Friday, February 22, 2013

Teman Lama Ganas

Suasana department store yang demikian ramai, dipenuhi orang sedang berbelanja, tiba-tiba seorang wanita menyapa dari belakang. Ternyata temanku saat masih SMP bernama Gemini yang biasa dipanggil Gemi. Tapi sekarang penampilannya sangat aduhai, ia mempunyai tubuh yang indah meski umurnya sama denganku 35 tahun. Lain sekali dengan dulu, kurus, rambutnya pecah2 agak kemerah merahan, mungkin tidak pernah kena shampoo karena faktor keuangan yang minim. Payudaranya juga sangat ranum dan besar membusung, mungkin ukurannya 38DD, sehingga terlihat sangat menonjol karena ia menggunakan kaos ketat terusan sampai dengkul.

Kami minum di kafe sambil berbicara dari barat ke timur sehingga aku mengetahui bahwa ia sekarang menjadi wanita panggilan tingkat atas dengan tarif 2 juta/malam. Wow.. mahal juga.

Ia bercerita tentang masa lalu bahwa ia sebenarnya telah menaruh hati padaku saat SMP. Karena SMA-nya terpisah maka ia sulit untuk bertemu aku lagi. Tapi ia selalu mencariku sekedar untuk melihat dan sepulangnya ia selalu membayangkan diriku dalam khayalannya mencumbu diriku. Ia menceritakan ini tanpa terlihat canggung, mungkin karena kita sudah sama2 dewasa. Ia bilang bahwa aku pernah menolak cintanya ketika ia mengatakan terus terang bahwa ia suka padaku tapi katanya aku tidak suka cewe yang BD (buah dada) nya kecil kaya dia. Eh setelah 10 tahun lebih tidak bertemu, sekali bertemu ia sudah berubah total menjadi wanita idamanku.

Ia ingin mewujudkan impiannya bersamaku meski sebentar, maka ia menawarkan diri padaku untuk malam ini, karena ia tidak ada janji dengan orang karena sudah sebulan ini ia istirahat dan kebetulan aku baru mencairkan uang dalam jumlah besar atas project besar yang kupegang dan sudah selesai sehingga harga tersebut tidak membuatku terkejut, hanya sepermil dari pendapatan yang ku terima. Langsung aku menyetujui.

Ternyata ia bawa mobil sendiri dan kebetulan aku tidak bawa mobil saat ini, jadi bisa ikut mobilnya menuju suatu tempat yang ternyata rumah tersebut adalah miliknya sendiri di luar kota, di gunung.

Kami memasuki rumah yang berhalaman cukup luas, dengan gerbang yang dilengkapi dengan remote control sehingga tanpa disentuh dapat terbuka sendiri. Untuk menuju rumah tersebut harus melalui jalan setapak dari batu kira-kira 500 m dari jalan. Kalau orang yang baru datang tentu tidak mengira bahwa jalan tersebut menuju suatu villa cukup besar dan indah.

Kami duduk di ruang tamu, disuguhi minuman "black label". Sebenarnya minuman tsb cukup keras bagiku, tapi karena hawa dingin dan suasananya cukup romantis, sedikit demi sedikit aku minum juga. Dan ternyata enak juga.

"Dod, kamu mau cara seperti apa agar kita sama2 puas untuk pertemuan kita malam ini?"

"Wah saya tidak tahu, tapi sering membuka internet, disitu ada sesuatu yang agak aneh kalau kamu tidak keberatan. Saya mau mencoba secara real sesuatu yang aneh2 tersebut, yang tidak umum dilakukan orang"

"Maksud kamu?"

"Maksudnya.. tidak seperti biasanya"

Entah kenapa, ketika sampai di sini saya agak gugup menjawab semua pertanyaannya, dan otak tidak bisa berpikir dengan cepat untuk menjawab.

"Ok saya ngerti kok.. maksud kamu lain dari yang umum dilakukan orang.. gitu kan?"

"Kurang lebih begitulah" Jawabku dengan agak gugup, tapi mataku selalu memandangi tubuhnya yang aduhai dengan busana sexy yang ia kenakan.

"Dod, itu namanya fetish. Ternyata kamu suka dengan cara itu.. dan kamu tahu.. cara tersebut memang kesukaan saya", jawabnya dengan senyum yang mengundang dengan gerakan bahu yang sempat membuat goyang buah dadanya yang besar. Hal ini membuatku semakin gugup dan cukup menimbulkan berahi.

Ia sebuah buku tipis dan aku disuruh membacanya, setelah selesai buku tersebut diambil kembali dan ia membaca dengan suara yang merupakan suatu pertanyaan yang harus dijawab oleh ku dengan Ya atau Tidak, selanjutnya ia akan mencontreng sebagai tanda saya menyatakan Ya dalam arti saya sudah setuju dengan apa yang akan dilakukan nanti. Ternyata dia memang sudah biasa dengan cara ini, makanya dia punya buku panduan.

"Nah Dod, sekarang saya bacakan yang harus kamu jawab Ya atau tidak atau punya pilihan dengan keterangan lebih detil, jadi akan lebih jelas apa yang menjadi fantasi kamu dan saya akan tawarkan yang paling berat dulu, ok?

* "Mau di dominasi dan menjadi sex slave selamanya? - Ya
* "Bersedia bila saya menjadi seorang wanita yang sadist? - Ya
* "Bersedia bila diikat sampai kamu benar2 tak bergerak? - Ya
* "Bersedia bila disumbat mulutnya sampai benar2 tidak ada suara - Ya
* " pilih, 1.pump gag, 2.ball gag, 3.big penis gag, 4.cloth gag. 5.ring gag, 6.dentist gag, 7, tape gag, 8.my underpanties gag", semua dengan head harnes atau ada pilihan?
* "Dod, boleh lebih dari 1" - Ya, hanya 1, 3,8, sebaiknya semua dengan head harnes.
* "Wow, jadi kamu benar2 ingin tidak bisa bersuara sama sekali? .. Wah, kamu akan menjadi slave idola saya. Tentunya saya tidak perlu kuatir kamu akan teriak, dan saya bebas menghukum kamu, NICE..!
* "Blind fold? - Tidak
* "Nose gag? - Wah, ini berat juga, tapi kalau sampai batas2 tertentu sih tidak apa.
* "Iya donk, saya kan tidak akan membuat kamu mati.
* "Leather collar? - Ya.
* "Wide atau?" - Wide juga boleh
* "Body harnes? - Ya
* "Hood? - Ya, tapi tidak dengan blindfold biar saya dapat melihat dan menikmati apa yang kamu kerjakan terhadap diri saya.
* "Transgender? - Tidak
* "Maid? - Tidak
* "Golden shower or Urination? - Ya, pasti kamu akan memaksa saya untuk swallow.
* "Tentu donk, memang itulah tujuannya agar kamu bisa merasakan bagaimana menjadi seorang cowo yang dihina wanita dan kamu harus merasakan taste dari kencing saya. Dan pasti minta lagi kalau haus dan harus menurut, tidak boleh menolak meski terpaksa melakukannya, kalau melawan tentu hukuman menunggu berupa siksaan yang berat, ok? - Ok deh.
* "Cambuk? - Ya
* "Berat? - Ya.
* "Tampar? - Ya, tapi kalau di muka jangan terlalu keras
* "Gantung dengan Suspension, spreadeagle? - Ya
* "Terbalik? - Ya, tapi lebih suka biasa saja.
* "Hard stock? - Ya, tapi bagaimana sih bentuknya kalau hard? - Tunggu saja nanti, kamu akan terkejut deh, ok? - OK.
* "Hard Xrack? - Ya, nah ini apalagi? - Pokoknya kamu rasakan nanti deh, sekarang jangan banyak tanya tau..! - Ya, ya..
* "Stretching body table? - Ya
* "Electric shock? - Ya
* "CBT - Ya, tapi tidak press ball, ok? - Ok.
* "But plug? - Ya
* "enema? - Ya
* "Full nude body? -Ya, kalau itu yang kamu mau - Tentu donk, kan tidak ada penghalang untuk saya saat mengerjai kamu.
* "Lick, suck pussy, asshole? - Ya, tapi bersih kan? - Tentu donk, jangan kuatir, tapi kalau sudah bilang ya, tidak ada lagi kata tidak mau, atau hukuman akan datang, ok?
* "Face sitting? - Ya
* "Trampling? - Tidak, badan kamu kayanya berat, nanti ada tulang yang patah.
* "Hard Tickle? - Ya, tapi ringan2 saja
* "Clam? - Ya.
* "Straitjacket? - Tidak
* "Very wide bar? - Ya
* "Tied with other slavegirl? - Ya, Wah ini yang saya tunggu, tentunya saya bisa merasakan himpitan dan gelutan seorang wanita yang sedang disiksa? - Tentu, kamu akan merasakan itu, karena saya juga akan menyiksa slavegirl dan ia senang kalau merasakan sakit dan teriak2. Suasana tersebut dapat membuatnya puas, ia bisex umurnya lumayanlah tapi lebih muda dari saya, namanya Tiara. Saya baik kan menawari kamu terikat bersama slavegirl?" katanya sambil senyum.
* "Strap on dildo? - Ya, tapi jangan yang terlalu besar, nanti berdarah - Ok, jangan kuatir, saya pasti akan menyesuaikan kemampuan kamu.
* "Diperkosa untuk melayani nafsu sex saya dalam keadaan terikat? - Ya, tapi kok harus masih terikat? - Tentu donk karena kamu telah menjadi slave saya selamanya, dan seorang slave harus selalu terikat agar tidak dapat melawan tapi harus bisa memuaskan saya. Kamu tahu, suasana seperti ini tentu akan membuat saya sangat terangsang dan harus kamu penuhi hasrat saya, atau tidak jadi sama sekali. - Ok, saya mau melayani kamu, melakukan semua perintah kamu demi kepuasan kamu. - Nah gitu dong.
* "Semua humiliation yang sifatnya private? - Ya.
* "Mau engga bila saya panggil seorang cewe lagi untuk membantu mendominasi kamu?" - "Ya, tapi bagaimana penampilannya?" - "Dijamin deh cantik, tinggi, bdnya cukup besar, pantat ok, putih, rambutnya coklat sepundak suaranya merangsang, umurnya baru 19 tahun dan dia juga senang mendominasi cowo dengan sadis, ia haus kepuasan dan kamu harus melayaninya untuk membuatnya puas dengan cara apapun. Tapi dia juga suka menjadi submissive saya dan dia bisex namanya Valerie"- "Ok, saya mau tapi bagaimana dengan bayarannya? - Ya, tentu menjadi tanggung jawab saya.

"Dod, karena tempat ini tidak memadai maka kita akan pergi ke suatu tempat yang lengkap dengan peralatan tersebut, tapi kita harus sewa dan agak mahal, dan saya untuk teman lama tidak usah bayar hanya bayar tempat dan teman saya saja". Dia mengatakan ini di iringi dengan senyuman dan sepasang matanya tidak pernah luput memandangi saya.

Dalam hati, "Wah, pasti mahal.. aku harus ke ATM dulu untuk ambil uang".

"Gimana Dod?", tanyanya.
"Ya, ya..tapi berapa?", kataku.
"Hanya satu juta kok", sahutnya.
"Ok deh, ayo kita berangkat", kataku
"Ayo, come on slave" katanya

Aku berangkat dengan mobilnya menuju suatu tempat, tapi sebelum aku mampir sebentar untuk mengambil uang. Setelah itu kami meneruskan perjalanan. Namun sebelum mobil jalan dia menutup mata saya dengan plester dan dipakaikan kacamata hitam agar tidak terlihat orang. Sedangkan tangan saya di borgol kebelakang agar tidak bisa membuka tutup mataku. Dia melakukan ini untuk safety karena tempat tersebut tidak boleh diketahui orang lain kecuali orang yang telah mendapat izin. Dia menerangkan bahwa yang punya tempat tersebut adalah seorang gangster, kalau orang yang telah mendapat izin sampai memberitahu orang lain yang belum mendapat izin, maka mereka akan mencari orang yang memberi tahu dan yang diberitahu tersebut, kemungkinan akan dibunuhnya.

Setelah sampai ditempat tujuan, dia membukakan semuanya dan kami masuk ke suatu rumah dimana semuanya di cat hitam, kesannya seram dan sepertinya semua tembok ada peredam suaranya sehingga bila orang teriak tidak terdengar dari luar. Kami masuk lift, tapi anehnya bukan naik keatas tapi turun satu tingkat ke bawah tanah.

Pintu lift terbuka, seorang wanita cukup cantik hanya memakai bikini kulit hitam menyambut kami.
"Hai, Gemini.. kok tumben membawa seorang cowo, biasanya cewe?"
"Hallo Sally, pa kabar? Wah.. body makin oke saja nih, dan BD kamu semakin besar saja, ukurannya berapa?"
"Ah biasa aja kok, cuma 39DD banyak susunya karena saya keguguran tapi produksi susu masih terus dan harus dibuang. Trus, itu siapa lagi?"

Ini lho, teman lama saya udah lama engga ketemu, eh.. ketika ketemu dia juga suka fantasi BDSM, jadi saya bawa ke sini. Biasa.. siksaan, tapi yang ini lain.. dia akan melayani saya dan memenuhi hasrat sex saya yang selama ini selalu dengan wanita. Entah kenapa, dengan yang ini baru ketemu saja nafsu saya sudah naik".

"Wah asik juga nich, boleh nimbrung? Kalau boleh saya mau membuang susu di mulut dia agar diminum, sayang kan kalau dibuang percuma".

"Jangan sekarang, saya udah janji dengan dia akan seorang cewe yang cirinya2 seperti yang saya bilang tadi sama dia. Oh ya, tolong call Velerie donk, suruh datang ke sini, ada cowo yang dapat memuaskan dia dan Tiara. Bilang sama dia semua bulu harus dicukur dan mandi yang bersih, ada teman lama saya sebagai slave yang membutuhkan slave girl seperti dia, karena saya tahu, teman lama saya ini suka dengan cewe yang bdnya besar dan tinggi. Dan jangan lupa memakai parfum yang merangsang, ok?"

"Ok, tapi tipnya mana?"
"Beres, nih 50 ribu, cukup?
"Wow, thank Liz, banyak amat?"
"Engga mau dibagi rejeki?"
"Ya mau donk,.. kamu mulai saja dulu, paling lama 1 jam mereka sudah ada di sini.
"Ok, dan saya minta ruang yang lengkap peralatannya karena saya akan gunakan sampai pagi bersama dia"
"Wow, asik juga.. aku boleh nimbrung deh?
"Lihat saja nanti, kalau dibutuhkan, ok?
"Ok Liz, sekali lagi thanks ya, tapi jangan lupa ya.. IKUTAN".

Aku cukup terpana ketika dia bilang sampai pagi, jadi saya harus bergadang dan sekarang baru jam 10 malam. Ternyata dia seorang wanita bisex juga, mungkin karena itu ia belum kawin sampai sekarang.

Murid Montok



Cerita yang akan aku bawakan pada kali ini adalah pengalaman yang baru sahaja terjadi seminggu lalu. Sebelum ini, aku mengatakan bahawa diriku masih teruna, tapi seminggu lepas, akhirnya aku menikmati vagina sebenar pereempuan. Aku sebenarnya telah melakukan suatu dosa besar, iaitu merogol anak dara orang yang baru berumur 14 tahun. Bagi yang pernah membaca karyaku pertama, Tiga Wanita Mangsa Intai, tahulah bahawa saya ini masih teruna sehinggalah minggu lalu. Cerita ini akan aku sampaikan dalam bentuk kronologi supaya lebih tersusun dan mudah difahami. Keseluruhan masa yang aku laburkan untuk menjayakan projek ini adalah sebulan. Aku akan ceritakan seminggu demi seminggu.

Minggu 1 (3 Julai 2004)

Aku baru menghabiskan kerja sebagai pelajar praktikal di sebuah syarikat di Johor. Kepalaku pening setelah berhadapan dengan komputer selama 8 jam. Bayangkan.. Hehe, tapi ada juga masanya aku luangkan untuk ww.Rumah Seks. Dipendekkan cerita, aku pun berhenti untuk makan di sebuah restoran. Itu kali pertama aku singgah di restoran itu.

Sambil menunggu makanan, aku pun memerhatikan sekeliling. Biasalah, nak melihat sama ada terdapat gadis gadis jelita. Tanpa menunggu lama, aku ternampak seorang gadis yang pada pandanganku paling tua pun hanyalah 16 tahun. Ini berdasarkan tingginya yang hanya sekitar 140cm dan saiz teteknya yang masih bersaiz A pada pandangan mata kasarku. Aku pun memikirkan pelbagai jenis strategi untuk mengenali anak gadis ini dengan lebih dekat.

Aku memerhatikan anak gadis ini adalah anak kepada tauke kedai menjual pakaian. Maka, aku pun saja sajalah tanya kepada anak gadis ini sama ada kedai itu menjual pakaian lelaki atau tidak. Sial, dia menjawab sambil lewa dan menyuruh saya melihat sendiri. Habis rancangan aku! Maka, aku pun menukar strategi dan berpura pura menjadi seorang guru tusyen. Aku katakan kepadanya yang aku ini sebenarnya seorang guru tusyen yang baru, bekerja secara part time dan sedang mencari pakaian yang sesuai untuk diriku.

Menjadi! Dari situ, aku lanjutkan perbualan dan bertanyakan kepada dirinya sama ada perlukan tusyen. Aku pun tahulah namanya adalah Lin. Lin adalah pelajar bermasalah di sekolahnya dan selalu mendapat tempat 5 terakhir di kelasnya. Aku pun menemui ibunya dan meminta kebenaran untuk memberikan anaknya itu tusyen. Ibunya pun bersetuju tetapi meminta harga yang murah. Aku pun bersetuju saja sebab Lin memang seorang anak gadis yang cantik, cukuplah bayarannya jika aku dapat menikmati badannya yang masih berkembang itu seminggu dua kali.

Kami bersetuju kelas pertama akan bermula pada Hari Isnin 7 pm 10 Julai 2004. Seminggu aku akan mengajar Lin subjek Matematik dan Bahasa Melayu pada Isnin dan Rabu,7 pm hingga 9 pm. Ini bermakna aku dapat melihat tubuhnya berkembang setiap hari, alangkah bahagianya.

Minggu 2 (10 Julai 2004)

Selepas habis kerja pada pukul 6 pm, aku pun makan malam cepat-cepat sebelum bergegas ke rumah Lin. Lin dan ibunya menyambut aku dengan baik. Untuk tidak mengganggu kami, Ibu bapanya membiarkan aku dan Lin di sebuah bilik yang agak jauh dari ruang tamu. Memang baik layanan Ibu bapanya kepada aku. Mungkin mereka berharap agar aku betul betul dapat membantu Lin memperbaiki pelajaran.

Lin berpakaian agak jarang, bukan seperti yang aku perhatikan semasa kali pertama bertemu dengannya. Lin memakai T-shirt putih yang nipis sehinggakan menampakkan bra-putihnya dengan jelas di sebalik T-shirtnya itu. Seluarnya pula pendek, hanya cukup untuk menutup separuh dari pehanya. Mungkin suasana panas pada malam itu menyebabkannya berpakaian seperti itu.

Aku sebenarnya tiada pengalaman mengajar tusyen. Maka, aku pun menyuruh Lin mengambil buku buku latihannya di sekolah untuk aku semak. Baulah aku tahu betapa sukarnya untuk memperbaiki keadaan akademik Lin kerana Lin tidak mempunyai asas Bahasa Melayu dan juga Matematik yang kukuh semasa sekolah rendah lagi. Bayangkan,4 rumus No Negatif juga masih bercelaru di dalam otaknya! Maka, aku pun katakan kepada Lin supaya bermula dari pelajaran sekolah rendah semula. Begitulah berakhirnya kelas pertama pada Hari Isnin.

Minggu 2 (12 Julai 2004)

Hari Rabu.. Kelas kedua aku. Seperti biasa, aku memulakan pengajaran pada pukul 7 pm. Namun, aku melihat Lin sangat gelisah pada malam itu. Aku mengajarkan banyak benda kepadanya, semuanya tak masuk otak. Susah betul mengajar budak ini! Sepanjang 2 jam aku mengajar Lin, seolah olah tiada apa yang lekap di otaknya. Sebelum aku menamatkan kelas, aku bertanya kepada Lin tentang keadaan dirinya. Lin hanya mengatakan bahawa dia berasa pening kepala dan sakit perut. Dalam hati aku, aku dapat meneka bahawa Lin sedang datang haid. Maka, aku pun menamatkan kelas lebih awal pada 8.30 pm.

Minggu 3 (17 Julai 2004)

Setelah semua orang pulang kerja pada jam 6 pm, aku pun mengambil kesempatan untuk melayari www.Rumah Seks. Habis kepala aku penuh dengan nafsu. Aku melihat jam, sudah 6.45 pm. Aku tidak sempat untuk melancap bagi melepaskan nafsuku yang telah mendadak! Aku terus pergi ke rumah Lin dan memulakan pengajaran.

Pada hari ini, Lin memakai baju berkolar bulat yang rendah. Seluarnya pendek seperti biasa menampakkan pehanya yang mulus. Namun, hari ini aku nampak Lin memakai bra hitam, bukan putih seperti dua hari sebelumnya. Aku pun memberikan beberapa soalan Matematik untuk Lin. Selepas 10 minit, Lin datang bertanyakan soalan kepadaku. Oleh kerana dia bertentangan denganku, dia terpaksa menunduk untuk melihat penjelasanku. Tersirap darah aku semasa melihat teteknya yang diselaputi bra hitam terpampang di depan mataku. Ini menjadikan penjelasan aku tentang soalan Matematik itu menjadi tidak menentu. Lin hanya berpura pura faham dan kemudian beredar untuk meneruskan latihannya.

Oleh kerana ingin melihat teteknya dengan lebih jelas, aku memberikannya soalan yang lebih susah. Menjadi!! Lin datang bertanya soalan, dan aku meneruskan pemerhatian terhadap teteknya itu. Pada kali ini, Lin tahu bahawa aku sedang memerhatikan teteknya dan Lin menggunakan tangannya untuk menghalang kolar bajunya. Aku pun menjadi malu kerana tertangkap oleh anak muridku sendiri. Kemudian, aku tidak dapat menahan nafsu lagi dan terus bergegas ke tandas untuk melancap. Oleh kerana aku dalam suasana yang terburu-buru, aku terlupa menutup pintu.

Aku ini jenis lelaki yang melancap lama baru keluar air mani. Biasanya 5 minit aku kocokkan penis, barulah berhasil. Sepanjang proses aku mengocok penis, aku tidak sangka segala perlakuan di dalam bilik air disaksikan oleh Lin. Selepas meledakkan air mani di dinding, barulah aku buka mataku dan nampak Lin memerhatikan di luar bilik air dengan pandangan yang pelik. Habis! Apa yang perlu aku jelaskan kepadanya??

Oleh kerana tidak mahu Lin memecahkan temberang, aku katakan itu adalah cara lelaki kencing. Lin tidak percaya kerana dia kata Adik lelakinya tidak kencing seperti itu. Aku pun ketandusan idea. Tiba tiba aku mendapat idea gila! Alang-alang aku sudah tertangkap, mengapa tidak aku gunakan peluang ini untuk menikmati tubuh gadis ini!

Aku pun bertanya kepada Lin bagaimana cara adiknya kencing. Dia kata adiknya hanya berdiri saja dan tidak mengocok penisnya untuk kencing. Aku pun menjawab itu adalah cara kencing biasa dan apa yang aku buat adalah cara "kencing nikmat". Lin tercengang mendengar penjelasan aku. Untuk memastikan penjelasan aku logik, aku katakan perempuan juga ada cara untuk "kencing nikmat". Seperti biasa, Lin akan tertanya-tanya setiap kali aku menjelaskan sesuatu perkara yang baru.

Aku mengatakan kepadanya untuk berjanji merahsiakan perkara ini daripada pengetahuan Ibu bapanya jika mahu aku ajarkan cara "kencing nikmat". Lin bersetuju saja. Menjadi nampaknya idea aku itu! Tapi bila aku melihat jam tangan, masa sudah menunjukkan 9 pm. Shit, nampaknya acara meniduri gadis ini terpaksa aku tangguhkan ke hari Rabu. Tapi pada malam itu, aku melancap 2 kali lagi sambil membayangkan Lin memerhatikan cara aku melancap di rumahnya.

Minggu 3 (19 Julai 2004)

Apabila aku mengetuk pintu pada malam Rabu, Lin yang membuka pintu. Biasanya ibunya yang membuk pintu. Lin menjelaskan ibunya pergi melawat neneknya yang sakit di Melaka. Bapanya pula seperti biasa hanya akan balik apabila kelas aku tamat pada 9 pm. Kadang-kadang belum balik lagi semasa aku menamatkan kelas. Nampaknya, kali ini strategi aku pasti menjadi!

Sebaik sahaja kelas bermula pada 7 pm, aku terus tanyakan kepada Lin samada dia menceritakan peristiwa pada Hari Isnin kepada Ibu bapanya. Nasib baik, Lin mengikut perintahku. Kemudian, Lin menuntut janji untuk mengetahui cara kencing nikmat untuk wanita. Aku pun tanpa melengahkan masa mengeluarkan"desktop" atau moblie computer aku. Nampak canggih sungguh pelajaran pada malam Rabu itu, perlu menggunakan"desktop"!

Aku pun memasang VCD lucah yang aku bawa dari rumah. Lin malu malu apabila menonton VCD itu tapi aku tegaskan pelajaran itu hanya dapat diajar selepas menonton VCD itu. Jadi, Lin pun terpaksa tengok VCD itu sambil tersipu-sipu. Adegan pun bermula dengan seorang perempuan menanggalkan pakaiannya satu persatu di bilik mandi. Kemudian, heroin itu pun menyabuni badannya. Apabila menyabuni teteknya, heroin itu menggunakan lotion khas dan agak lama heroin itu menumpukan di teteknya.

Aku pun menjelaskan kepada Lin bahawa cara itu adalah permulaan untuk mendapatkan "kencing nikmat". Lin hanya mengangguk dan meneruskan menonton VCD itu. Kemudian, adegan bersambung dengan hero VCD itu masuk ke bilik mandi dan menolong menyapu body shampoo ke seluruh badan heroin itu. Selepas itu, kedua-duanya mandi bersama sama. Hero itu pun mula menjilat seluruh badan dari telinga sehinggalah ke vagina heroin itu.

Pada masa itu, aku perhatikan nafas Lin sudah mula tidak menentu dan aku merasakan inilah saatnya. Aku pun meraba raba payudara Lin. Lin agak terkejut dengan perbuatanku dan hampir menjerit! Tetapi aku sempat menutup mulutnya dan terus meraba teteknya dengan sebelah tangan lagi. Sambil meraba-raba teteknya, aku mengangkat bajunya dan terus meraba dengan coli Lin masih berbungkus rapat. Kemudian, tangan kiri aku meraba ke dalam colinya dan menggentel puting kanannya. Tangan kanan aku masih menutup mulut Lin tetapi selepas beberapa lama, Lin tidak lagi memberontak. Aku pun melepaskan tangan kananku dan meraba kedua-dua teteknya.

Sambil meraba-raba teteknya, aku membuka bajunya dan kemudian colinya. Lin hanya terusap usap nafasnya sambil menutup mata. Perkataan yang aku dengar dari mulutnya adalah "Ahh.. Ahh.." sahaja. Kemudian, aku pun menjilat teteknya dengan teknik pusaran. Teknik ini adalah dengan membuat satu bulatan yang semakin mengecil dari luar dan menumpu ke puting payudara Lin. Aku belajar cara ini dari VCD lucah yang aku lihat tadi. Teknik ini aku lakukan sekitar 10 minit.

Kemudian, aku lihat hero di dalam VCD itu telah mula melakukan doggie style di bathtub. Sambil terus menjilat jilat teteknya dan satu tangan meraba raba teteknya yang satu lagi, aku menanggalkan seluarnya dengan tangan yang satu lagi. Agak susah kerja ini kerana seluarnya ketat. Lin juga menghalang tetapi aku gunakan segala tenagaku untuk menghalang Lin dari bergerak. Akhirnya aku berhasil menanggalkan seluarnya. Sial, rupanya Lin tidak memakai seluar dalam!

Ah, peduli apa, yang penting kerja aku jadi lebih senang! Aku memerhatikan vagina pertama yang dapat aku lihat buat kali pertama dalam sejarah hidupku. Bulunya masih pendek jika dibandingkan dengan heroin di dalam VCD itu. Sekitar 2 cm sahaja pada pandangan mataku. Aku pun meraba raba vaginanya dan cuba mencari biji kelentit. Aku tak ada banyak pengalaman dan mengambil masa agak lama sebelum jari aku mengesan sebiji benda sebesar kacang.

Lin seperti terkena kejutan elektrik semasa aku tersentuh klitorisnya! Aku pun terus menggentel-gentelnya. Dalam masa yang singkat sahaja, tubuh Lin kekejangan dan tangan aku terasa basah dengan pancutan air maninya. Wajah Lin berpeluh peluh pada masa itu dan Lin nampak keletihan. Tapi, batang aku yang telah tegak sejak 30 minit lalu belum lagi dipuaskan!

Aku melihat adegan di mobile computer aku telah memaparkan aksi hero dan heroin yang lain. Heroin sedang mengulum zakar hero. Aku menjelaskan kepada Lin bahawa apa yang dinikmatinya tadi adalah kencing nikmat untuk wanita. Aku pun bertanya kepada Lin bagaimana rasanya. Lin mengatakan:"Memang luar biasa, cikgu! Lin tak pernah rasa macam ini! Memang hebat kalau "kencing nikmat". Aku hanya tertawa kepuasan kerana dapat mengajar erti orgasme kepada Lin.

Aku meminta Lin untuk membantu aku pula untuk mencapai kencing nikmat. Lin bertanya bagaimana. Aku menyuruhnya mengikut sahaja adegan heroin mengulum zakar hero di dalam komputer. Lin menolak! Aku pun menjelaskan bagaimana aku tadi sanggup menjilat vaginanya dan membantunya mencapai kencing nikmat sambil merayu rayu kepadanya. Dia menolak juga, akhirnya aku menyuruh Lin mengocok penis aku seperti yang aku buat di dalam bilik air Isnin lalu. Lin bersetuju!

Lin pun mula mengocokkan penis aku. Geli seluruh badan aku bila Lin menyentuh batangku! Lin tidak mahir mengocok batang aku. Kukunya kadang-kadang terkena kulit batangku dan aku merasa sakit. Akhirnya, aku pun menggenggam tangannya dan mengocok penisku. Tangan Lin yang lembut memang lebih sedap jika dibandingkan dengan tangan aku sendiri yang mengocok penisku. Tidak berapa lama, aku merasakan air maniku akan meledak. Tanpa Lin sedari, aku tolak kepalanya sehingga batangku berada dalam mulutnya.

Aku pun memancutkan air maniku di dalam mulutnya. Lin terus pergi ke tandas untuk muntah selepas itu. Aku yang kelesuan pun membiarkan sahaja Lin. Aku melihat jam, sudah pukul 8 pm rupanya! sudah 1 jam aku menikmati tubuh Lin! Selepas itu, Lin mandi sebelum aku meneruskan pengajaran aku.

Malam itu, aku hanya mengajar untuk 1 jam saja. Satu jam telah aku gunakan untuk bersetubuh dengan Lin dan juga membantunya mencapai orgasm pertama dalam hidupnya. Aku kini sudah bebas untuk mengajarnya Matematik sambil meraba teteknya. Tentulah ini semua dilakukan semasa ibunya tiada di rumah! Alangkah bahagianya aku dapat menikmati semua ini..

Gemuk



Pengembaraan Abang N berkembang dalam dunia chatting. Kawan/partner tidak mengira usia dan status. Pokoknya siapa sahaja yang berhasrat dan berkeinginan menjadilah.

Pernahkah dengar ungkapan begini: "Kalau seseorang sayangkan seseorang, maka dia akan lakukan apa juga demi mempertahankan perhubungan mereka. Dan kadang-kadang timbulnya benci. Bila sudah benci, dia akan lakukan apa jua demi untuk memperlihatkan kebencian atau menimbulkan kebencian yang mendalam."

Yer ker? Aku tidak menafikan. Kita juga perlu faham dan menerima kenyataan. Tidak semua orang suka pada kita. Tidak semua orang ada taste pada kita. Ada waktunya kita repell-tidak memerlukan kawan yang kita rasa tidak sesuai untuk kita rapat. Kawan membawa maksud lain. Sahabat juga lain. Kawan dan sahabat sebenarnya tidak sama. Renungkanlah.

Dalam kehidupan realiti, kita tidak terlepas dengan semua perasaan dan sikap itu. Kasih, sayang, cinta, benci, dendam, sedih, marah, gembira, seronok, sebak, hiba, bengang, geram, kecewa, resah, gelisah, risau, harap, cemburu, bertanggung-jawab, bersemangat, ego, emosi, hipokrit, berlagak, sombong, materialistik, keras hati, memaafkan, sesal, berani, rindu, jujur, ikhlas, lara, bersalah, malu, segan, pesimis dan bermacam-macam lagi ikon yang mendampingi kehidupan manusia.

Barangkali kita boleh berkata untuk mengikis perasaan dan sikap yang tidak molek seraya mendominasikan diri mengungguli mahmudah, tetapi kita perlu sedar sebenarnya kesemua perasaan itu ada dalam naluri kita sebagai seorang manusia. Kita tetap manusia yang memiliki semua sifat-sifat yang jelek. Manusia yang baik juga mempunyai perasaan dan sikap yang tidak baik dalam sesuatu masa.

Hasil dari chatting aku mengenali wanita ini. Dia seorang andartu. Usia sudah mencapai 46 tahun. Orangnya gemuk dan rendah. Memang lahiriahnya gemuk tetapi mindanya open minded dan sporting habis. Dia bekerja sebagai seorang kerani disebuah majlis perbandaran. Perutnya membuncit. Tidak lembik dan posisi perut gelebeh sedikit. Cipapnya tembam tetapi kecil dan tersorok dibawah lipatan perutnya. Nice dengan clitnya yang terjulur macam perempuan tidak bersunat.

"Rugi I.. Dah 46 tahun usia I, barulah I tahu sedapnya making love nie," kata Azah menyesali masa-masa silam yang telah dilaluinya, "Awal tahun nie I lost my virgin. Pun tak sangka boleh lost virgin to my music teacher. A divorcee of my age too."
"Oo gitu, You had a nice fuck?" tanyaku sengih sambil meramas buah dadanya yang masih keras. Besar dengan puting cokelat muda sebesar duit siling lima sen.
"I dunno but I tau I lost my dara sebab kote bf I masuk dalam cipap I," kata Azah mengerang menceritakan sedang buah dadanya kuramas dan kelentitnya kujilat, kuhisap senang.

Tanganku meramas punggungnya yang lebar sambil mengigit-gigit manja perlahan menaikkan syahwat Azah. Azah mengeluh, mengerang keras.

"Huu.. Nicee.. N.. Nicee.. Lick it," renggek Azah mengejangkan tubuhnya.
"Hmm wangi.. Cipap you Zah" desir Abang N menyembamkan wajahnya ke cipap Azah.
"Wow.. Wow.. Urghh..," Azah mengeliat bila sentuhan lidah ku mula berada di liang dan lurah cipapnya yang belendir.

Azah menjerit-jerit bila lidahku bermain dalam lubang cipapnya.

"Oo n.. Nice.. Sedapp nn.. Good.." kata Azah merapatkan cipapnya ke mukaku.

Aku meneruskan rondaanku di cipap Azah. Perutnya yang buncit terhinggut-hinggut. Dia mengerang kuat dengan nafasnya besar dan dadanya kencang.

"You're swit. Sape kata gemuk tak cantik dan lawo. I lihat cantik dan cipap you kecil jer Zah.." kataku memuji sambil meramas dan mengurut tundunnya yang tinggi dan tembam itu. Aku melapik bantal ke bawah punggung Azah. Farajnya jauh ke bawah.

"You tak rasa sakit Zah dalam kedudukan ni?" tanyaku bersedia untuk mengongkek Azah. Azah lemas dan mengeleng kepalanya.
"Selesa untuk menerima zakar you N. Hmmhh boleh ke masuk-besar kote u" Azam senyum sambil memegang batang zakarku dan meletakkan ke bibir lubang farajnya.
"Azah. I nak masukkan kote I ke lubang cipap you. Izinkan I," aku memberi salam sambil memainkan kelentit Azah dengan kepala koteku yang mengembang bagai kepala ular tedung.

Azah memegang tanganku. Dia angguk perlsahan sambil melelapkan matanya. Dia memasukkan kepala kote ku..

"Hmm.. Aduh.. Aduh.. Aduhh.. Sendat.. Sakitt.." jerit Azah sedang aku terus menekan batang zakar ku ke dalam lubang faraj Azah.
"Rileks I buat buat perlahan dear. Sabar you akan rasa sedap sayang," kataku membujuk sambil meramas tetek Azah dan mengucup bibirnya.
"U ah.. U hah.. Nice.. Nice N.. Your dick is big and strong.., pedih bibir puki I," kata Azah sambil mengikut rentak henjutan batangku dalam lubang cipapnya.

Aku dipacu nafsu yang bergelora. Biarpun Azah gemuk macam Yusnie Jaafar tetapi cipapnya mampu memberikan gigitan dan kemutan. Aku merehatkan batang zakarku dalam farajnya-faraj Azah berinteraksi dengan gigitan dinding farajnya mengemut batang zakarku memberikan sensasi yang mengelitik deria rasaku.

Akhirnya kami berpadu berasmara mengongkek diri kami masing-masing. Azah menerima butuhku dengan bahagia dan aku pula menjunam koteku dengan saksama memuaskan diri kami berdua. Azah dan aku klimaks bersama.

Azah mengerang kuat dan menjerit-jerit bila tujahan kontol ku laju ke dalam pussy holenya. Malah aku sempat beberapakali menjilat dan menyedut lubang jusnya itu, membuatkan Azah mengelinjang tubuhnya, kemudian aku menujah lubang madunya dengan koteku yang keras dan tegang itu. Azah benar-benar tidak dapat bertahan lama bila aku melakukan pergerakan sedemikian terhadap batang tubuhnya.

Akhirnya kami berdua terkulai dalam bogel kami. Kami kepuasan dengan pemberian dan penerimaan kami.

"N nice fuck, huhh.. Letih I. Sakit cipap dapat, sakit pinggang dapat, sakit body pun dapat.." kata Azah sambil mengigit kepala koteku dan ketawa besar.
"Tq.. Love fucking you. Nice lay tu" balasku senang sambil mengentel puting tetek Azah yang keras.
"This fuck is the best so far. Dengan you I benar-benar puas N," kata Azah mengucup bibirku manja.
"Your body is good. Keras walaupun usia you tinggi. Nafsu you melawan.. Dalam sakit-sakit dan semp[ut-semput you suka difuck kuat-kuat," kataku mencubit pangkal pehanya yang putih bersih.

Azah padaku is a friend. We need each other for the sex and the love. Kami bertemu untuk memadu asmara dan we fuck ourselves out. Azah memerlukan fucking dan I need it too. Mungkin hanya kerana faktor yang remeh kita boleh membenci di antara satu dengan yang lain. Namun tidak boleh disangkal.. Manusia perlukan manusia. Tiada teori yang kukuh, manusia boleh hidup tanpa manusia.

Kata-kata di atas boleh jadi betul dalam kehidupan manusia. Manusia dipertemukan dan manusia juga dipisahkan. Jarak waktu di antara pertemuan dan perpisahan mungkin hanya sepincing cuma. Tetapi apa yang mereka dapat melalui pertemuan tersebut, dan apa yang mereka rasa akibat perpisahan tersebut. Pertemuan kadangkala menimbulkan ukhwah, menimbulkan sayang dan kadangkala juga menimblkan benci dan menampakkan dendam.

Justeru perasaan sayang adalah pengikat hubungan manusia. Melalui perasaan sayang manusia akan melakukan apa jua demi mempertahankan hubungan mereka. Manusia sanggup menghabiskan wangnya kerana sayang itu. Manusia sanggup menanggung risiko kerana sayang itu. Manusia sanggup menggadai nyawa juga kerana sayang itu.

Pernahkah anda alami, setelah sayang.. Timbulnya benci, atau timbulnya keraguan. Dan keraguan itu menyeret supaya kita melakukan sesuatu supaya kita dibenci atau kita membenci. Akhir-nya sayang musnah dan benci terbina. Nah! Betapa senangnya menguburkan sayang.

Mustahil dalam kehidupan kita, kita tidak boleh atau tidak pernah membenci. Mustahil dalam kehidupan kita, kita hanya menyayangi. Justeru bila orang yang pernah kita sayangi, suatu hari dia sudah membenci kita, atau kita merasa membencinya.. Apa yang patut kita lakukan?

Apa yang kita lalui demi teman kadang-kadang meletihkan dan menjengkelkan tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering melaluikan beberapa cubaan tetapi persahabatan yang sejati bisa saja mampu mengatasi cubaan itu bahkan membunga harum bersama kerananya. Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman suka dan duka, dihibur-disakiti, dipeliharakan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian.

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justeru kerana kasihnya dia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mahu berubah. Semua orang pasti menginginkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berjaya mendapatkannya.

Aku dan Azah masih menjadi kawan. We share our emotions and enjoys both our bodies. Keperluan kami ialah making love and sex adalah natijahnya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur kerana dikhianati sahabatnya. Siapa yang ingin bersama anda saat anda tak bisa memberikan apa-apa?

Aku tahu aku bisa memuaskan Azah, yang mana sukar lelaki lain nak memuaskan dia bila dia fuck dengan mereka. Itu pengakuan Azah. Cukup puas dan demi kawan dia mahu aku terus mengongkek dia.

Camping 2



Intan hanya tersenyum. Aku diam seketika mencari idea untuk bercerita perkara yang boleh menegangkan semula pelirku dan merangsang nafsu Intan.

"In, sebelum ni you pernah tak..!" Kataku.
"Yang ni tak pernah tapi Masturbate biasa la", kata In, mula berani mendedahkan rahsianya.

Aku tersenyum kerana memang telah kuduga dari gerak gaya Intan tadi dia memang kaki lancap dan ini pasti memudahkan aku untuk episod sex kami selanjutnya.

"Bila kali pertama you Masturbate dan macam mana", aku semakin berani mengajukan soalan.

Intan lalu mengangkat tubuhnya, kami sama duduk dalam keadaan bogel. Intan cuba mengingat sesuatu.

"Kira-kira 8 bulan yang lalu waktu In balik dari sekolah, In masuk kerumah, ketika Nak masuk kebilik In terdengar suara mengerang dari bilik pembantu rumah (seorang janda muda, Ema namanya, berusia 23 tahun, pendidikan setakat SPM, dan perwatakan agak lincah). In terhenti dan memandang kearah pintu bilik yang terbuka sedikit, perlahan lahan In menuju kepintu bilik dan dari celah-celah pintu, In nampak Ema sedang bersetubuh dengan teman lelakinya".

"In nampak batang lelaki itu tenggelam dicelah kelangkang Ema Suara Ema mengerang kenikmatan kedengaran jelas ka telinga In, Ahh.. OOhh.. Ahh.. OOhh sedapnya sayang.. Lagi.. Fuck me.. Fuck me harder.. Come on.. Darling.. Fuck mee Ohh.. Yess.. Yess.. Harder, suara Ema meminta serentak dengan hentakan hentakan yang mengegarkan katil".

"Hampir setengah jam aku menyaksikan adegan itu, nafas menjadi deras dan tanpaku sedari tanganku telah berada didalam seluar dalamku dan bermain main dengannya sehingga lembab. Aku ingin menyaksikan adengan itu hingga habis tapi tidak tertahan lagi lalu In cepat-cepat masuk kebilik In. Sampai dalam bilik In, tanggalkan semua pakaian In dan terus bermain-main dengan Faraj, In gosok, In gentel, In jolok perlahan-lahan dan bila terasa sakit In slow down. Buat first time, In tak capai climaxs pasal In tak tahu lagipun In masih takut-takut".

"Peristiwa Ema dan teman lelakinya terus membayangi In dan setiap kali In terbayang In akan masturbate dan hari ke hari In makin terror melakukannya. Tapi In tak pernah lakukan yang lebih walaupun kadang tergerak Nak meminta somebody fuck In. And I guest, you are lucky to have fucking me for the first time tonight. I really love it and I want you to fuck me more and more..!!"

"In tak kisah asal jangan pregnant, bukan apa lecehlah, susah banyak hal nanti, mother In pun In rasa tak kisah punya kerana asyik sibuk dengan bussiness sejak ayah tiada lagi, dia juga sibuk kehulu kehilir dengan boyfriendnya, In rasa In tahu apa yang mereka lakukan.. Kerana pernah In terserempak macam kisah Ema". (tak hebat sangat sekadar berkucupan dalam kereta, mungkin tak sempat yang berat-berat pasal terserempak dengan In)

Wow! Hebat juga kisah Intan dengan episod lancapnya. Sambil In rancak bercerita aku mula kembali terangsang dengan kisah kisahnya. Pelirku mula berdenyut dan perlahan lahan kembali mengembang, aku sudah tidak begit.

Concentrate pada cerita In tapi tanganku telah mula menjelajahi celah kelengkang In yang masih membasah olih air mazi yang keluar akibat rangsangan kisahnya sendiri. Aku mula mengentel kelentit In dan In mula menunjukkan reaksi dengan mengepit celah kelengkangnya dan mengeliat tanda nikmat. Buat kali ini aku tidak mahu mengambil masa lama untu.

Foreplay, aku ingin terus menujahkan pelirku ke lubang faraj Intan. Pelirku sudah kembali mengeras cukup tegang untuk kugunakan, sambil mengentel kelentit In aku mula merangkak keatas Intan yang sedang khayal dibuai nikmat gentelan kelentitnya.

Aku mengucup bibirnya dan dia membalas sambil memasukkan lidahnya kedalam mulut ku dan aku terus menghisap dan mengulum lidah In sementara disebelah bawah, pelirku tertuju tepat kearah lubang burit (tukar bahasa) Intan yang telah sedia menanti. Tanpa berlengah aku terus menujahkan zakarku(tukar bahasa) kedalam lubang burit Intan.

"Oohh.. Sshh.. Oohh.. Aah.. Ohh.. Sedapnya.. Sedapnya.. Oh my..", rengekan nikmat Intan mengiringi kemasukan zakarku ke dalam lubang buritnya.

Pelukan Intan kian erat, kakinya melilit pinggang seolah tidak membenarkan aku mencabut zakar ku. Sambil itu Intan makin rancak mengelek dan mengangkat punggungnya, mengepit celah kelengkangnya, kemutan burit Intan terasa seakan menyedut segala isi kandungan zakar ku dan segala perlakuan itu seiring dengan rengekan yang tanpa henti.

Tiba tiba dengan satu gerakan Intan membalikkan tubuhnya dan kini Intan berada diatas. Intan duduk bercelapak diatas dengan zakar menujah buritnya, tangan ku meramas-ramas teteknya sambil Intan menekan terus mengongkek-ngongkek turun naik tanpa henti semakin laju dan laju. Aku merasakan cukup nikmat diperlakukan begitu, Begitu nikmat rupanya bila dalam posisi begitu (ini adalah my favorite position).

"Oohh.. Aahh.. Wussh..," rengekan Intan tiada hentinya, entah berapa kali Intan climaxs aku tak pasti, yang aku tahu lendiran dari burit Intan begitu banyak keluar membasahi zakarku dan bunyi melecup lecap hebat kedengaran.

"Cuup.. Cap.. Cup.. Cap Cup.. Cup.. Cap.. Cup.. Cap", begitu bunyi yang mengiringi keluar masuknya zakarku dalam burit Intan.

Seiringan dengan segala gerakan Intan aku tidak mendiamkan diri, ramas meramas, raba meraba, ulit mengulit, mengulum, dan mendakap erat silih berganti. Setelah sekian lama lecup lecap, Intan mengangkat punggungnya dan mengeluarkan zakarku dan dia memusingkan kedudukkan menjadi 69, selambak celah kelangkang Intan yang dibasahi lendir melekap kemukaku. Intan mula menjilat jilat dan mengulum zakarku, aku menguak sedikit celah kelengkang Intan dan mula menjilat, mengulum kelentit dan menghisap lubang burit Intan. Air lendir Intan yang terasa sedikit masin payau menambah selera nafsu ku untuk terus menguliti burit Intan.

Tiba ku rasakan akau hampir sampai kemuncak aku menepuk punggung Intan sebagai isyarat minta hentikan segala gerakannya. Intan berhenti dan kembali mengadapku.

"Kenapa" tanya Intan.
"I dah Nak puncak" kataku perlahan.
"Keluarkanlah, jangan risau, In dah puas, dah 3 kali In climaks", katanya.
"Ok lah you hisap sampai keluar boleh," pintaku.

Intan lantas terus memegang zakarku dan terus menghisap dan mengulum. Aku mengelepar merasakan terlalu nikmat olih perlakuan Intan dan tiba.. Puup.. Terpancutlah air tanda kelazatan kemuncak citarasa pelayaran sex kami. Air mani yang keluar memenuhi mulut Intan dan Intan meluahkannya diatas perutku, meratakannya dan kemudian merebahkan diri diatas aku.

"Fuuh.. Sedapnya.. Bisik Intan antara kedengaran dengan tidak.

Dalam keletihan tiba-tiba dikejauhan kelihatan lampu suluh merewang merata rata, aku cepat cepat meminta Intan bangun dan memakai pakaian kami. Sebaik saja berpakaian kami cepat berlari ketepi pantai berpura seolah olah kami hanya bersiar-siar dipantai

Tiba-tiba terdengar..

"Haa.. Itu mereka" suara In Charge perkemahan memecah kesunyian malam.

Dan.. kami dimarahi. Esoknya kami didenda dengan mencari kayu api dan memasak untuk peserta perkemahan itu. Sejak peristiwa malam itu, aku dan Intan menjadi rapat serapatnya. Tiada lagi rahsia di-antara kami. Intan rupa begitu galak sekali sejak memperolihi pengalaman pertama bersamaku. Bila saja dia teringin atau aku teringin kami akan melakukannya kata orang any time, any way, any place malah kami pernah hidup seperti suami isteri selama satu minggu dirumah Intan ketika Ibunya keluar negara.

Alangkah indah hari-hari kami tinggal bersama, banglo Ibu Intan menjadi saksi segala perlakuan kami, setiaphari kami melakukannya, diruang tamu, didapur, dalam bilik air, diatas sofa, diatas meja, diatas tangga, dalam kolam mandi lebih-lebih lagi dalam bilik tidur Intan pendek kata semua tempat menjadi medan pelayaran sex kami. Kami melakukan sepuas-puasnya tanpa rasa takut-takut tapi aku tetap berpegang kepada syarat-syarat Intan iaitu "Pancut di luar".

Bulan April 19.., keputusan SPM keluar, aku dan Intan hanya mampu mendapat Gred 3 sekadar cukup makan. Aku tidak menyesal kerana aku tahu aku lebih menumpukan pelajaran sex dari pelajaran sekolah, begitu juga Intan. Walau bagaimanapun Intan yang datang dari keluarga berada telah dihantar olih Ibunya untuk melanjutkan pelajaran ke luar negara. Tinggallah aku sendiri..

Camping

Ketika aku masih dibangku sekolah dalam tingkatan 5, masih nakal dan ingin mencuba-cuba sesuatu, (satu perkara yang paling kugemari ketika itu dan hingga kini adalah melancap). DiSekolah aku mempunyai seorang teman wanita yang kuanggap istimewa dalam diam-diam. Aku amat meminatinya kerana dia mempunyai segala taste aku, berbadan agak berisi, putih kuning, berwajah seksi dan bermata galak sekilas pandang aku terbayang pelakon seksi yang suka uhuk.. Ehek dalam filem namanya (cari sendiri) (you know sebelum I kenal Intan (nama gadis itu) I sering melancap dengan membayang pelakon filem tu, punyalah best I climaxs).

Bila I minat kat Intan I mula membayangkan wajah dan tubuhnya setiapkali I melancap untuk mendapat kepuasan dan kenikmatan yang tersendiri. Dalam diam aku memasang angan-angan yang suatu hari aku akan fuck celah kelangkang Intan. Walaupun berlainan kelas kami berkebetulan berada didalam satu persatuan pasukan beruniform. Akhirnya setelah melalui perbagai tektik dan cara (tak perlulah cerita, nanti boring) aku dan Intan (namanya) menjadi rapat lebih-lebih lagi kami sering bergandingan dalam menjalani aktiviti persatuan.

Pertengahan suatu hari, pihak sekolah menganjurkan satu aktiviti perkemahan disebuah pantai kira-kira dalam jarak 35 km dari sekolah, aku dan Intan terpilih untuk turut serta. Pada malam perkemahan kami terus bersukaria ketika camp fire tetapi dalam diam tanpa pengetahuan sesiapa aku memberanikan diri mempelawa Intan untuk bersiar-siar dipantai. Alangkah gembira nya aku kerana Intan menerima pelawaanku. Perlahan-lahan kami memboloskan diri dari kumpulan dan membawa diri kepantai. Aangin pantai yang berhembus agak sejuk membuatkan Intan berpeluk tubuh sambil berjalan. Aku bertanya, In sejuk ke? Sejuk sikit, jawabnya.

"Boleh I panaskan sikit kalau you tak kisah", kataku lagi.
"Ah, In malulah", katanya.
"Apa Nak dimalukan tak siapa yang nampak", ujarku sambil memegang tangan Intan dan meramas-ramas perlahan.

Melihatkan tiada reaksi marah aku mula memberanikan diri melilitkan tangan ku kepinggangnya dia tidak membantah malah merapatkan tubuhya dan melentukkan kepalanya kebahuku. Kami terus berkeadaan begitu sambil berjalan-jalan agak jauh sambil aku meringan-ringan tangan megusap usap punggung dan dada In yang agak besar juga, kena dengan seleraku.

Setelah penat berjalan kami berhenti dibawah sepohon pokok rhu yang rendang dan melabuhkan punggung disitu. Tanganku terus melilit pinggang Intan dan terus meraba-raba, sesekali terdengar dengusan nafas Intan yang mula tidak menentu. Aku terus meraba punggung Intan yang selama ini kubayangkan setiapkali melancap. Tiba Intan bertanya, you macam dah biasa aje? Aku agak terkejut dengan kata-kata itu tapi tidak menjawab malah aku merapatkan bibirku ka bibir Intan. Intan membalas dengan memelukku erat-erat sambil lidah kami berkuluman silih berganti.

Aku mula merasakan bahawa Intan juga mempunyai keinginan yang sama, paling tidak juga kaki lancap. Bila keadaan kian melemaskan aku pelahan memasukkan tangan kedalam seluar Intan, agak payah juga kerana dia memakai seluar ketat tapi akhirnya dapat juga aku menyentuh faraj Intan yang kurasakan telah membasah dan melekit dengan lendiran. Aku terus mengentel dan menenyeh-nenyeh jari jemari ku disitu. Seketika kemudian aku mengeluarkan tangan ku dan kembali mengusap usap tetek Intan. Aku berbisik.

"In kita buka baju". Intan hanya mengangukkan kepala sambil mula menanggalkan T-Shirt, coli dan seluar yang dipakainya yang tinggal hanyalah seluar dalam berwarna pink yang telah menjadi lembab. Aku terpaku seketika memerhati tubuh Intan. Akhirnya aku dapat juga kataku dalam hati.

Aku kemudian menanggalkan pakaian luarku dan kami hanya berseluar dalam sahaja. Pelirku yang telah sekian lama keras bagaikan menunjal-nunjal ingin keluar dari sarungnya. Aku memegang tangan Intan dan memasukkan kedalam seluar dalamku. Intan menurut saja dan dia terus memegang dan mengurut-ngurut pelirku. Tangan ku pula terus menggosok gosok faraj Intan dan mengentel gentel kelentitnya, Tubuh Intan seakan bergegar setiapkali kelentitnya kugentel.

Aku kemudian melepaskan kucupan bibir dan mula melayari seluruh tubuh Intan dengan jilatan dan sedutan sehingga sampai kecelah kelengkangnya. Aku merosotkan seluar dalam Intan sehingga tanggal dan tanpa berlenggah aku terus menyembamkan mukaku kearah faraj Intan yang selama ini ku giani, ku ingini dan kuimpikan. Aku terus menjilat jilat faraj Intan, menyedut nyedut dan menghisap kelentitnya.

Intan mengerang keenakan, "Ohh.. Ahh.. Ssh.. Ahh.. Ohh.. Sedapnya.. Lagi.. Lagi.. Bang.. Teruskan berulang-ulang".

Aku memusingkan kedudukanku menjadi 69 kerana aku ingin puas-puas melayari faraj idamanku itu dengan lidah sebelum tindakan ku seterusnya Sedang aku melayari faraj Intan, tiba-tiba pelir yang keras terasa hangat membasah, rupa-rupanya Intan juga telah mula bertindak agresif, pelirku dijilat seperti aiskrim dan dikulum hingga santak ka buahnya.

Suara mengerang perlahan silih berganti dengan dengusan nafas yang semakin deras dan tidak menentu. Setelah puas menghisap, menjilat, mengulum, menyedut dan memasukkan lidahku kedalam faraj Intan akupun kembali ka posisi asal saling berhadapan. Dalam remang cahaya bulan aku dapat melihat wajah Intan tersenyum menanti tindakan ku seterusnya.



"Intan, I Nak masukkan, bolih tak," aku cuba menduga.
"Masuklah tapi jangan pancut, kat dalam, nanti pregnant, In takut", bisik Intan perlahan.

Aku mengangguk dan terus mengucup bibir Intan. Perlahan-lahan aku mengangkat lutut Intan dan mengangkangkannya luas-luas agar Intan tidak terlalu sakit maklum sajalah pertama kali menerina tusukan pelir sepanjang hampir 7.5 inci.

Perlahan-lahan aku mengacukan pelirku kearah lubang faraj Intan yang kelihatan begitu pejal dan merah merkah, aku menekan perlahan, faraj yang begitu basah dan telah kembang kuuliti, menerima tusukan pelirku sedikit demi sedikit.

"Aah.. Ohh.. Ssh.. Ohh.. Sakit Bang", terdengar bisikan Intan yang ketika itu baru menerima tusukan sekadar kepala pelirku sahaja.
"Tahanlah sikit, mula-mula sakit lama lama nanti sedaplah", aku cuba memujuk.

Intan mendiamkan diri dan aku mula menekan perlahan, sedikit demi sedikit, Aah sedapnya, memang tak salah lagi idaman ku itu, Puuh sukar hendak diperkatakan lagi, Aku terus menekan.

"Ahh.. Ooh.. Aahh.. Oohh.. Oohh Bang, sakit, sakit, sedap.. Oohh.. Sedapnya", terdengar rengekan Intan yang kukira sudah mula merasa nikmat dalam kesakitan.

Setelah pelirku rapat masuk kadalam faraj Intan aku mendiamkan diri buat seketika untuk menenangkan Intan. Kemudian aku perlahan menarik keluar pelirku sehingga tinggal kepala sahaja dan kutekan semula, mula perlahan lahan, kemudian semakin laju, dan laju seiringan dengan rengekan Intan antara sakit dan nikmat.

"Ooh.. Aah.. Ohh. Ssh.. Wwhh. Sshh.. Oo..", Intan terus merengek seiringan dengan sorong tarik yang kulakukan.

Hampir 30 minit kulakukan tusukan sorong dan tarik bila kurasakan pelukan Intan bertambah kuat sambil badan nya seakan akan menggigil (aku pasti untuk kesekian kalinya Intan mencapai ke puncak sex yang paling hebat) manakala pada ketika itu aku juga telah mula merasakan kemuncak yang penuh kenikmatan (tak bolehku bayangkan, cuba sendiri), pelirku terasa seakan ingin meletup dan berdenyut-denyut dan tanpa dan tanpa berlengah aku terus menusuk pelirku rapat ke dalam lubang faraj Intan dan kemudian menariknya dengan pantas dan sebaik sahaja keluar (right on time) bersemburlah air mani yang pekat, memancut-mancut keluar dari batang pelirku sehingga melantasi perut, tetek dan sebahagian muka Intan dan dikala itu Intan terus memegang batang pelirku sambil mengurut ngurut perlahan dan secara tak langsung aku dapat merasa nikmat lancapan tangan Intan. Ahh.. Betapa nikmatnya kurasakan.. Hingga tak terkata. Setelah titisan air lazatku terhenti aku merebahkan tubuhku keatas tubuh Intan, kami sama-sama keletihan dalam kepuasan.

Seketika kemudian aku melentangkan tubuhku di sebelah Intan dan kemudian mengiring mengadapnya. Aku berbisik di telinganya..

"Macam mana, best tak!!"
Intan malu-malu menjawab, " Ala, you ni.. Gatallah", ujarnya sambil mencubit manja.
"Nak lagi ke", aku bertanya lagi.
"Kalau you larat, I tak kisah", katanya.
"Ok! Kita berehat dulu sambil berbual-bual, nanti kita buat lagi ya, OK sayang?", ujarku.

OKU

Aku wanita cacat tanpa sebelah kaki. Namaku Lyn. Aku kelihatan normal sahaja sebab menggunakan kaki palsu. Namun pengalaman dan berteman dengan rakan chat sungguh membahagiakan diriku. Ikuti kisahku dan salam sejahtera kepada pembaca setia situs Rumah Seks.

Selesai makan, aku menuju ke belakang rumah dimana Zainal sedang duduk termenung. Apakah yang dimenungkan sepupuku yang kacak tu? Aku pun menghampirinya dan menepuk bahunya dari belakang.

"Opocot!" Zainal melatah secara sengaja.
"Nal, kau ni sukalah buat lawak! Apa yang dimenungkan tu, fikir pasal makwe ker?" soalku. Wajahnya tiba-tiba serius dan melihat sekeliling rumah itu.
"Sudahlah Lyn, aku faham benar perangai kau. Hati siapa tidak marah kalau orang yang dipercayai memainkan kepercayaan yang diberi. Tetapi Lyn, kau sendiri tahu yang Kamil sepejabat dengan aku. Dia tidak seperti dulu yang kau dan aku kenali. Dia menjadi seorang yang panas baran, kalau pejabat tu boleh dia bom, dah hancur agaknya tau!," pujuk Zainal sambil menyelitkan lawak bodohnya.
"Hai, aku nak tau yang kau ke sini tiba-tiba ni dihantar Kamil ke? Kalau ya, kirim salam ajelah eh, aku perlukan masa untuk bersendiri. Aku nak tenangkan fikiran, bukan nak mengusutkan lagi keadaan," jawabku dengan nada kurang senang.

"Rileks Lyn. I datang pun bukan kerana disuruh oleh sesiapa. I kesini cari kau sebab aku sebagai teman Kamil dan sekaligus aku juga adalah sepupu kau, tak ingin lihat kau berdua dalam keadaan begini. Berat mata memandang berat lagi bahu memikul dan aku ingin cuba ringankan bahu kau tu. Oklah, serius ni, kalau I jadi Lyn, I tidak akan lari dari masalah. I ke sini ingin tolong Lyn selesaikan masalah, tengok tu muka masam mencuka. Kalau Kami nampak mesti dia lari tak kenal tau!" gurau Zainal, yang cuba menghiburkan hatiku yang sedang lara.
"Nal, ok aku hargai niat suci kau tu. Tetapi sudah aku putuskan yang aku tidak dapat terima seorang penipu dalam hidup aku. Kalau hal sekecil ini dia boleh merahsiakan dari aku, entah apa lagi dia buat belakangku, hanya Tuhan yang tahu," jawabku setelah berfikir sejenak.
"There's always a second chance, my dear. Fikir masak-masak dan jangan ikutkan sangat kata hati yang sedang marah tu. Gunakan daya pemikiran kita untuk menilai sesebuah masalah. Ikut hati mati, ikut rasa binasa tau," tegur Zainal lagi.

Lyn menghela nafas yang panjang dan merenung mata Zainal sebelum bersuara.

"Nal, apa jua keputusan yang aku lakukan, ia adalah muktamad. Aku rasa cukup setakat ini perhubungan aku dengan Kamil. Sudah buat kali keduanya dia melukakan hatiku. Dulu hilang entah ke mana, aku beri peluang untuknya membuktikan kejujuran dan keikhlasan bersamaku. Kini ternyata kelihatan bahawa kata-kata yang dilafazkan bak menanam tebu dipinggir bibir. Sudahlah tak payah Nal nak cuba mengubah fikiran Lyn. Selamat malam, esok kita ada aktiviti baru baik tidur sekarang," jawabku dan berlalu pergi meninggalkan Zainal duduk memikirkan apa yang telah aku katakan tadi dan terpinga-pinga.
"Pergilah Zainal, beritahulah kepada Kamil tentang keputusanku tadi. Perit untuk aku luahkan namun itu adalah jalan terbaik kerana keegoan diri tidak dapat dielakkan. Sampai bila aku harus mengalah dengan Kamil dalam soal hati? Tambah dengan manusia panas baran sedemikian." Kataku tepat kezainal, sepupu-ku.

Apapun aku tahu kekurangan aku. Apa yang hendak kuharapkan. Aku memiliki pendidikan tinggi. Yer kerana itu agaknya aku didekati. Kalau aset itu tida denganku, mungkin aku tambah dipinggirkan. Mungkin Kamil hanya melawak atau memainkan perasaan aku sahaja.

Kalau berdiri, ketinggian aku 158cm, dadaku pejal, buah dadaku 36cm. Usiaku.. Hehe.. Cuba teka.. Dah 31. Kalau nikah muda dah anak 3 kut.. Namun nak buat camner bab nikah belum ada rezeki dan jodoh. Aku ada rahsia peribadi. Bagi mereka yang tahu.. Tahulah dan maklum. Bagi mereka yang tidak, takkan tahu. Aku pincang ialah kaki kananku tuu. Sebenarnya kaki kananku ini bermasalah. Dipotong di bawah lutut akibat sejenis penyakit gengrin yang dasyat menyerang kakiku itu ketika aku di tingkatan empat. Kini aku gunakan kaki palsu dan memang orang tidak perasan dengan penggunaan kaki palsuku itu. Aku berlagak macam manusia normal. Sebenarnya jauh di lubuk hatiku aku merasa rendah diri juga.

Ini bukan kali pertama aku menghadapi masalah dengan kekasihku Kamil. Tapi kali ini cukup. Aku mahu meletakkan noktah. Dia ganas, dia panas baran dan dia tidak boleh berfikir dengan warasdan perlukah aku mengahwini lelaki semacam ini? Self centered dan hanya memikirkan dirinya sahaja. Orang lain disamping dia tidak pernah wujud.

Abang N: "Apakah final keputusan yang you buat ni Lyn?"
Lyn: "Final lah Bang.. Too bad. Dalam keadaan camni pun he is aggresive, abusive dan I rasa tak bertahan lama nanti."
Abang N: "Tapi dia untung. He got you?"
Lyn: "Nak buat camner? Itu kesilapan I. I yang termau-mau dan dalam tidak tahu berlaku Bang N."
Abang N: "Well it is your life dear.. He is your man walaupun bukan official."
Lyn: "I tak reti nak kata apa-apa Bang N. I rasa hidup begini lebih baik dari ada tanggung jawab kepada dia sebagai suami. Kalau sekarang I dah rasa sukar baik dari segi perasaan atau fisikal, baiklah I tutup cerita takat nie. I tak perlu lanjutkan untuk menghadapi kepayahan."
Abang N: "Rapuh cinta you?"
Lyn: "Yeah nak buat camner sebab perangai dia terserlah. Yang I tak boleh terima. Itu belum lagi tangan dan kaki naik ke tubuh atau ke muka kita Bang?"
Abang N: "Agreed. Bab tu Abang tak sukalah. Kalau dah memukul isteri baiklah ceraikan sahaja. Isteri dah patah hati dan luka hatinya. Ramai chaters yang begitu. Suami memukul isteri. Suami hidup hasil usaha isteri. Suami yang berlagak sombong sedang isteri yang menanggung. Itulah gayanya."
Lyn: "Itu yang tidak mahu tu Bang.. Leceh.. Mana tau ni semua belum nikah. Dah nikah nanti lagi payah. Lyn pun ada dengar dan baca kisah-kisah yang semacam itu."
Abang N: "Ramai lelaki sudah tidak tahu tanggung jawab mereka. Tanggung jawab pada diri sendiri dan pada orang yang sepatutnya terlebih lagi isteri."

Tetiba chat mereka terdc. Disconnected. Lyn mengeluh dan dia menunggu sebentar sebab talian telefon ada gangguan. Sekejap itu juga SMS dari Abang N terpacul di skrin handset.

"Naper Lyn, dc ke? Oklah kita chat lain kali."

Lyn faham maksud SMS itu. Abang N bz dan dia sudah tak chat lagi. Fikiranku menerawang. Apa harusku katakan pada Mama tentang perhubungan aku dan Kamil? Apa harusku katakan pada Kamil bila dia menanyakan kesudahan perhubungan ini?

Mama sedang beristirehat menonton kaca televisyen semasa aku sampai ke rumah. Terkejut Mama tiba-tiba tanganku menekup mukanya yang halus. Walaupun hanya meninggalkannya selama seminggu, rinduku pada Mama amat mendalam, biasalah anak perempuan.

Terjaga aku dari lena yang panjang. Aku membetulkan letak tongkol kaki kananku yang sekerat itu. Terasa lendir membasahi cipapku. Alamakk.. Aku datang bulan.. Bingkas aku bangun dan jengkut-jengkut ke kamar mandi untuk mebersihkan diri, cipapku yang berdarah dan mengenakan pad. Setelah selesai aku keluar semula dan berasa sedap. Segar semula. Aku duduk di tepi tingkap memandang ke dunia luar. Teringat kata Abang N-maksud dia ialah Kamil telah menghisap madu daraku. Kamil berjaya meratah tubuhku.

Aku tidak menafikan. Aku juga lalai dan menyalahkan diriku yang perkara itu berlaku. Hampir lapan bulan sejak awal tahun ketika aku masuk 31 tahun, daraku hancur dirobek kekasihku yang panas baran orangnya. Memang tidak disangka ia akan belaku, namun ketipisan iman dan keasyikan membuatkan aku terserah cipapku ke kote Kamil. Berjaya juga kote Kamil menerobos masuk ke lorong wanitaku walaupun tersekat dan sakit.

Namun setelah itu aku menjadi ketagih pula. Aku pula asyik masyuk mahukan diri aku difuck oleh Kamil. Bila berjumpa di rumah sewaan kamil, kami akan memadu asmara dan kamil akan meneroka tubuhku sesedap dan semau dia. Begitu juga dengan aku.

Pada mula-mula aku rasa sakit tetapi kini fucking itu sedap pula. Seluruh tubuhku akan berasa bahagia dan seronok ketika dan sesudah difuck oleh kekasihku.

Dan kekasihku ini yang aku sudah mula tidak senang dan memper-cayainya, akan kutinggalkan walupun lelaki ini telah mendapat kegadisanku. Aku tidak peduli dan aku sanggup menghadapi apa-apa sahaja. Namun mahu berbaik semula dengan Kamil no way mann!!

Dan..

Venue: Bilik mewah berhawa dingin di tingkat 25 Hotel Cititelo.

Waktu: Jam 3 petang..

Fulamakk.. Fuyoo..

Abang N terpempan sebentar. Mengucek matanya. Benar atau tidak. Dan yang nyata serta mengiyakan dirinya bila dia sendiri membuka ikatan dan menarik kaki palsu yang melekap di tongkol lutut Lyn. Lyn duduk di atas katil sambil melunjur dan menyandarkan tubuhnya. Abang N melihat kaki yang cacat itu. Memegang dan mengurut tongkol lutut itu. Lyn senyum..

"Terkejut ke Bang? Lyn ni cacat.. Sebelah kaki takde.. Sejak Lyn di tingkatan empat.. Dokter kata tak boleh diselamatkan maka dipotong Bang.." Jelas Lynn melihat Abang N yang duduk di depannya sambil mengurut bekas tempat kakinya dipotong.

Setelah Hujan 3


Tepat pada masa yang dijanji aku pun tiba. Aku menyuruh Kamal mengenakan uniformnya kerana hujan sudah mula turun dengan rintik-rintik halus. Aku berjanji selepas makan aku akan menghantarnya pergi kerja dan esok paginya aku akan jemput bila dia habis bertugas. Kamal setuju dengan cadangan ku. Selesai makan aku menghantar Kamal pergi ke tempat kerjanya. Di kala itu hujan sudah mulai turun dengan agak lebat.

"Bang Kamal," Normah bersuara sebelum Kamal turun dari kereta. Belum habis Normah bersuara, Kamal berkata,
"Kalau tidak menjadi keberataan boleh tak Encik Osman tolong temankan Arif dan Normah, kerana saya lihat malam ini mungkin ribut akan melanda lagi."

Aku diam seketika. Setelah didesak aku menganggukkan kepala. Kamal turun dari kereta dan berlari menuju ke pondok pengawal. Aku terus berlalu dengan satu harapan yang hanya aku dan Normah saja yang tahu. Sampai di rumah aku mengambil kunci rumah dari Normah untuk membuka pintu rumah sebelum Normah dan Arif masuk. Setelah kereta di parking di tempat yang agak selamat dan setelah pasti yang semua pintu dikunci aku keluar dari kereta dan terus berjalan dengan cepat menuju ke rumah.

"Nasib baik malam ini ada Normah dapat juga saya memanaskan badan," aku bersuara setelah masuk ke dalam rumah.
"Saya pun begitu juga," balas Normah sambil menyuakan kepada ku tuala dan kain pelikat.

Arif begitu leka bermain dengan permainan yang aku baru belikan. Sekali sekala aku menepuk ponggong Normah bila dia berjalan di hadapan ku.

"Apalah Encik Osman ni, tunggulah Arif tidur dulu," Normah berkata bila aku kerap menepuk ponggongnya.

Normah membawa seteko kopi, dua biji cawan dan biskut di dalam tin. Kami minum bersama sambil berbual. Normah asyik bertanya apa yang aku buat selama seminggu di kampung.

Aku menyatakan kepada Normah yang ibu ku asyik berleter kerana aku masih belum mahu berumah tangga. Melihatkan yang Normah diam bila aku memyebut perkataan kahwin, aku terus mengosok-gosok pehanya sambil bersuara, "Saya tak mungkin akan kahwin selagi belum bertemu dengan perempuan seperti Normah yang memiliki segala apa yang aku idamkan Normah miliki."

"Encik Osman duduklah dulu biar saya tidurkan Arif dulu kerana kelihatan dia sudah beberapa kali menguap dan kalau Encik Osman hendak berehat pergilah masuk ke bilik sebelah," Normah berkata sambil mendukung Arif.

Setelah Normah pergi untuk menidurkan Arif aku ke jendela sambil menghisap rokok. Habis sebatang rokok aku menutup jendela, mematikan lampu di ruang tamu sebelum masuk ke bilik sambil menunggu kehadiran Normah yang memiliki mini garden tempat adik ku gemar bersenam.

"Mengapa Encik Osman tak letak tilam di bawah?" Normah bersuara setelah masuk ke dalam bilik setelah Arif tidur.
"Hai perli, nampak," balas ku sambil merangkul tubuhnya.

Setelah puas bertukar berkuluman lidah kami menanggalkan pakaian masing-masing. Tanpa disuruh Normah terus memegang adik ku yang sudah tegang selagi tadi. Setelah dia puas bemain-main dengan adik ku dia merebahkan dirinya di sebelah ku. Aku terus menyonyot-nyonyot puting teteknya yang sudah hampir dua minggu tidak aku hisap. Sambil mengusap-usap perut Normah aku bersuara,

"Tak ada apa-apa ke?"
"Apalah Encik Osman ni, eloklah tak ada," Normah bersuara.

Mendengarkan itu aku merasa lega sambil melebarkan kangkangnya kerana aku hendak memainkan lidahku di sekitar kawasan mini gardennya. Melihatkan yang lubang cipapnya sudah begitu lencun dan Normah sudah lama merengek menyuruh aku memasukkan adik ku ke dalam lubang cipapnya, aku membetulkan
kedudukanku sebelum aku melepaskan adikku bermainmain di dalam lubang cipapnya.



Setelah adikku selesa berada didalam sambil menerima kemutan mesra dari lubang cipap Normah aku mengentel-gentel puting buah dada Normah sebelum aku memulakan aksi sorong tarik, sorong tarikku.

Pada mulanya Normah hanya bertahan dengan tenang sambil sesekali dia mengentel puting teteku. Melihatkan yang Normah sudah mula hendak mengerakkan ponggongnya ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah, aku rangkul erat tubuhnya sebelum aku melajukan tujahan ku. Setelah Normah sudah mencapai klimaksnya yang pertama aku memperlahankan aksi sorong tarik ku sambil kami bertukar berkuluman lidah.

"Normah kemut kuat sikit, saya dah tak dapat bertahan lagi," aku bersuara sambil melajukan aksi sorong tarik ku.

Adik ku dikemut erat sebelum aku melepaskan satu pancutan yang agak padu dan banyak, Normah juga sama-sama mencapai kepuasan. Setelah tiada pancutan aku tertiarap di atas dada Normah sambil bersuara, "Normah puas tak?"

Normah tidak menjawab tetapi hanya mencubit hidungku. Aku membaringkan diri ku di sebelah Normah dan kami berbaring berhadapan muka. Aku ramas-ramas ponggongnya yang setia mengampu bila adikku bermain di dalam alur cipapnya. Kami perpimpinan tangan menuju ke bilik air dalam keadaan telanjang bulat. Selesai mencuci segala kotoran kami ke ruang tamu dan duduk di dalam gelap dengan keadaan telanjang bulat sambil meminum kopi.

Selesai minum kopi aku mengajak Normah duduk di muka pintu untuk menikmati angin malam untuk mendapatkan kesegaran setelah penat bersenam. Normah mengikut saja walau pun pada mulanya dia merasa kekok kerana tidak berpakaian. Sambil duduk dimuka pintu kami beromen sepuas-puasnya.

"Dahlah Encik Osman mari kita tidur, sejuklah," Normah bersuara setelah lama duduk d imuka pintu.

Setelah menutup pintu aku mengendong Normah, satu perbuatan yang belum pernah aku lakukan selama ini, menuju ke bilik tidur.

"Malam ini saya rasa lain macam, tidak macam yang lepas-lepas," Normah bersuara setelah dirinya aku baringkan.
"Apa maksud Normah?" aku bersuara.
"Sungguh puas," balas Normah. Setelah puas beromen Normah bersuara,
"Encik Osman hendak lagi tak?"
"Kalau Normah hendak," kata ku sambil melebarkan kangkangnya.

Kami bersenam lagi sehingga puas sebelum tidur dengan lena. Pagi esoknya Normah mengejutkan aku. Walau pun adik ku sudah keras lagi tetapi aku tahan kerana aku pasti yang Kamal mesti hendak merasa setelah dia pulang nanti.

"Tengok tu adik Encik Osman sudah jaga," Normah bersuara.
"Biarkanlah nanti Normah tak larat hendak melayan kerenah Kamal kalau dia berhajat," kata ku.

Selesai mandi aku pergi menjemput Kamal. Sebelum pulang kami ke pasar dulu.
"Kamal sudah jumpa dengan tukang yang dikatakan dulu?" aku bersuara sambil memandu menuju ke rumah Kamal.
"Sudah, dia janji hendak datang petang nanti," balas Kamal.
"Baguslah" balas ku.

Selesai sarapan bersama dengan Kamal sekeluarga aku minta diri untuk membawa Arif bersiar-siar ditepi pantai. Setelah Arif masuk ke dalam kereta tanpa pengetahuan Kamal aku memberi isyarat agar Normah mengajak Kamal bercengkarama kerana aku kata dalam masa dua tiga jam baru aku pulang. Normah senyum sambil menganggukkan kepalanya.

Setelah puas aku menlilau dengan Arif aku pulang semula ke rumah Kamal. Normah memberi isyarat yang Kamal sempat menunaikan hajatnya sebanyak dua
kali. Semasa Normah hendak mengambil Arif sempat aku meramas-ramas ponggongnya.

Lepas makan tengah hari aku dan Kamal berehat sementara menunggu tukang yang sudah berjanji hendak datang. Aku tak tahu bila aku terlena. Aku terjaga setelah Kamal mengoyang-goyang bahuku menyatakan yang tukang sudah datang.

Lama juga kami berbincang sebelum mendapat kata sepakat. Bilik yang dikatakan itu aku hendak ianya berukuran lima belas kali lima belas kaki dan siap dengan bilik air dan dibena di tempat yang telah Kamal syorkan. Aku menghulurkan separuh dari harga yang telah dipersetujui dan yang separuh lagi akan aku jelaskan setelah separuh siap dan telah siap sepenuhnya. Setelah tukang tersebut berlalu Kamal bersuara, "Saya betul-betul menyusahkan Encik Osman."

Aku menyuruh agar Kamal jangan memikirkan itu semua dan menyatakan yang aku sudah menganggap dia sekeluarga saperti saudara ku sendiri. Akhirnya aku difahamkan yang semasa aku bercuti Kamal sudah menukarkan nama kebun yang dia miliki kepada nama Normah dengan alasan kerana Normah seorang anak yatim piatu dan dia tidak mahu Normah diapa-apakan oleh keluarganya di kemudian hari.

Tukang yang dicari oleh Kamal aku lihat agak jujur dan kemas kerja tukangnya. Mungkin aku boleh berpindah ke bilik yang sedang di dalam pembinaan dalam bulan puasa yang tinggal dua bulan lagi. Aku sedang berada didalam pejabat bila Kamal dengan keadaan cemas masuk.

"Ha! Kamal apa hal?" aku bertanya.
"Taklah Encik Osman saya kena pergi berkursus selama dua minggu di ibu pejabat kawasan selatan," Kamal bersuara sambil menghulurkan kepada ku sepucuk surat. Aku baca surat tersebut sambil berkata,
"bukan Kamal seorang, nanti saya akan uruskan sebuah Pajero untuk menghantar dan mengambil Kamal dan mereka yang lain".

Petangnya aku pergi ke rumah Kamal dan kami berbincang segala apa yang perlu semasa Kamal tiada di rumah. Aku mengesyorkan agar Kamal menyuruh kalau-kalau ada anak buahnya yang sudi menemankan Normah semasa dia tiada di rumah. Lama juga Kamal termenung sebelum dia mengambil keputusan menyuruh aku sendiri menemankan Arif dan Normah. Akhirnya aku difahamkan yang Kamal sudah lama berkrisis dengan adik beradiknya. Untuk menenangkan hati Kamal aku bersetuju untuk menjaga Arif dan Normah.

Selesai makan malam aku meminta diri untuk pulang dan berjanji pagi esoknya aku akan datang untuk mengambil Kamal. Melihatkan yang aku hendak pulang ke rumah ku Kamal menahan. Aku memberi berbagai alasan. Bukannya apa kerana aku hendak biar dia mendapat belaian yang agak puas dari Normah sebelum dia pergi berkursus.

Pagi esoknya aku mengambil Kamal. Normah senyum bila aku merenung ke arah mukanya. Di dalam perjalanan macam-macam pesanan yang Kamal ajukan kepada ku. Aku mengiakan kesemua pesanan Kamal. Sebelum bertolak Kamal mengenggam tangan ku begitu erat yang sebelum ini tidak pernah dilakukan.

"Kamal jangan risau semuanya selamat," aku bersuara sebelum Kamal melepaskan tangan ku dan terus ke Pajero yang sudah sedia menanti.

Seminggu setelah Kamal pergi berkursus, tukang yang membuat kerja di rumah Kamal selesai menjalankan tugasnya. Normah menyuruh aku membawa barang-barang ku berpindah di bilik yang telah siap. Aku mengatakan yang aku hendak tunggu hingga Kamal habis kursus.

"Kalau saya pindah sekarang pun bukannya boleh buat apa-apa kerana Normah sendiri no entry," kata ku.
Normah hanya senyum sambil berkata,
"ringan-ringan apa salahnya. Walau pun begitu aku tetap menemankan Arif dan Normah sebagaimana yang telah diamanahkan kepada ku.

Aku sedang bersiap-siap untuk pulang dari kerja bila satu pejabat digemparkan oleh satu panggilan menyatakan yang kakitangan yang pergi berkursus mendapat kemalangan jalan raya dalam perjalanan pulang dan kini mereka semua berada di Hospital Muar.

Setelah mendapat kepastian apa yang benar-benar telah berlaku aku ke rumah Normah. Tanpa memberitahu apa yang telah terjadi aku menyuruh Normah dan Arif bersiap-siap dengan alasan aku hendak membawa mereka ke Muar ke rumah keluargaku.

Di dalam perjalanan baru aku nyatakan apa yang telah berlaku. Arif sudah lena di tempat duduk belakang. Mendengarkan penjelasan dari ku Normah mula menangis. Aku memberhentikan kereta di bahu jalan untuk mententeramkan keadaan. Setelah aku dapat memujuk Normah aku meneruskan perjalanan.

Sebelum ke Hospital Muar, aku singgah dulu di rumah keluarga ku yang terletak di Batu Tiga Jalan Bakri, Muar. Dengan ditemani oleh beberapa orang ahli keluargaku kami ke Hospital Muar. Kami difahamkan yang Kamal meninggal di tempat kejadian.

Setelah Normah setuju dengan cadangan keluarga ku, jenazah Kamal dikebumikan di tanah perkuburan di Jalan Bakri. Sebelum itu semua waris terdekat Kamal telah dimaklumkan, tetapi tiada seorang pun yang datang. Aku mengambil cuti selama tiga hari kerana Normah berhajat hendak mengadakan kenduri arwah. Aku perhatikan yang ibuku agak tertarik juga dengan Normah setelah aku menceritakan siapa Normah yang sebatang kara. Aku memberitahu ibu ku agar dia sudi menerima Normah sebagai menantunya.

Sedang kami sekeluarga makan tengahhari sebelum kami pulang ke tempat kerjaku ibuku mengusik,
"Man apa kata kalau engkau ambil Normah sebagai isteri, engkau pun bujang terlajak."
"Emak tanyalah kepada yang empunya diri, Man tak kisah," balas ku.
Melihatkan yang Normah tunduk dan senyum ibuku bersuara lagi,
"Tak payah tanya, mak tahu dia tentu sudi."
.
Setelah berbincang ayah ku mencadangkan agar ibu saudara ku yang sudah janda setelah kematian suaminya mengikut ku pulang untuk menemankan Normah sehingga dia habis edah. Dengan riang aku memandu menuju kedestinasi.

Bila Normah sudah habis edah, kami ke Muar untuk diijabkabul serentak dengan hari perkahwinan adik perempuan ku yang nombor tiga. Pekerja yang setempat dengan ku tidak menyangka yang aku sudi memperisterikan Normah. Sebenarnya sebelum ini mereka tidak pernah melihat Normah. Setelah melihat baru mereka terfikir mengapa aku yang dikatakan anak orang berada sudi memperisterikan Normah.

Sebenarnya setelah Normah tahu kedudukan keluargaku dia begitu berat untuk menerima lamaran ku. Tetapi setelah merasakan kemesraan yang ditunjukkan oleh keluargaku perasaan rendah dirinya hilang. Tambahan setelah aku menujuknya dengan berjanji yang aku akan menjadikannya queen of the house.

Bila cuti ku hendak habis aku meminta diri untuk pulang. Bonet kereta ku sarat dengan hadiah pemberian kedua ibu bapa ku. Aku merasa bersyukur kerana kedua ibu bapaku memahami isi hati ku walau pun Normah seorang janda.

Esoknya aku mengemas kesemua barangbarang ku untuk berpindah ke rumah Normah. Di satu kawasan yang bersempadan dengan tanah Normah aku melihat beberapa orang sedang menebang pokok-pokok renek. Aku menghampiri mereka. Aku difahamkan yang seorang askar yang baru bersara bercadang untuk
mendirikan rumah dikawasan tersebut.

"Bagus juga,” bisik hati kecil ku, sekurang-kurangnya ada juga jiran.

Selesai makan malam Aku berihat di ruang tamu sambil menonton T.V. Belum pun habis sebatang rokok, Normah datang dan duduk di sebelah kanan ku sambil bersuara,
"Kasihan abang kurang dapat melakukan apa yang abang suka kerana ada Alif." Sebelum sempat aku menjawab Normah berkata lagi,
"Itulah abang hendak sanggat berkahwin dengan janda beranak satu." Melihat yang aku diam saja Normah mengusik lagi dengan berkata,
"Marah ke?"
"Nanti bila Arif sudah tidur tahulah," aku bersuara sambil mencubit manja peha Normah yang berisi.

Normah melihat jam didinding sambil bersuara,
"Arif mari masuk tidur." Arif yang sedang baring di depan T.V bangun untuk mendapatkan ibunya. Sebelum berlalu Arif bersuara dengan nada pelatnya,
"selamat malam Uncle".
"Arif jangan panggil Uncle tetapi ayah," aku memarahinya diikuti oleh Normah yang menyuruh dia menanggil aku ayah.
Sekali lagi Arif bersuara dengan nada pelatnya, "selamat malam Ayah."
"Selamat malam,” balas ku.

Lama juga aku menonton T.V seorang diri sebelum Normah keluar dengan mengenakan nitegaun nipis yang baru aku belikan tanpa memakai bra dan seluar dalam dengan bau yang harum. Sepasang buah dada yang subur berserta dengan mini garden yang baru aku trim lalang-lalang hitamnya halus yang tumbuh di persekitarannya boleh dilihat balam-balam di sebalik nitegaun yang dipakainya.

"Wah cantiknya isteri abang," aku bersuara sambil menarik tangannya untuk duduk disebelah ku.

Belum pun apa-apa adik ku sudah mula hendak mengeras.

"Kini Arif sudah tidur abang buatlah apa yang abang suka keatas diri isteri abang ini," Normah bersuara semasa aku sedang mengentel-gentel puting teteknya.