekeliling lubang akak ni akan mengeras. Sebab tulah susah butuh Am nak masuk...!" Ujarnya dengan panjang lebar.
Aku akui bahawa kak Siti memanglah hebat. Walaupun agak berumur tapi buritnya sempit mengalahkan anak dara sunti...! Kak Siti memang mahir di dalam kesenian memainkan buritnya sendiri. Sebagai perbandingan, aku pernah menyuruh beberapa orang perempuan yang aku setubuhi selepas tu untuk melakukan cara serupa. Namun tak ada yang dapat menandingi kehebatan Kak Siti. Dia bukan saja sekadar dapat menahan kemutan dengan agak lama, malahan ia juga bertindak memicit-micit batang
pelir aku semasa hujaman dan tarikan. Ianya mampu kak Siti lakukan hanya dengan menggunakan kekuatan kemutan otot buritnya. Jadi memanglah tak hairan bila aku paling sedap bila dapat bersetubuh dengan Kak Siti.
Tak lama kemudian aku mencuba lagi untuk kali ketiganya. Masa tu aku perhatikan kak Siti agak terleka. Dia langsung tak perasan yang aku nak cuba rodokkan butoh aku ke dalam lubang kemaluannya. Menyedari akan kesempatan tersebut, aku pun rodoklah buritnya dengan ganas. Dengan satu tikaman yang amat keras aku terjahkan butoh aku ke arah lubang burit kak Siti. Secara tiba-tiba jugalah kepala pelirku terbenam ke dalam lubang buritnya.
Kak Siti kaget dengan tindakanku. Aku berjaya kali ini. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenggelam juga semua batang pelirku. Ianya dah pun selamat berkubang di dalam lubang nikmat Kak Siti. Aku tersenyum sedaaappppp...! Tanpa banyak membuang masa, acara sorong tarik pun bermulalah. Ianya seiringan dengan kemutan yang berterusan dari Kak Siti. Enjutan dari perlahan hinggalah ke pergelutan yang ganas berlaku antara aku dan Kak Siti.
Kumutan kemaluannya seiring dengan enjutan tongkat saktiku. Butoh ku rasanya seperti disedut-sedut memasuki kemaluannya semasa ia mengemut batang ku. Butoh ku juga terasa bagaikan tetek lembu yang diperah-perah bila berada di dalam kemaluan kak Siti. Ternyatalah bahawa lubangnya terlalu sempit jika dibandingkan dengan anak gadis lain yang pernah aku setubuhi. Itulah yang membuatkan aku amat ketagih untuk berulang kali bersetubuh dengan kak Siti.
Permainan agak lama menunjukkan tanda-tanda akan berakhirnya persetubuhan kami. Kak Siti sudah pun beberapa kali mencapai klimax. Berbagai style kami dah lakukan. Samada dari depan, sisi, atas, bawah dan belakang. Begitu juga dengan acara lipat-melipat juga yang tidak kurang hebatnya. Melentik-lentik tubuh Kak Siti aku kerjakan. Bagaikan ahli akrobatik dia jadinya.
Tubuh kecil molek Kak Siti yang ringan itu memudahkan kerjaku. Aku pangku dia sambil berdiri saja. Kemudian aku lipat kakinya hinggakan bertemu lutut dengan bahunya sendiri. Lepas tu ku hujam senjataku ke dalam kemaluannya secara terbalik dalam posisi begitu. Kepala pelirku menyentuh dan menghentak masuk hingga ke pintu rahim kak Siti yang agak pejal di dalam buritnya itu. Kasaran tindakkan aku tu membuatkan Kak Siti menjerit keras kerana terkejut disondoli kesenakkan.
Setelah hampir puas aku terlentangkan tubuhnya seperti posisi awal tadi. Sebelum mengakhiri persetubuhan, aku kejutkan kemaluan kak Siti dengan satu hujaman keras. Butoh panjang aku tu merodok buritnya sedalam yang mungkin. Pangkal butoh aku pun sampai dah boleh menyentuh-nyentuh biji kelentitnya.
Hujung kepala butuh ku pula dah sampai ke penghujungan telaga bunting kak Siti. Ia dah mula dapat menyentuh bahagian yang terasa keras dan agak kenyal di situ. Bila dah sampai ke tahap yang sebegitu, maka seiring Kak Siti pun mulalah menjerit ganas.
"AAAHHH.....!!! UUHHHH.........!!! hhheeee......!!! iiiiiiiitttttttt.....!!!" Terteran-teran
suara kak Siti. Aku pulak dengan satu kejutan yang pantas, aku cabut keluar keseluruhan batang sakti ku dari buritnya.
"Aaaaaaauuuuuuggggggghhhhhhh......!!!!!!!!" Jerit lolong dari kak Siti. Sambil itu kemaluannya bagaikan terkencing-kencing memancutkan beberapa das air yang serba jernih dan melekik-lekik. Ketika itu aku perhatikan bahawa kelakuan kemaluan kak Siti itu tak ubah seperti dia sedang menerbitkan air kencing. Itu yang membuatkan aku terkejut dan kaget.
Itulah pengalaman pertamaku dapat menutuh burit perempuan yang sampai kemaluannya boleh terpancutkan kencingan air yang sebegitu banyak. Air yang terpancut dari kemaluan kak Siti itu macam air kencing tapi aku rasa ianya bukanlah air kencing. Mungkin ianya satu macam semburan air nafsu yang terbitnya dari daya kemutan buritnya yang maha hebat itu.
Air nafsunya keluar lagi apabila ia mengemut-ngemutkan buritnya. Ketika aku gintel kelentitnya, lebih kencang kencingannya hingga membasahi sebahagian selimut dan tilamku. Sambil melolongkan jerit nikmat, Kak Siti tanpa segan silu terus memancutkan kencingan air nafsunya itu. Ukiran kenikmatan yang amat sangat di wajahnya itu membuatkan aku bertambah nafsu padanya.
Kekadang terpancut kencingan airnya hingga membasahi batangku yang sedang berada betul betul di hadapan kemaluannya. Ia berlaku beberapa kali lagi. Ketika itu tangan ku kemas mengepit kelentit Kak Siti. Keadaan yang sebegitu rupa hanya berlaku apabila Kak Siti benar-benar 100% puas dengan foreplay yang cukup panjang.
Setelah berkali-kali ku perhatikan, aku mula mengetahui teknik dan caranya untuk membuatkan Kak Siti mengelepar sampai memancutkan kencing air nafsunya pada setiap kali aku mengongkek buritnya. Suaminya sendiri tidak pernah menutuh buritnya sampai keluar air nafsu seperti yang aku lakukan itu. Kata kak Siti ianya terlalu nikmat dan tidak tertahan nafsunya bila aku berbuat begitu terhadapnya. Bayangkanlah bahawa pernah dia datang ke rumahku di tengah malam buta semata-mata untuk meminta aku mengongkek buritnya sampai terkeluar kencingan air nafsunya.
Pada malam tu saja kami dah berjaya lakukan sebanyak beberapa kali lagi. Akibatnya kami berdua merasai amat keletihan pada siang harinya. Berbogelan kami tidur berpelukan di atas tempat tidur yang sudah serba kebasahan. Badan kak Siti pula penuh terpalitkan air maniku yang kental. Bila air mani tu dah kering, ianya mulalah berkeruping pada badannya. Begitu jugalah pada keadaan muka dan di dalam mulut Kak Siti. Habis kesemua kecantikannya telah bersalut dengan kesan kesan pancutan air mani aku. Keesokannya, setelah puas melayari bahtera dengan kak Siti pada malam tadi, aku terpaksa mengambil cuti kerana amat keletihan.
Kini Kak Siti bagaikan ahli keluargaku sendiri. Dia bebas untuk masuk keluar ke dalam banglowku walaupun di siang hari ketika pembantu rumah aku ada di rumah. Aku pula sentiasa berkesanggupan untuk melayan nafsu buasnya. Walaupun kadang-kadang bila aku sedang bersetubuh dengan orang lain, Kak Siti rela menungu gilirannya untuk aku mnyetubuhi buritnya selepas itu. Bayangkanlah berapa lama masa yang diperlukan untuk aku ejakulasi lagi...! Pernah dari jam 10.00 malam hingga 3.00 pagi barulah air maniku keluar.
Inilah kesah cerita ku. Namun nama penuh terpaksalah aku rahsiakan. Cerita ini adalah pengalamaku sendiri. Itulah juga sebabnya aku masih membujang sampai ke hari ini. Sebab aku boleh mendapat nikmat seks pada bila-bila saja. Ada di antara perempuan yang aku kenali itu boleh aku ajak terus, dan ada pula yang terpaksa aku pujuk rayu dengan bermacam janji. Tetapi memang kesemua perempuan yang aku ngorat itu telah berjaya aku celapak kangkang mereka. Aku setubuhi mereka sampai selama beberapa jam. Bila benih zuriat aku tu dah berjaya aku taburkan ke dalam gudang bunting mereka, barulah aku berpuas hati.
Setiap anak dara yang terjerat masuk ke dalam banglowku ini, hanya aku benarkan pulang setelah aku melucutkan taraf kedaraan mereka itu. Begitu juga janda maupun isteri, semuanya pasti dapat menjadi habuan batang aku ni. Ada yang mudah dapat dan ada juga yang terpaksa bersusah-susah barulah boleh dapat. Namun kak Sitilah yang paling aku suka...! Sebab keupayaannya luar biasa dan ganas. Tempat tak kira, dari banglowku sendiri, dalam hutan, tepi sungai maupun dalam kereta.
Aku pernah pergi ke rumah seorang kawan perempuan pada hari raya. Dia tu masih menuntut di sekolah menengah yang berhampiran. Budaknya tinggi lampai dan berkulit putih melepak. Bodynya tu saja boleh buat berasap batang lelaki bila melihatkannya. Apa tidaknya, bontot dia dahlah besar, menunggek lak tu...! Buah dadanya yang tersergam indah itu jelas melengkapkan dia sebagai seorang perempuan yang cukup sempurna kejelitaannya.
Aku berkenalan dengan dia kira kira 2 bulan yang lalu. Pertama kali aku tengok dia aku dah syak bahawa dia tu masih dara lagi. Masa tu dia memakai T-shirt tanpa lengan yang jelas mendedahkan pusatnya. Kain yang dipakainya pula agak sendat dan ketat. Dengan corak pakaian yang sebegitu, memang mendidih nafsu aku dibuatnya. Segala liku bentuk tubuhnya yang cantik itu terpamir di depan mata kepala ku dengan sejelas jelasnya.
Awal awal lagi aku dah memasang niat serong terhadapnya. "Kejap nanti, dara kamu tu mesti aku pecahkan...!" Kata suara nafsu aku. Tapi ternyata dia bukannya gadis yang mudah untuk dirosakkan. Dari pagi aku melayaninya dengan berbagai janji dan pujukan. Namun dia tetap tidak berani untuk masuk ke banglowku.
Lepas makan tengahari, aku lepak dengan dia kat sebuah taman yang tak berapa jauh dari banglowku. Lebih kurang satu jam berada di situ, dia mula mengadu hendak buang air besar. Memandangkan tandas awam kat situ keadaannya kurang memuaskan, maka terbukalah alasan yang baik untuk aku mengundangnya ke banglowku. Oleh kerana dah terdesak maka dia pun bersetujulah dengan cadangan aku tu.
Bila dah masuk ke dalam bilek aku, senanglah kerja aku untuk memasukkan jarum pujukan yang selanjutnya. Rupa rupanya memang sudah ditakdirkan daranya itu pecah dengan sondolan butoh aku. Maka terjebak jugalah keperawanan si jelita itu menjadi mangsa butoh aku. Kesan kesan darah yang terdapat pada cadar putih aku tu akhirnya menjadi bukti akan kedurjanaan yang telah menodai kesuciannya itu.
Pada hari raya tahun itu aku memandu kereta kat kawasan rumahnya. Aku ternampak dia sedang menjirus bunga diperkarangan rumahnya. Masa tu dia berkain batik yang agak singkat lagi sendat. Segera aku memberhentikan kenderaan untuk menonton aksi pergerakkan tubuhnya yang cukup membangkitkan nafsu aku. Dari perhatian ku, aku dah dapat mengagak bahawa dia tidak memakai sebarang seluar dalam. "Nantilah....! Kejap lagi akan ku selak kain kamu tu sampai nampak lubang sedap kamu tu." Lafaz hajat hajat serong di hatiku.
Dia berT-Shirt hitam yang berlengan panjang. Tetapi potongannya amat singkat iaitu 6 inci di atas paras pusatnya. Bila dia mengangkat lengannya dengan agak tinggi, kemerahan puting susunya pun mampu terjenguk jenguk sikit bagi mengesahkan yang dia juga tak memakai coli. Bahagian perutnya yang putih melepak tu cukup cantik bila terdedah begitu. Segala yang ku lihat itu benar benar telah mengundang hajat berahi ku terhadapnya.
Aku pun segeralah parking kereta dan masuk untuk bertandang raya di rumahnya.
Secara kebetulan pula di rumahnya itu hanya tinggal dia dan ibunya saja. Ahli-ahli keluarganya yang lain tidak pulang berhari raya. Tak berapa lama kemudian ibunya pula tinggalkan aku berduaan dengan dia di rumah itu. Ibunya keluar ke rumah jiran sebelah untuk berhari raya di situ.
Dia pun datanglah kepada ku dengan membawa sedulang air minuman. Masa tu aku sedang duduk di atas sofa. Bila sampai aje dekat aku, aku pun pantas bertindak menyelak kainnya. Dia terperangkap tidak dapat menghalang perbuatan tak senonoh aku tu kerana kedua belah tangannya sedang memegang dulang air minuman. Maka dengan sewenang-wenanglah aku boleh bermaharajarela menyingkap kainnya dengan sesuka hati ku.
Apa lagi, terdedahlah kemaluannya yang tidak berbulu itu. Aku lilitkan kainnya itu pada paras pinggangnya. Maka terbogellah tubuhnya dari pinggang ke bawah. Kemudian aku tarik dia supaya duduk di atas pelir ku yang dah siap terpacak keras. Butoh aku tu tepat memasuki lubang kemaluannya. Apa lagi....! Aku pun hayun lah aksi persetubuhan kat ruang tamu rumahnya itu.
Masa tu pintu depan kat ruang tamu tu pun sedang terbuka luas. Dengan keadaan kami yang mengadap ke muka pintu, aku pasti sesiapa juga yang lalu lalang di situ sudah pasti boleh nampak akan perbuatan kami itu. Maklumlah hari raya. Memang pun ramai yang lalu lalang kat situ. Dan ramai juga yang telah dapat menyaksikan persetubuhan kami. Tapi aku rasa kebanyakkannya lebih berminat nak tengok kecantikan batang tubuh si dia tu.
Selama lebih sejam butoh aku berkubang dalam buritnya. Akhirnya aku pancut air mani aku ke dalam perutnya. Oleh kerana terlalu geram, maka amat banyak air benih itu aku taburkan ke dalam sarang buntingnya yang tengah subur itu. Tiba-tiba terdengar suara maknya masuk dari dapur ke ruang tamu. Kelam kabut dia bangun memperbetulkan kainnya. Nasib baik aku dah selamat tembak kesemua air mani ku ke dalam kemaluannya. Puas betul rasanya bila dapat selesaikan persetubuhan di dalam keadaan yang serba tidak selamat.
Bila maknya datang dia pun segera ke dapur. Maknya duduk di hadapan aku dengan membelakangi dapur. Aku berbual dengan maknya buat seketika. Perlahan lahan anaknya dia muncul dari dapur. Kali ini dia berkeadaan tanpa seurat benang di tubuhnya. Terkebil-kebil biji mata ku mengkagumi keberaniannya. Tapi maknya sedikit pun tak nampak perbuatan anaknya itu sebab ianya berlaku di belakangnya. Aku lihat pada kemaluannya dah penuh diselaputi air mani aku yang berwarna pekat keputihan. Tak kurang juga banyaknya yang dah melimpah ke pangkal pehanya. Dengan penuh bangganya dia mempamirkan hasil penzinaan yang baru saja selesai kami lakukan tadi.
Tanpa menoleh ke belakang, maknya bersuara menyuruh anaknya mengangkit kain di jemuran belakang rumah. Selamba aje anaknya menjawab persetujuan untuk melakukannya. Masa tu berdebar jantung ku takut kalau kalau maknya menoleh ke belakang. Anaknya pun segeralah bergerak ke arah pintu belakang. Tiba tiba talipon berdering dan segera diangkat oleh maknya. Sementara berlangsungnya perbualan talipon, aku memohon izin untuk ke bilek air di dapur sana.
Tujuan aku yang sebenarnya hanyalah untuk memerhatikan tingkah laku anaknya. Bila sampai saja di dapur aku lihat kain batik dan baju anaknya masih lagi terperap di atas lantai. Segera aku bergerak menuju ke pintu dapor yang memang dah ternganga itu. Perlahan lahan aku mengintai ke luar. Memanglah budak tu sedang mengangkit kain jemuran di belakang rumahnya. Dia berdiri mengadap ke arah aku. Tapi selamba aje dia melakukan kerja itu di dalam keadaan bertelanjang bulat.
Secara kebetulan pulak, tak berapa lama kemudian lalulah seorang hindu penjual roti. Aku teka sudah pasti budak itu segera berlari masuk ke dalam rumah kerana malu. Tapi sangkaan aku ternyata tidak tepat. Dia masih lagi selamba buat kerja di situ dengan menghalakan belakangnya ke arah si penjual roti. Si roti itu pula bukan main seronok lagi dapat tengok tubuh budak melayu yang serba putih melepak itu. Tapi dia cuma dapat tengok bahagian belakangnya saja. Seberapa hampir, dia pun parkinglah motosikalnya di situ. Jaraknya tak sampai 10 kaki dari kedudukan aku. Dengan budak perempuan itu pula tentulah lebih dekat lagi. Segala pelusok bahagian belakang tuboh bogel budak perempuan itu dapat ditontonnya dengan amat jelas.
Tak lama kemudian si cantik manis yang berbogel itu beraleh posisi. Dia berdiri mengadap si penjual roti tersebut. Dia seolah oleh sengaja nak mempamirkan tetek dan kemaluannya pada pada lelaki berkenaan. Mata lelaki itu jelas tertumpu pada celah kangkang budak tu. Cukup minat dia melihatkan ketembaman setampuk tundun yang tak berbulu itu.
Malahan kegeraman dia semakin ketara bila mana dia dah mula mengeluarkan butohnya sendiri. Batang yang hitam legamnya itu memang sudah jelas terpacak keras. Dari gaya keadaan tersebut aku agak dah tentu sekarang kurangnya seminggu batang itu tidak diservis.
Apa lagi, butoh yang keras itu pun mulalah dihayunnya dengan tangan sendiri. Budak perempuan itu pulak tercegat berdiri melayan pandangan ke arah batang hitam yang tidak bersunat itu. Mungkin dia berminat pada keadaan kepala butoh itu yang menyelinap keluar masuk melalui kulit yang tidak berkhatan itu.
Kepala butoh hindu yang sepanjang dua gengam tangan itu semakin pantas dihayun. Kegeraman nafsunya cukup tercuit dengan keadaan kemaluan perempuan melayu itu. Mana tidaknya, burit itu masih lagi penuh berselupur dengan kesan kesan air mani aku yang serba memutih. Segala bukti yang terpalit di celah kangkang budak itu adalah jelas menunjukkan bahawa dia baru saja selesai melakukan persetubuhan. Si penjual roti itu sudah pasti beranggapan bahawa kemaluan si cantik rupawan itu memang dah selalu menjadi sarang bagi memenuhi desakan butoh beberapa orang lelaki.
Aku lihat kepala butohnya dah mula berkilat kilat untuk meledakkan air mani. Dia melakukan beberapa langkah ke hadapan dan berhenti betul-betul di tepi pagar. Sambil melangkah, seluar yang dipakainya terlucut hingga ke pergelangan kakinya. Maka berbogellah juga si penjual roti itu dari paras pinggang ke bawah. Masa tu hanya jarak 3 kaki sahaja di antara dia dengan budak perempuan tu. Aku tau tujuannya untuk mendekatkan jarak ialah untuk memandikan budak telanjang itu dengan hujan air maninya nanti.
Tak berapa lama kemudian mulalah bersembur-sembur terbitnya pancutan air mani dari butoh yang tak berkhatan itu. Budak perempuan itu pula masih lagi selamba aje berdiri di tempatnya. Apalagi, alamat ratalah tubuh bogel itu kena simbah dengan air mani hindu tersebut. Lelehan tompok tompok yang serba keputihan penuh terpalit kat muka dan dadanya. Bibir merkah delima budak itu pun juga turut sama terkena semburan peluru nafsu si penjual roti itu.
Bukan main puas lagi hatinya dapat pekenakan lancapan yang sebegitu rupa ke atas seorang jelitawan melayu. Tak berapa lama kemudian dia pun beredarlah dari situ. Aku pun masuk semula ke dalam ruang tamu. Masa tu si maknya baru saja meletakkan gagang talipon. Aku pun duduk kembali di atas sofa dan meneruskan perbualan dengan maknya.
Sambil berbual aku nampak anaknya mucul dari dapur dengan membawa sebakul kain yang baru diangkitnya tadi. Berdebar jantung aku bila melihatkan keadaannya masih lagi telanjang. Kali ni lebih teruk lagi. Sekarang bukan saja kangkangnya yang penuh dengan kesan air mani, tapi kat muka dan dadanya pun sama juga.
Mujurlah ketika itu maknya sedang rancak berbual dengan aku. Jadi dia langsung tak berkesempatan untuk menoleh ke belakang. Si anaknya pula berbogelan aje di belakang maknya dan terus mendaki tangga menaiki tingkat atas.
Tak berapa lama kemudian aku pun meminta diri untuk pulang. Lepas peristiwa itu, adalah beberapa kali aku datang menjengok semula ke rumah tersebut. Bila dia datang menyambut aku kat pintu pagar dengan memakai T-shirt singat dan berkain batik, kat situ jugalah aku lucutkan kain batik yang dipakainya. Lepas itu barulah aku pimpin tangannya dan terus masuk ke dalam rumah. Bila air mani aku dah penuh bertakung di dalam perutnya barulah aku pulang.
Petikan dari pengalamanku juga, aku pernah amat menyukai pada seorang kenalan perempuan yang berumur awal 40'an. Dia ni isteri seorang pegawai majlis daerah. Siti namanya. Suaminya tidak dapat memberikan kepuasan kepadanya lantaran lemah sahwat kerana berbagai penyakit. Si Siti ni bertubuh kecil. Potongan rambutnya seperti Zarina Zainuddin, mengerbang tapi kemas. Dia bertubuh kecil, sekecil Shela Majid. Wajahnya ayu dengan make up yang sederhana tebal tetapi mampu memukau setiap lelaki yang memandang. Bibirnya sentiasa merah merkah dan menggairahkan. Buah dadanya menonjol dengan potongan badan yang cukup menggiurkan. Dia sentiasa berbaju kebaya atau kurung moden.
Satu malam aku bertemu dengannya dekat tempat parking, lalu aku mengajaknya ke tempat tinggalku. Aku membawanya ke banglowku di kawasan penempatan yang terasing dari hiruk-piruk kota dan tiada gangguan. Aku tinggal sendirian di situ.
Di ruang tamu rumahku aku meminta dia membiasakan diri seperti di rumah sendiri. Maklumlah kerana inilah kali pertama kami bertemu secara berdua sahaja dan di dalam bunglowku sendiri pula. Well... dia begitu cepat menyesuaikan diri. Sambil kuhulurkan minum, aku berbual dengannya sambil mendengar alunan musik romantik.
"Am tak sunyi tinggal seorang?" tanyanya memulakan bicara. "Siapa yang sudi temankan Am kak?..." balasku sambil memegang tangan dan merapat ke tubuhnya di atas sofa sambil membelainya. Dia memelukku secara tiba-tiba bagai tak ingin dilepaskan.
"Kak...., Am sunyi sekali di sini. Rumah besar tapi....!" kataku tersekat-sekat. "Kalau Am sunyi... biar akak saja yang hiburkan...! Itu pun kalau Am mau...!" katanya lagi sambil mengusap-usap pangkal paha ku. Lepas tu bibir kami pun bertaup rapat. "Bila-bila pun akak sudi temankan. Kalau Am nak akak boleh layan Am lebih dari suami akak sendiri...!"
Siti memegang tanganku dan membawanya ke arah bukit berkembar miliknya. Terasa kenyal daging yang membukit tersebut. Tanpa disuruh aku meramas kedua teteknya dengan ganas. Tak puas dari luar, aku buka kancing bajunya satu persatu hingga terburai kesemuanya. Teteknya bagai bersesak padat hendak keluar dari bra yang dipakainya. Dalam cahaya terang, teteknya nampak putih bersih tanpa sebarang cacat cela. Tanpa membuang masa aku pun tanggalkan cangkuk branya dari belakang. Lepas tu kulurutkan pula baju serta kain yang dipakainya.
Maka terdamparlah pakaiannya di atas lantai marble di ruang tamuku itu. Yang tinggal hanya seluar dalam yang bentuk "V" yang masih berperanan melindungi daerah terlarangnya itu. Aku mengulum dan menyonyot kepala teteknya yang bagaikan tumbung kelapa dengan bentuk bengkakkan di sekeliling tompok hitam kepala teteknya. Aku pasti anda pernah melihat bentuk seperti ini di dalam filem lucah. Malahan teteknya yang pejal itu juga membengkak seperti belon.
Dengan bernafsu sekali aku kerjakan teteknya. aku kulum dan aku nyonyot semahunya hinggakan dia menjerit-jerit kecil, "ahhh.. aaahh... ahhh...... seeddddaaapppnya...! Ammmm....!!!" bila ku gigit-gigit puting teteknya itu. Permainan kepala tetek berlangsung agak lama. Ianya sentiasa diiringi dengan dengusan nikmat dari mulutnya.
Kemudian kucium seluruh tubuhnya hingga dia menlentik-lentik tidak dapat menahan kegelian. Aku tidak mengucup bibirnya buat sementara waktu kerana bibirnya yang merkah itu akan ku lumat di akhir permainan nanti. Lagipun bibirnya amat menawan dengan gincu yang berkilat-kilat bagaikan berair dan sudah pasti ianya mahal.
Permainan di ruang tamu berlangsung cukup lama. Akhirnya aku merangkul tubuhnya untuk didukung masuk ke dalam bilik tidurku yang telah disusun kemas oleh pembantuku di siang hari tadi. Di atas tilam setebal satu setengah kaki itu aku londehkan seluar dalamnya dari tubuh. Kini terpampanglah segitiganya yang tembam dengan bulu hitam lebat merimbun di situ. Aku kangkangkan kedua pehanya selebar-lebarnya. Di bawah cahaya neon yang terang benderang itu maka terpampanglah rahsia peribadi miliknya itu.
"Kak... Am nak gunting sikit bulu akak ni ye....! Am nak buatkan satu bentuk yang menarik ok???" Kataku pada kak Siti. Terbedik-bedik biji matanya memikirkan hajat yang ku sampaikan itu. Tapi aku memang tak berniat nak tunggu jawapan darinya. Aku pun pantas mencapai pisau cukur, sikat dan gunting yang terletak di atas almari solekku.
Bagai seorang tukang gunting profesional aku melarikkan mata pisau cukur ke atas tundunnya. Dengan kedudukan mengangkang seluas itu, aku bebas mengerjakan laman terlarangnya itu. Mula mula aku buangkan bulu-bulu di sekeliling lurahnya. Kemudian aku bentukkan bentuk "Love" pada area atas sedikit dari kelentitnya yang nampak terjojol keluar. Aku gunting dan aku rapikan serapi yang mungkin.
Tanpa sebarang bantahan kak Siti menyerahkan kemaluannya untuk aku kerjakan. Sambil itu aku melayan kenakalan ku dengan mengentel-gentelkan kelentitnya berulang-ulang kali. Lama kelamaan terpancarlah lendiran yang membasahi lurah di bawahnya. Setelah selesai, aku menariknya masuk ke dalam bilik air di bilik aku itu. Di situ aku mula mencuci kemaluan kak Siti dengan shampoo. Aku buang semua cebisan bulu-bulu yang terlekat di celah lurahnya. Makulumlah lurahnya itu begitu melengas berair semasa aku mencukur bulu buritnya tadi.
Sambil menyempoo, aku urut dan kuis-kuis kelentitnya. Aku buat kak Siti bagaikan si anak kecil yang tak reti mencuci kangkangnya sendiri. Tanpa membantah kak Siti menyerahkan kangkangnya ke tangan ku. Terpejam pejam matanya menikmati belaian tangan ku di situ.
"Am...! Seedddaaappp laaaaa...!!! Main lagi kat situ......! Akak dah tak tahaaan... niiiiiiiii." Aku pun usap dan aku picit-picit kelentinya dengan rakus. Apa lagi, berlejeranlah lendir yang membasahi celah kangkangnya. Batang kejantananku juga sudah perit menonjol seluar jean yang masih aku pakai. Setelah selesai, aku bangunkan dia dan menariknya kembali ke dalam bilik.
Acara belaian diteruskan. Tapi kini giliran Kak Siti pula mengerjakan aku. Aku berbaring saja di atas katil. Pakaianku dibuangnya satu persatu. Akhirnya aku dibogelkan oleh Kak Siti dengan ganasnya. Pakaianku dirabutnya dengan kuat hingga baju T yang aku pakai itu terkoyak. Aku amat menyukai caranya. Sambil dia membuang pakaianku, tangannya membelai dan mengusap-usap tubuh serta kemaluanku. Akhir sekali tangannya menggenggam kemaluanku sambil mengosok dengan lembut. Ianya membuatkan aku terasa amat nikmat walaupun hanya dengan belaian tangannya saja.
Kak Siti ternyata bijak memainkan peranan. Setiap kali terasa kemaluanku digigit-gigit manja, dan sesekali juga seluruh batangku masuk ke dalam mulutnya. Ianya dihisap dan dilulur. Tanpa ku sedari aku menjerit, "aarrrruuuggghhh...!" Ketika itu batang kemaluanku ditokaknya dengan kuat secara tiba-tiba. Ianya seolah olah tanpa mahu
dilepaskannya. Lama batangku ditokak di dalam mulutnya. Kadang-kadang bagai dikunyahnya lembut.
Semakin lama semakin sedap ku rasakan. Apa lagi, aku pun mulalah menyorong tarik batang pelirku keluar masuk ke dalam mulut kak Siti. Tanganku pula tidak diam begitu sahaja. Aku pegang kepala kak Siti yang kecil itu. Sambil itu aku tarik tekan kepalanya hingga ke pangkal batang pelirku. Akibatnya berlumuranlah batang pelirku dengan air ludah Kak Siti.
"Aaarrrrr gggggghhhh...! Kkkkaaaaakkkkk tttttaakkk ttttaaahhhaan......!!! Aaaammm....! gggrrhhh.....!!!!!!" Berbagai macam bunyi yang tak tentu bahasa terbit dari mulut kak Siti. Namun aku tetap juga sorongkan batang saktiku itu sedalam-dalamnya ke dalam mulut tersebut. Akhirnya dapat ku rasakan yang ianya dah masuk melepasi kerongkong kak Siti. Ketika itu kehangatan bagaikan memijat-mijat pelirku. Memang dah terlalu dalam aku sorong batang pelirku itu. Keadaan itu jelas terbukti apabila bibir kak Siti pun sudah bertaut rapat ke pangkal tundun aku.
Agak lama juga aku benamkan batang pelirku ke kerongkong Kak Siti. Saja aku geram nak pekenakan mulutnya yang cantik itu. Kak Siti hampir tersedak kerana tidak dapat menahan nafas lagi. Matanya putih menahan nafas. Kak Siti mengelepar bagai ayam yang disembelih. Namun mulutnya tetap juga tak terlepas dari tancapan batang pelirku. Tangannya merewang-rewang cuba melepaskan mulutnya dari batang pelirku. Kakinya menendang-nendang, tapi tak satu pun yang mengenai sasaran. Yang berselerak hanyalah bantal, selimut dan cadar yang bagai dilanda taufan layaknya.
Kak Siti meronta semahu-mahunya. Celah kangkangnya berlendir dan comot dipaliti lendiran dari dalam buritnya sendiri. Memang banyak lendir pelicin yang terbit di situ. Lebih lebih lagi bila dah tiada bulu di sekeliling lurahnya itu. Maka jelaslah kelihatannya lendiran yang meleleh dari situ. Ianya dah penuh membasahi pangkal pehanya akibat dari rontaannya tadi. Nampaknya Kak Siti sudah pun berapa kali mencapai kemuncaknya. Lebih lebih lagi semasa tubuhnya mengejang keras sambil memeluk erat pada tubuhku.
Rontaan Kak Siti semakin lemah. Aku pun cabut keluar batang pelirku dari mulut Kak Siti untuk membiarkan ia mendapat nafas semula. Ketika itu kak Siti terlentang bulat bagaikan pengsan. Matanya tertutup rapat dengan hanya buah dadanya saja yang bergerak pantas naik turun bagaikan di pam-pam. Sambil kewalahan menarik nafas, dengusan nafasnya kuat sekali mengeluarkan bunyi, "ggggrrrhh....!!! gggrrrhhh....!!!" yang tidak putus-putus. Air liur berbuih-buih keluar dari mulut Kak Siti. Setelah sudah hampir dua setengah jam aku mengerjakannya, namun tiada tanda-tandanya yang aku telah puas. Yang pastinya aku akan terus mengganyang Kak Siti selepas ia pulih sebentar lagi.
Setengah jam telah berlalu bilamana batang kejantanan aku dah terkulai layu. Kesan tompokan merah dari gincu Kak Siti nyata terpalit di sekeliling kepala dan batang aku yang dilingkari oleh urat-urat kasar. Puas gak rasa hati ku kerana gincu mahal yang mencantikkan bibirnya itu, akhirnya menjadi alat bagi menyedapkan batang aku.
"Kak...dah okey ke???" tanyaku sambil mengusap lembut wajahnya. Dia tersenyum memejamkan mata sambil menganggukkan kepala. Gerak tangan aku perlahan-lahan mengusap tompokan bulu kemaluannya yang sudah berbentuk love. Terasa kesat dan tajam di situ kerana bulunya dah aku gunting pendek. Kemudian aku julurkan jari telunjukku menuruni lurah buritnya masih licin.
Jejariku bermain dan mengentel daging kelentitnya yang mulai mengeras. Semakin lama semakin keras ianya kurasakan. Dengan dua batang jari, aku mengepit kelentitnya sambil mengocok-gocok. Kelentitnya terjojol keluar dari kulit nipis yang menutupinya. Kelentik kak Siti aku pusing-pusingkan dengan jari ku yang berada pada hujung kelentit berkenaan. Apa lagi, berlenggoklah punggung Kak Siti mengiringi perbuatanku itu. Jika dia tak menyambut sebegitu nescaya koyaklah kelentiknya aku kerjakan.
Batang pelirku pun mulai mengeras. Aku kuak kedua peha Kak Siti hingga terkangkang luas. Kini giliran lidahku pula untuk mengerjakan kemaluan kak Siti. Aku mencium daerah terlarangnya. Aku sembamkan mukaku di situ dan aku putarkan mukaku pada buritnya. Sambil itu aku giat menghirup cairan licin yang terdapat di situ. Akibatnya, cairan tersebut semakin banyak terpancar dari burit sempit kepunyaan kak Siti.
Erangannya jelas terdengar. Kak Siti sudah tidak lagi tahu erti malu. Ini terbukti bila mana dia dengan tanpa segan silunya menjerit sekeras-kerasnya. Suasana banglow dan bilikku yang luas itu bergema dengan jeritan nafsunya yang memenuhi segenap ruang.
"Kak nak yang special tak?? tanyaku lagi. "Am... buatlah apa saja yang Am suka pada akak malam niii. Akak serahkan segalanya untuk hidangan Am....! Am boleh seksa akak lagi macam tadi pun......! Seedddddaaap.... sayang....!!!" bisik Kak Siti ke telingaku.
Aku semakin gairah bila mendengarkan lafaz pengabdian kak Siti terhadap ku. Aku pun angkat kaki Kak Siti setinggi yang boleh. Kemudian aku buka kangkangnya lebar-lebar. Hasilnya, maka terpampanglah dengan jelasnya setampok burit yang sudah terhidang di depan mata kepalaku.
"Akak tahan aje macam niee.....! Jangan tutup kangkang akak. Ini paling special untuk akak malam niee...!" kataku padanya. Tanpa memegang tubuhnya, aku hanya menjulurkan lidah ku menyentuh bibir buritnya. Kedua belah tangan ku sudah pun ke belakang tubuhku. Tangan kak Siti memegang kakinya sendiri supaya sentiasa terkangkang ketika aku menjalankan operasi dengan menggunakan mulut ku.
Aku jilat buritnya dari lubang dubur hingga naik ke atas kelentitnya. Ketika dikelentitnya, dengan skill tersendiri aku jilat secara memanjang ke atas. Serentak dengan itu, pantatnya pun ikut naik mengikuti jilatanku.
Apa lagi, buka main gila kak Siti menjerit, "uuuugggghhh....!!!! sedaaaapppnya....!!! AAAaaamm........!" Berkali-kali aku lakukan begitu iaitu tanpa menyentuh bahagian lain. Akibatnya, pemusatan keseluruhan nikmat yang kak Siti perolehi hanya tertumpu pada sekitar bahagian kelentitnya sahaja. Sesungguhnya itulah nikmat yang setiap perempuan cari. Cecair pelincir banyak keluar semasa operasi ini berlangsung. Suara jeritan nafsu kak Siti terus lantang berkumandang. Aku rasa ianya boleh kedengaran hingga ke perkarangan banglowku...!
"Ammm...akak dah tak tahan nieeeee...... eeeeeee...!!!!!! Masukkan batang Am ke dalam ya sayanggggg...!" Masa tu batang pelirku juga bagai meronta minta aku segera tusukkan ia ke dalam burit Kak Siti. Batang pelirku di raih oleh tangannya sambil digentel pada kelentitnya sendiri. Semakin ganas semakin ngilu terasa di hujung pelirku. Aku mengerang dalam kenikmatan.
Setelah tak tahan dipermainkan sebegitu rupa, maka kedua tanganku mulalah memegang kaki Kak Siti. Ianya aku kuak luas hingga terpampanglah buritnya dengan keadaan lubang yang kelihatan amat sempit. Aku rasa ianya hanya muat untuk menampung jari kelingking aku sahaja. Namun tetap aku halakan juga kepala torpedoku tepat di mulut buritnya.
Aku lihat Kak Siti menahan nafas sambil mengemut buritnya. Dapat aku rasakan lubang buritnya semakin mengecil kerana kepala pelirku terasa semakin merapat di situ. Aku tekan batang aku ke bawah untuk cuba memaksa ia memasuki pintu yang maha sempit itu. Burit dan punggungnya memang ikut tertekan ke bawah. Namun kepala pelirku sedikit pun tidak lepas masuk ke dalam lubang buritnya walaupun banyak air pelincir di situ.
Dua kali aku cuba tapi masih tetap sama. Aku mula tertanya tanya mungkinkah batang pelirku terlalu besar untuk lubangnya itu? Tapi saiz batang butuhku biasa sahaja cuma panjang sedikit dari kebanyakan lelaki Melayu. Akhirnya aku cuba menjoloknya dengan jari kelingkingku. Tapi Kak Siti pula segera menghalang. Tangannya dengan cepat menangkap tanganku sebelum sempat kujolokkan masuk ke dalam lubang buritnya.
"Am....! Yang ini special dari akak...! Jangan guna jariiiiii.....!" Kak Siti meminta kerjasama ku. Memang nyata lubang buritnya terlalu sempit. Aku tak dapat masukkan kepala butohku walau pun sedikit. Ianya hanya sekadar mencecah bibir dan pintu kemaluannya saja.
"Kak...! Kenapa sempit sangat niee.....?" Inilah kali pertama aku menutuh burit isteri seseorang yang sebegitu sempit. Bahkan ianya lebih sempit dari milik gadis perawan. Aku mula merasakan amat bertuah dapat menikmati persetubuhan ini.
"Am....! Ini rahsia akak tau.....! Khas untuk Am saja....!" katanya pada ku. "Akak akan tahan nafas sambil mengemut burit akak macam niii...." Kak Siti pun menunjukkan buritnya padaku. "Jadi.... itulah pasal lubang akak sentiasa sempit.....! Semasa Am nak masukkan tadi, otot di sekeliling lubang akak ni akan mengeras. Sebab tulah susah butuh Am nak masuk...!" Ujarnya dengan panjang lebar.
Aku akui bahawa kak Siti memanglah hebat. Walaupun agak berumur tapi buritnya sempit mengalahkan anak dara sunti...! Kak Siti memang mahir di dalam kesenian memainkan buritnya sendiri. Sebagai perbandingan, aku pernah menyuruh beberapa orang perempuan yang aku setubuhi selepas tu untuk melakukan cara serupa. Namun tak ada yang dapat menandingi kehebatan Kak Siti. Dia bukan saja sekadar dapat menahan kemutan dengan agak lama, malahan ia juga bertindak memicit-micit batang
pelir aku semasa hujaman dan tarikan. Ianya mampu kak Siti lakukan hanya dengan menggunakan kekuatan kemutan otot buritnya. Jadi memanglah tak hairan bila aku paling sedap bila dapat bersetubuh dengan Kak Siti.
Tak lama kemudian aku mencuba lagi untuk kali ketiganya. Masa tu aku perhatikan kak Siti agak terleka. Dia langsung tak perasan yang aku nak cuba rodokkan butoh aku ke dalam lubang kemaluannya. Menyedari akan kesempatan tersebut, aku pun rodoklah buritnya dengan ganas. Dengan satu tikaman yang amat keras aku terjahkan butoh aku ke arah lubang burit kak Siti. Secara tiba-tiba jugalah kepala pelirku terbenam ke dalam lubang buritnya.
Kak Siti kaget dengan tindakanku. Aku berjaya kali ini. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya tenggelam juga semua batang pelirku. Ianya dah pun selamat berkubang di dalam lubang nikmat Kak Siti. Aku tersenyum sedaaappppp...! Tanpa banyak membuang masa, acara sorong tarik pun bermulalah. Ianya seiringan dengan kemutan yang berterusan dari Kak Siti. Enjutan dari perlahan hinggalah ke pergelutan yang ganas berlaku antara aku dan Kak Siti.
Kumutan kemaluannya seiring dengan enjutan tongkat saktiku. Butoh ku rasanya seperti disedut-sedut memasuki kemaluannya semasa ia mengemut batang ku. Butoh ku juga terasa bagaikan tetek lembu yang diperah-perah bila berada di dalam kemaluan kak Siti. Ternyatalah bahawa lubangnya terlalu sempit jika dibandingkan dengan anak gadis lain yang pernah aku setubuhi. Itulah yang membuatkan aku amat ketagih untuk berulang kali bersetubuh dengan kak Siti.
Permainan agak lama menunjukkan tanda-tanda akan berakhirnya persetubuhan kami. Kak Siti sudah pun beberapa kali mencapai klimax. Berbagai style kami dah lakukan. Samada dari depan, sisi, atas, bawah dan belakang. Begitu juga dengan acara lipat-melipat juga yang tidak kurang hebatnya. Melentik-lentik tubuh Kak Siti aku kerjakan. Bagaikan ahli akrobatik dia jadinya.
Tubuh kecil molek Kak Siti yang ringan itu memudahkan kerjaku. Aku pangku dia sambil berdiri saja. Kemudian aku lipat kakinya hinggakan bertemu lutut dengan bahunya sendiri. Lepas tu ku hujam senjataku ke dalam kemaluannya secara terbalik dalam posisi begitu. Kepala pelirku menyentuh dan menghentak masuk hingga ke pintu rahim kak Siti yang agak pejal di dalam buritnya itu. Kasaran tindakkan aku tu membuatkan Kak Siti menjerit keras kerana terkejut disondoli kesenakkan.
Setelah hampir puas aku terlentangkan tubuhnya seperti posisi awal tadi. Sebelum mengakhiri persetubuhan, aku kejutkan kemaluan kak Siti dengan satu hujaman keras. Butoh panjang aku tu merodok buritnya sedalam yang mungkin. Pangkal butoh aku pun sampai dah boleh menyentuh-nyentuh biji kelentitnya.
Hujung kepala butuh ku pula dah sampai ke penghujungan telaga bunting kak Siti. Ia dah mula dapat menyentuh bahagian yang terasa keras dan agak kenyal di situ. Bila dah sampai ke tahap yang sebegitu, maka seiring Kak Siti pun mulalah menjerit ganas.
"AAAHHH.....!!! UUHHHH.........!!! hhheeee......!!! iiiiiiiitttttttt.....!!!" Terteran-teran
suara kak Siti. Aku pulak dengan satu kejutan yang pantas, aku cabut keluar keseluruhan batang sakti ku dari buritnya.
"Aaaaaaauuuuuuggggggghhhhhhh......!!!!!!!!" Jerit lolong dari kak Siti. Sambil itu kemaluannya bagaikan terkencing-kencing memancutkan beberapa das air yang serba jernih dan melekik-lekik. Ketika itu aku perhatikan bahawa kelakuan kemaluan kak Siti itu tak ubah seperti dia sedang menerbitkan air kencing. Itu yang membuatkan aku terkejut dan kaget.
Itulah pengalaman pertamaku dapat menutuh burit perempuan yang sampai kemaluannya boleh terpancutkan kencingan air yang sebegitu banyak. Air yang terpancut dari kemaluan kak Siti itu macam air kencing tapi aku rasa ianya bukanlah air kencing. Mungkin ianya satu macam semburan air nafsu yang terbitnya dari daya kemutan buritnya yang maha hebat itu.
Air nafsunya keluar lagi apabila ia mengemut-ngemutkan buritnya. Ketika aku gintel kelentitnya, lebih kencang kencingannya hingga membasahi sebahagian selimut dan tilamku. Sambil melolongkan jerit nikmat, Kak Siti tanpa segan silu terus memancutkan kencingan air nafsunya itu. Ukiran kenikmatan yang amat sangat di wajahnya itu membuatkan aku bertambah nafsu padanya.
Kekadang terpancut kencingan airnya hingga membasahi batangku yang sedang berada betul betul di hadapan kemaluannya. Ia berlaku beberapa kali lagi. Ketika itu tangan ku kemas mengepit kelentit Kak Siti. Keadaan yang sebegitu rupa hanya berlaku apabila Kak Siti benar-benar 100% puas dengan foreplay yang cukup panjang.
Setelah berkali-kali ku perhatikan, aku mula mengetahui teknik dan caranya untuk membuatkan Kak Siti mengelepar sampai memancutkan kencing air nafsunya pada setiap kali aku mengongkek buritnya. Suaminya sendiri tidak pernah menutuh buritnya sampai keluar air nafsu seperti yang aku lakukan itu. Kata kak Siti ianya terlalu nikmat dan tidak tertahan nafsunya bila aku berbuat begitu terhadapnya. Bayangkanlah bahawa pernah dia datang ke rumahku di tengah malam buta semata-mata untuk meminta aku mengongkek buritnya sampai terkeluar kencingan air nafsunya.
Pada malam tu saja kami dah berjaya lakukan sebanyak beberapa kali lagi. Akibatnya kami berdua merasai amat keletihan pada siang harinya. Berbogelan kami tidur berpelukan di atas tempat tidur yang sudah serba kebasahan. Badan kak Siti pula penuh terpalitkan air maniku yang kental. Bila air mani tu dah kering, ianya mulalah berkeruping pada badannya. Begitu jugalah pada keadaan muka dan di dalam mulut Kak Siti. Habis kesemua kecantikannya telah bersalut dengan kesan kesan pancutan air mani aku. Keesokannya, setelah puas melayari bahtera dengan kak Siti pada malam tadi, aku terpaksa mengambil cuti kerana amat keletihan.
Kini Kak Siti bagaikan ahli keluargaku sendiri. Dia bebas untuk masuk keluar ke dalam banglowku walaupun di siang hari ketika pembantu rumah aku ada di rumah. Aku pula sentiasa berkesanggupan untuk melayan nafsu buasnya. Walaupun kadang-kadang bila aku sedang bersetubuh dengan orang lain, Kak Siti rela menungu gilirannya untuk aku mnyetubuhi buritnya selepas itu. Bayangkanlah berapa lama masa yang diperlukan untuk aku ejakulasi lagi...! Pernah dari jam 10.00 malam hingga 3.00 pagi barulah air maniku keluar.
Inilah kesah cerita ku. Namun nama penuh terpaksalah aku rahsiakan. Cerita ini adalah pengalamaku sendiri. Itulah juga sebabnya aku masih membujang sampai ke hari ini. Sebab aku boleh mendapat nikmat seks pada bila-bila saja. Ada di antara perempuan yang aku kenali itu boleh aku ajak terus, dan ada pula yang terpaksa aku pujuk rayu dengan bermacam janji. Tetapi memang kesemua perempuan yang aku ngorat itu telah berjaya aku celapak kangkang mereka. Aku setubuhi mereka sampai selama beberapa jam. Bila benih zuriat aku tu dah berjaya aku taburkan ke dalam gudang bunting mereka, barulah aku berpuas hati.
Setiap anak dara yang terjerat masuk ke dalam banglowku ini, hanya aku benarkan pulang setelah aku melucutkan taraf kedaraan mereka itu. Begitu juga janda maupun isteri, semuanya pasti dapat menjadi habuan batang aku ni. Ada yang mudah dapat dan ada juga yang terpaksa bersusah-susah barulah boleh dapat. Namun kak Sitilah yang paling aku suka...! Sebab keupayaannya luar biasa dan ganas. Tempat tak kira, dari banglowku sendiri, dalam hutan, tepi sungai maupun dalam kereta.
Aku pernah pergi ke rumah seorang kawan perempuan pada hari raya. Dia tu masih menuntut di sekolah menengah yang berhampiran. Budaknya tinggi lampai dan berkulit putih melepak. Bodynya tu saja boleh buat berasap batang lelaki bila melihatkannya. Apa tidaknya, bontot dia dahlah besar, menunggek lak tu...! Buah dadanya yang tersergam indah itu jelas melengkapkan dia sebagai seorang perempuan yang cukup sempurna kejelitaannya.
Aku berkenalan dengan dia kira kira 2 bulan yang lalu. Pertama kali aku tengok dia aku dah syak bahawa dia tu masih dara lagi. Masa tu dia memakai T-shirt tanpa lengan yang jelas mendedahkan pusatnya. Kain yang dipakainya pula agak sendat dan ketat. Dengan corak pakaian yang sebegitu, memang mendidih nafsu aku dibuatnya. Segala liku bentuk tubuhnya yang cantik itu terpamir di depan mata kepala ku dengan sejelas jelasnya.
Awal awal lagi aku dah memasang niat serong terhadapnya. "Kejap nanti, dara kamu tu mesti aku pecahkan...!" Kata suara nafsu aku. Tapi ternyata dia bukannya gadis yang mudah untuk dirosakkan. Dari pagi aku melayaninya dengan berbagai janji dan pujukan. Namun dia tetap tidak berani untuk masuk ke banglowku.
Lepas makan tengahari, aku lepak dengan dia kat sebuah taman yang tak berapa jauh dari banglowku. Lebih kurang satu jam berada di situ, dia mula mengadu hendak buang air besar. Memandangkan tandas awam kat situ keadaannya kurang memuaskan, maka terbukalah alasan yang baik untuk aku mengundangnya ke banglowku. Oleh kerana dah terdesak maka dia pun bersetujulah dengan cadangan aku tu.
Bila dah masuk ke dalam bilek aku, senanglah kerja aku untuk memasukkan jarum pujukan yang selanjutnya. Rupa rupanya memang sudah ditakdirkan daranya itu pecah dengan sondolan butoh aku. Maka terjebak jugalah keperawanan si jelita itu menjadi mangsa butoh aku. Kesan kesan darah yang terdapat pada cadar putih aku tu akhirnya menjadi bukti akan kedurjanaan yang telah menodai kesuciannya itu.
Pada hari raya tahun itu aku memandu kereta kat kawasan rumahnya. Aku ternampak dia sedang menjirus bunga diperkarangan rumahnya. Masa tu dia berkain batik yang agak singkat lagi sendat. Segera aku memberhentikan kenderaan untuk menonton aksi pergerakkan tubuhnya yang cukup membangkitkan nafsu aku. Dari perhatian ku, aku dah dapat mengagak bahawa dia tidak memakai sebarang seluar dalam. "Nantilah....! Kejap lagi akan ku selak kain kamu tu sampai nampak lubang sedap kamu tu." Lafaz hajat hajat serong di hatiku.
Dia berT-Shirt hitam yang berlengan panjang. Tetapi potongannya amat singkat iaitu 6 inci di atas paras pusatnya. Bila dia mengangkat lengannya dengan agak tinggi, kemerahan puting susunya pun mampu terjenguk jenguk sikit bagi mengesahkan yang dia juga tak memakai coli. Bahagian perutnya yang putih melepak tu cukup cantik bila terdedah begitu. Segala yang ku lihat itu benar benar telah mengundang hajat berahi ku terhadapnya.
Aku pun segeralah parking kereta dan masuk untuk bertandang raya di rumahnya.
Secara kebetulan pula di rumahnya itu hanya tinggal dia dan ibunya saja. Ahli-ahli keluarganya yang lain tidak pulang berhari raya. Tak berapa lama kemudian ibunya pula tinggalkan aku berduaan dengan dia di rumah itu. Ibunya keluar ke rumah jiran sebelah untuk berhari raya di situ.
Dia pun datanglah kepada ku dengan membawa sedulang air minuman. Masa tu aku sedang duduk di atas sofa. Bila sampai aje dekat aku, aku pun pantas bertindak menyelak kainnya. Dia terperangkap tidak dapat menghalang perbuatan tak senonoh aku tu kerana kedua belah tangannya sedang memegang dulang air minuman. Maka dengan sewenang-wenanglah aku boleh bermaharajarela menyingkap kainnya dengan sesuka hati ku.
Apa lagi, terdedahlah kemaluannya yang tidak berbulu itu. Aku lilitkan kainnya itu pada paras pinggangnya. Maka terbogellah tubuhnya dari pinggang ke bawah. Kemudian aku tarik dia supaya duduk di atas pelir ku yang dah siap terpacak keras. Butoh aku tu tepat memasuki lubang kemaluannya. Apa lagi....! Aku pun hayun lah aksi persetubuhan kat ruang tamu rumahnya itu.
Masa tu pintu depan kat ruang tamu tu pun sedang terbuka luas. Dengan keadaan kami yang mengadap ke muka pintu, aku pasti sesiapa juga yang lalu lalang di situ sudah pasti boleh nampak akan perbuatan kami itu. Maklumlah hari raya. Memang pun ramai yang lalu lalang kat situ. Dan ramai juga yang telah dapat menyaksikan persetubuhan kami. Tapi aku rasa kebanyakkannya lebih berminat nak tengok kecantikan batang tubuh si dia tu.
Selama lebih sejam butoh aku berkubang dalam buritnya. Akhirnya aku pancut air mani aku ke dalam perutnya. Oleh kerana terlalu geram, maka amat banyak air benih itu aku taburkan ke dalam sarang buntingnya yang tengah subur itu. Tiba-tiba terdengar suara maknya masuk dari dapur ke ruang tamu. Kelam kabut dia bangun memperbetulkan kainnya. Nasib baik aku dah selamat tembak kesemua air mani ku ke dalam kemaluannya. Puas betul rasanya bila dapat selesaikan persetubuhan di dalam keadaan yang serba tidak selamat.
Bila maknya datang dia pun segera ke dapur. Maknya duduk di hadapan aku dengan membelakangi dapur. Aku berbual dengan maknya buat seketika. Perlahan lahan anaknya dia muncul dari dapur. Kali ini dia berkeadaan tanpa seurat benang di tubuhnya. Terkebil-kebil biji mata ku mengkagumi keberaniannya. Tapi maknya sedikit pun tak nampak perbuatan anaknya itu sebab ianya berlaku di belakangnya. Aku lihat pada kemaluannya dah penuh diselaputi air mani aku yang berwarna pekat keputihan. Tak kurang juga banyaknya yang dah melimpah ke pangkal pehanya. Dengan penuh bangganya dia mempamirkan hasil penzinaan yang baru saja selesai kami lakukan tadi.
Tanpa menoleh ke belakang, maknya bersuara menyuruh anaknya mengangkit kain di jemuran belakang rumah. Selamba aje anaknya menjawab persetujuan untuk melakukannya. Masa tu berdebar jantung ku takut kalau kalau maknya menoleh ke belakang. Anaknya pun segeralah bergerak ke arah pintu belakang. Tiba tiba talipon berdering dan segera diangkat oleh maknya. Sementara berlangsungnya perbualan talipon, aku memohon izin untuk ke bilek air di dapur sana.
Tujuan aku yang sebenarnya hanyalah untuk memerhatikan tingkah laku anaknya. Bila sampai saja di dapur aku lihat kain batik dan baju anaknya masih lagi terperap di atas lantai. Segera aku bergerak menuju ke pintu dapor yang memang dah ternganga itu. Perlahan lahan aku mengintai ke luar. Memanglah budak tu sedang mengangkit kain jemuran di belakang rumahnya. Dia berdiri mengadap ke arah aku. Tapi selamba aje dia melakukan kerja itu di dalam keadaan bertelanjang bulat.
Secara kebetulan pulak, tak berapa lama kemudian lalulah seorang hindu penjual roti. Aku teka sudah pasti budak itu segera berlari masuk ke dalam rumah kerana malu. Tapi sangkaan aku ternyata tidak tepat. Dia masih lagi selamba buat kerja di situ dengan menghalakan belakangnya ke arah si penjual roti. Si roti itu pula bukan main seronok lagi dapat tengok tubuh budak melayu yang serba putih melepak itu. Tapi dia cuma dapat tengok bahagian belakangnya saja. Seberapa hampir, dia pun parkinglah motosikalnya di situ. Jaraknya tak sampai 10 kaki dari kedudukan aku. Dengan budak perempuan itu pula tentulah lebih dekat lagi. Segala pelusok bahagian belakang tuboh bogel budak perempuan itu dapat ditontonnya dengan amat jelas.
Tak lama kemudian si cantik manis yang berbogel itu beraleh posisi. Dia berdiri mengadap si penjual roti tersebut. Dia seolah oleh sengaja nak mempamirkan tetek dan kemaluannya pada pada lelaki berkenaan. Mata lelaki itu jelas tertumpu pada celah kangkang budak tu. Cukup minat dia melihatkan ketembaman setampuk tundun yang tak berbulu itu.
Malahan kegeraman dia semakin ketara bila mana dia dah mula mengeluarkan butohnya sendiri. Batang yang hitam legamnya itu memang sudah jelas terpacak keras. Dari gaya keadaan tersebut aku agak dah tentu sekarang kurangnya seminggu batang itu tidak diservis.
Apa lagi, butoh yang keras itu pun mulalah dihayunnya dengan tangan sendiri. Budak perempuan itu pulak tercegat berdiri melayan pandangan ke arah batang hitam yang tidak bersunat itu. Mungkin dia berminat pada keadaan kepala butoh itu yang menyelinap keluar masuk melalui kulit yang tidak berkhatan itu.
Kepala butoh hindu yang sepanjang dua gengam tangan itu semakin pantas dihayun. Kegeraman nafsunya cukup tercuit dengan keadaan kemaluan perempuan melayu itu. Mana tidaknya, burit itu masih lagi penuh berselupur dengan kesan kesan air mani aku yang serba memutih. Segala bukti yang terpalit di celah kangkang budak itu adalah jelas menunjukkan bahawa dia baru saja selesai melakukan persetubuhan. Si penjual roti itu sudah pasti beranggapan bahawa kemaluan si cantik rupawan itu memang dah selalu menjadi sarang bagi memenuhi desakan butoh beberapa orang lelaki.
Aku lihat kepala butohnya dah mula berkilat kilat untuk meledakkan air mani. Dia melakukan beberapa langkah ke hadapan dan berhenti betul-betul di tepi pagar. Sambil melangkah, seluar yang dipakainya terlucut hingga ke pergelangan kakinya. Maka berbogellah juga si penjual roti itu dari paras pinggang ke bawah. Masa tu hanya jarak 3 kaki sahaja di antara dia dengan budak perempuan tu. Aku tau tujuannya untuk mendekatkan jarak ialah untuk memandikan budak telanjang itu dengan hujan air maninya nanti.
Tak berapa lama kemudian mulalah bersembur-sembur terbitnya pancutan air mani dari butoh yang tak berkhatan itu. Budak perempuan itu pula masih lagi selamba aje berdiri di tempatnya. Apalagi, alamat ratalah tubuh bogel itu kena simbah dengan air mani hindu tersebut. Lelehan tompok tompok yang serba keputihan penuh terpalit kat muka dan dadanya. Bibir merkah delima budak itu pun juga turut sama terkena semburan peluru nafsu si penjual roti itu.
Bukan main puas lagi hatinya dapat pekenakan lancapan yang sebegitu rupa ke atas seorang jelitawan melayu. Tak berapa lama kemudian dia pun beredarlah dari situ. Aku pun masuk semula ke dalam ruang tamu. Masa tu si maknya baru saja meletakkan gagang talipon. Aku pun duduk kembali di atas sofa dan meneruskan perbualan dengan maknya.
Sambil berbual aku nampak anaknya mucul dari dapur dengan membawa sebakul kain yang baru diangkitnya tadi. Berdebar jantung aku bila melihatkan keadaannya masih lagi telanjang. Kali ni lebih teruk lagi. Sekarang bukan saja kangkangnya yang penuh dengan kesan air mani, tapi kat muka dan dadanya pun sama juga.
Mujurlah ketika itu maknya sedang rancak berbual dengan aku. Jadi dia langsung tak berkesempatan untuk menoleh ke belakang. Si anaknya pula berbogelan aje di belakang maknya dan terus mendaki tangga menaiki tingkat atas.
Tak berapa lama kemudian aku pun meminta diri untuk pulang. Lepas peristiwa itu, adalah beberapa kali aku datang menjengok semula ke rumah tersebut. Bila dia datang menyambut aku kat pintu pagar dengan memakai T-shirt singat dan berkain batik, kat situ jugalah aku lucutkan kain batik yang dipakainya. Lepas itu barulah aku pimpin tangannya dan terus masuk ke dalam rumah. Bila air mani aku dah penuh bertakung di dalam perutnya barulah aku pulang.
Subscribe to:
Posts (Atom)